Girangnya Sopir Angkot di Bandung Dapat Kompensasi Libur Narik di Tahun Baru 2026

Sopir Angkot menyambut baik kebijakan libur operasional angkot pada malam tahun baru yang disertai pemberian kompensasi.

Robby Bouceu
Oleh Robby Bouceu - Reporter
Girangnya Sopir Angkot di Bandung Dapat Kompensasi Libur Narik di Tahun Baru 2026
Girangnya Sopir Angkot di Bandung Dapat Kompensasi Libur Narik di Tahun Baru 2026 (Merdeka.com)

Suasana kompleks Sport Jabar di kawasan Arcamanik, Kota Bandung, Jawa Barat, telah ramai oleh ratusan sopir angkutan kota (angkot) sejak Rabu (31/12) pagi. Mereka datang untuk mengambil kompensasi dari libur beroperasional selama dua hari pada momen pergantian tahun, dari tanggal 31 Desember 2025 hingga 1 Januari 2026.

Area parkir kawasan tersebut pun dipenuhi oleh angkot berbagai rute di Kota Bandung, di antaranya Kalapa-Sukajadi, Kalapa-Ledeng, Caringin-Sadang Serang, Kalapa-Cicaheum, Ciwastra-Cijerah dan lainnya. Di bagian bangunan Youth Center, para sopir yang datang tampak mengantre, setelah mengisi semacam formulir.

Sopir Angkot di Bandung
Sopir Angkot di Bandung merdeka.com

Pengakuan Sopir Angkot

Salah satunya, adalah Dedi (56) tahun. Ia yang sehari-hari menarik angkot trayek Elang–Cicadas. Sehari-hari ia biasa mengoperasikan angkotnya sebelum fajar terbit, hingga kembali gelap. Dengan uang yang bisa dibawa pulang tak sampai Rp100.

Di sisi lain, ia menambahkan, kondisi persaingan transportasi saat ini membuat sopir angkot semakin terpukul.

“Kadang-kadang nggak tentu ya. Paling besar sekitar 70. Dari jam 5 pagi sampai jam 8 malam,” kata Dedi saat berbincang.

“Ya karena angkot kan bersaing. Semakin banyak alat transportasi, semakin bersaing. Orang pilih yang murah dan simpel. Kita kalahnya sama ojek online, kan enak sampai tujuan. Ya tergantung lah, kita kembalikan ke rezeki saja,” tuturnya.

Karena itu, Dedi menyambut baik kebijakan libur operasional angkot pada malam tahun baru yang disertai pemberian kompensasi. Menurutnya, langkah ini baru pertama kali terjadi selama 20 tahun dia menjalani profesi sebagai sopir angkot.

“Sejarah Kota Bandung, gubernurnya ya sebelum-sebelumnya kan nggak ada kayak begini. Jadi disambut baik, gembira semua, antusias enggak perlu turun ke jalan, tapi uang tetap dapat,” ujarnya.

Sopir Angkot di Bandung
Sopir Angkot di Bandung merdeka.com

Dedi menjelaskan, mekanisme pengambilan bantuan dilakukan melalui koordinator masing-masing trayek. Para sopir cukup membawa identitas diri sebelum kemudian diarahkan untuk mengisi formulir.

“Kan ada koordinatornya tersendiri, KPU. Sesuai jalur-jalur, misalnya yang Soreang ya Soreang, kalau yang Riung Bandung ya Riung Bandung. Kita kebetulan Elang. Di situ dikasih pengarahan, kita cuma bawa KTP. Langsung ambil formulir, perlihatkan KTP, isi, terus dapat,” ucapnya.

Besaran kompensasi yang diterima pun, kata Dedi, mencapai Rp600 ribu untuk dua hari.

Pengalaman Pertama

Sopir lainnya, Imam (63), sehari-hari membawa angkot trayek Kelapa–Ledeng. Dalam kondisi normal, penghasilan yang ia bawa pulang jauh dari kata besar. Pendapatan itu ia peroleh setelah menarik dari pukul 06.00 hingga 18.00 WIB.

“Saya paling minim, ya itu antara Rp60 ribu sampai Rp 70 ribu.” ujar Imam.

Imam bercerita, ia sudah menjadi sopir angkot sejak tahun 1980. Artinya, kurang lebih 45 tahun ia menggantungkan hidup di balik kemudi.

“Harusnya sudah pensiun,” selorohnya, dalam nada getir.

Selama puluhan tahun itu, ia mengaku, unit angkot Kelapa–Ledeng yang dikemudikannya buka miliknya sendiri. Ia mengoperasikan angkot milik orang lain dengan sistem setoran.

Setoran yang harus ia bayarkan setiap hari mencapai Rp90 ribu. Sementara biaya bensin berkisar Rp130–150 ribu per hari untuk enam rit perjalanan. Bila beruntung, penghasilan bersih Rp70 ribu bisa ia bawa pulang.

Ia sendiri mengaku tinggal bersama lima cucunya. Sang istri telah lebih dulu berpulang. Seluruh kebutuhan cucu-cucunya, termasuk sekolah, ia penuhi dari hasil menarik angkot.

“Tapi Alhamdulillah, tercukupi,” tuturnya.

Soal kompensasi libur operasional pada momen pergantian tahun, Imam menyambut baik. Ia mengaku sudah menerima kompensasi yang dibagikan pemerintah setelah mengantre dari pukul 8 pagi.

Adapun mekanismenya, kata Imam, para sopir diberi informasi tentang adanya program ini oleh koordinator trayek. Mereka diarahkan untuk datang ke Sport Jabar, dengan membawa KTP, SIM dan dan dokumen kendaraan. Usai mengisi formulir, dan dicek kelengkapan dokumen yang dibawa, para sopir diberi uang tunai Rp600 ribu.

Imam sendiri memperlihatkan uang tunai yang ia terima untuk libur beroperasional selama dua hari, berupa 6 lembar pecahan Rp100 ribu.

“Saya ini dapet Rp600 ribu," katanya.

Ia bilang, kebijakan dari pemerintah semacam ini baru pertama kali ia alami selama puluhan mencari nafkah di jalan. Mengenai teknis pencairan bantuan, Imam menjelaskan, data sopir dihimpun oleh pengurus trayek.

“Ya Alhamdulillah, senang. Untuk tahun baruan, kitanya juga istirahat. Enggak terlalu capek lah gitu,” ucapnya.

Seperti diketahui, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mengusulkan libur operasional untuk sopir angkot pada momen pergantian tahun 2026 di Kota Bandung. Tujuannya sebagai antisipasi dini atas potensi kepadatan lalu lintas.

Rekomendasi