Fakultas Farmasi Universitas Indonesia (FFUI) baru-baru ini meluncurkan sebuah inisiatif penting di Desa Sasak Panjang. Melalui Tim Dosen Farmasi Klinis, mereka menyelenggarakan kegiatan Pengabdian Masyarakat. Program ini bertajuk "Gerakan Orang Tua Sadar Obat" yang fokus pada penanganan kesehatan anak.
Acara tersebut berlangsung di Kantor Kelurahan Desa Sasak Panjang, Kabupaten Bogor, pada tanggal 29 November. Kegiatan ini dihadiri oleh para orang tua, nenek, kakek, serta perwakilan keluarga. Mereka semua memiliki peran krusial dalam pengasuhan dan penanganan awal kesehatan anak di rumah.
Inisiatif ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai praktik swamedikasi yang benar. Khususnya, bagaimana melakukan swamedikasi aman dan bertanggung jawab untuk anak-anak. Ketua Pengmas FFUI, Prof. apt. Retnosari Andrajati, menekankan peran vital keluarga dalam hal ini.
Advertisement
Advertisement
Pentingnya Peran Keluarga dalam Swamedikasi Anak
Prof. apt. Retnosari Andrajati, Ketua Pengmas FFUI, menegaskan bahwa peran keluarga sangatlah fundamental dalam praktik pengobatan mandiri pada anak. "Swamedikasi adalah praktik yang sering dilakukan dalam rumah tangga, namun keputusan yang diambil harus berdasarkan pengetahuan yang benar," ujarnya.
Beliau menambahkan bahwa melalui kegiatan ini, FFUI ingin memastikan setiap orang tua memiliki pemahaman yang tepat. Hal ini krusial agar penggunaan obat-obatan dapat dilakukan secara lebih aman dan efektif. Pengetahuan yang memadai akan meminimalkan risiko kesalahan dalam penanganan kesehatan dasar.
Kegiatan ini secara spesifik menargetkan para orang tua, nenek, kakek, dan anggota keluarga lainnya yang terlibat langsung. Mereka adalah garda terdepan dalam penanganan awal kesehatan anak. Literasi obat yang kuat di tingkat keluarga menjadi kunci utama. Ini akan menciptakan lingkungan rumah yang lebih sadar obat.
Advertisement
Advertisement
Metode Edukasi Partisipatif untuk Pemahaman Optimal
Untuk mencapai tujuan peningkatan literasi, FFUI menggunakan pendekatan edukasi partisipatif melalui metode Cara Belajar Insan Aktif (CBIA). Metode ini dirancang untuk merangsang peserta agar terlibat aktif dalam proses belajar. Diskusi, studi kasus, dan simulasi situasi nyata menjadi bagian integral dari sesi edukasi.
Pendekatan CBIA terbukti lebih efektif dalam membangun pemahaman yang kuat dan mendalam. Pengetahuan yang diperoleh dapat langsung dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari oleh para peserta. Ini memastikan bahwa informasi tidak hanya diterima, tetapi juga diterapkan secara konkret.
Materi yang disampaikan sangat komprehensif, meliputi cara memilih obat yang aman dan sesuai kebutuhan. Peserta juga diajarkan membaca informasi penting pada label dan kemasan obat dengan benar. Pengenalan dosis obat berdasarkan berat badan anak menjadi fokus utama, serta identifikasi tanda-tanda kondisi yang memerlukan penanganan tenaga kesehatan profesional.
Advertisement
Selain penyuluhan, kegiatan ini juga dilengkapi dengan pemeriksaan tinggi dan berat badan anak. Data objektif ini sangat mendukung pemberian dosis obat yang tepat. Hal ini menunjukkan komitmen FFUI untuk memberikan edukasi yang holistik dan berbasis data.
Advertisement
Dukungan Praktis dan Tim Ahli di Balik Gerakan
Sebagai bentuk dukungan praktis, setiap peserta menerima booklet edukatif yang berisi rangkuman materi. Selain itu, mereka juga mendapatkan alat bantu swamedikasi rumah tangga. Alat-alat ini dirancang khusus untuk mempermudah penerapan pengetahuan secara mandiri setelah kegiatan berlangsung.
Pelaksanaan kegiatan pengabdian masyarakat ini dipimpin langsung oleh Prof. apt. Retnosari Andrajati. Beliau didukung oleh tim dosen farmasi klinis yang berpengalaman. Tim ini terdiri dari apt. Nadia Farhanah Syafhan, Dr. apt Santi Purna Sari, apt. Larasati Arrum Kusumawardani, Dr. apt Atika Wahyu Puspitasari, apt. Annisa Lazuardi Larasai, serta apt. Indri Yuliani Hamdani.
Keterlibatan tim ahli ini menjamin kualitas informasi dan edukasi yang diberikan kepada masyarakat. Mereka memastikan bahwa setiap materi disampaikan dengan akurat dan mudah dipahami. Dukungan ini memperkuat "Gerakan Orang Tua Sadar Obat" dalam menciptakan masyarakat yang lebih cerdas dalam swamedikasi.
Advertisement
Sumber: AntaraNews