Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) UGM baru-baru ini mengundang puluhan mahasiswa dari berbagai universitas. Mereka diajak untuk mendalami isu penting terkait kesehatan kerja dan lingkungan di Desa Batik Giriloyo, Bantul, DIY. Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya berkelanjutan UGM dalam pendidikan interprofesional.
Para peserta berasal dari UGM sendiri, Vrije Universiteit Medical Center (Belanda), Mahidol University (Thailand), serta institusi dari Pakistan dan Myanmar. Mereka mengikuti Program International Summer Course on Interprofessional Healthcare yang telah memasuki tahun ke-10. Program ini bertujuan membekali peserta dengan pemahaman komprehensif tentang isu kesehatan global.
Wakil Dekan Bidang Akademik & Kemahasiswaan FK-KMK UGM, dr. Ahmad Hamim Sadewa, Ph.D., menjelaskan relevansi topik ini. Kesehatan kerja dan lingkungan menjadi tantangan signifikan yang dihadapi banyak pekerja di seluruh dunia saat ini. Kunjungan lapangan ini diharapkan memberikan perspektif praktis bagi para mahasiswa.
Advertisement
Advertisement
Mengenal Tantangan Kesehatan Kerja Global dan Nasional
dr. Ahmad Hamim Sadewa menyoroti urgensi pemahaman tentang kesehatan kerja dan lingkungan. Data dari International Labour Organization (ILO) menunjukkan lebih dari 2,9 juta pekerja meninggal setiap tahun. Kematian ini diakibatkan oleh kecelakaan atau penyakit yang berhubungan dengan pekerjaan di seluruh dunia. Angka ini menggambarkan skala masalah yang perlu penanganan serius.
Di Indonesia sendiri, kasus kecelakaan kerja juga menunjukkan tren yang mengkhawatirkan. Kementerian Ketenagakerjaan RI mencatat lebih dari 265.000 kasus pada tahun 2022. Tingginya angka ini menekankan perlunya peningkatan kesadaran dan implementasi praktik kesehatan kerja. Hal ini penting untuk melindungi para pekerja di berbagai sektor industri.
Ketua Tim Internasionalisasi FK-KMK UGM, dr. Dwi Aris Agung Nugrahaningsih Ph.D., menambahkan pentingnya analisis faktor risiko. Mahasiswa diajak terjun langsung untuk mengidentifikasi potensi bahaya di tempat kerja. Contohnya seperti paparan bahan kimia dan posisi duduk yang tidak ergonomis. Pemahaman ini krusial untuk pencegahan dan mitigasi risiko dalam Kesehatan Kerja UGM.
Advertisement
Advertisement
Pembelajaran Langsung di Sentra Batik Giriloyo
Kunjungan ke Desa Batik Giriloyo bukan hanya sekadar observasi, melainkan pengalaman belajar yang mendalam. Sebelumnya, para mahasiswa telah mengikuti kuliah selama tiga hari mengenai kesehatan kerja dan lingkungan. Pengalaman lapangan ini melengkapi teori yang telah mereka dapatkan. Mereka diharapkan mampu mengidentifikasi masalah kesehatan secara langsung.
Setelah kunjungan, mahasiswa akan diminta untuk menyusun rekomendasi dan solusi konkret. Ini terkait masalah kesehatan yang mereka temui selama di lapangan. Contohnya adalah saran mengenai durasi istirahat bagi pembatik atau penggunaan alat pelindung diri. Mereka juga akan mengusulkan pola kerja yang lebih sehat dan ergonomis.
dr. Dwi Aris menekankan bahwa kesehatan tidak hanya terbatas pada penanganan penyakit di rumah sakit. "Banyak orang menganggap kesehatan itu hanya terkait dengan penyakit yang datang ke rumah sakit, padahal banyak penyakit yang berasal dari lingkungan kerja yang tidak sehat," ujarnya. Ia menambahkan bahwa kesehatan juga dibangun di tempat kerja dan lingkungan sekitar. Ini merupakan perspektif penting dalam Kesehatan Kerja UGM.
Advertisement
Koordinator Kegiatan Komunitas UGM, dr. Drs. Abdul Wahab, MPH, menyoroti aspek unik dari program ini. Peserta tidak hanya belajar formal, tetapi juga tinggal di rumah warga setempat. Mereka mengikuti kegiatan di Puskesmas dan mempelajari budaya masyarakat. Pengalaman ini memperkaya pemahaman mereka tentang konteks sosial kesehatan.
Advertisement
Menganalisis Risiko dan Solusi bagi Pengrajin Batik
Vena Jaladara, SKM., MPH, dari Departemen Perilaku Kesehatan, Lingkungan dan Kedokteran Sosial FK-KMK UGM, menggarisbawahi tantangan spesifik pengrajin batik. Para pembuat batik seringkali masuk dalam kelompok informal. Mereka memiliki minimnya payung hukum untuk proteksi kesehatan dan keselamatan kerja. Ini menjadi perhatian serius dalam konteks Kesehatan Kerja UGM.
Risiko tidak hanya terbatas pada pembatik itu sendiri, tetapi juga meluas ke lingkungan sekitar. "Membatik banyak dilakukan di rumah dan risiko tidak hanya terkait pembatik, tetapi pada akhirnya sampai ke lingkungannya," jelas Vena. Ia juga menyoroti masalah pembuangan limbah yang belum disadari dampaknya. Akumulasi masalah ini dikhawatirkan akan menimbulkan persoalan di kemudian hari.
Michelle, salah satu peserta dari Belanda, berbagi pengalamannya dalam workshop batik. Ia tidak hanya belajar proses pembuatan batik, tetapi juga menyadari tantangan fisik yang dihadapi pengrajin. "Membuat batik prosesnya panjang, harus duduk sangat lama dan kondisi ergonomisnya bisa sangat sulit," kata Michelle. Pengalaman langsung ini membuka matanya terhadap realitas kerja.
Advertisement
Michelle, bersama peserta lain seperti Johan dan Luwam, menyarankan solusi praktis. Mereka merekomendasikan olahraga ringan di sela-sela proses membatik dan tidak duduk terlalu lama. Serta melakukan peregangan secara berkala. Saran-saran ini menunjukkan pemahaman mereka tentang ergonomi dasar. Ini merupakan kontribusi nyata dari pembelajaran Kesehatan Kerja UGM.
Sumber: AntaraNews