Menag Serukan UIN Datokarama Jadi Pelopor 'Daruriyatus Sittah' Lingkungan Hidup: Kerusakan Alam Lebih Mematikan dari Perang!

Menteri Agama Nasaruddin Umar meminta sivitas akademika UIN Datokarama Palu menjadi garda terdepan dalam pelestarian lingkungan hidup, mengingatkan bahwa kerusakan alam lebih mematikan dari konflik bersenjata dan perlu penyesuaian fikih.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Menag Serukan UIN Datokarama Jadi Pelopor 'Daruriyatus Sittah' Lingkungan Hidup: Kerusakan Alam Lebih Mematikan dari Perang!
Menteri Agama Nasaruddin Umar meminta sivitas akademika UIN Datokarama Palu menjadi garda terdepan dalam pelestarian lingkungan hidup, mengingatkan bahwa kerusakan alam lebih mematikan dari konflik bersenjata dan perlu penyesuaian fikih. (AntaraNews)

Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar secara tegas meminta sivitas akademika Universitas Islam Negeri (UIN) Datokarama Palu untuk menjadi ujung tombak dalam mengampanyekan pelestarian lingkungan. Seruan ini disampaikan Menag saat memberikan orasi ilmiah pada Wisuda Ke-45 Sarjana, Magister, dan Doktor UIN Datokarama di Kota Palu, Minggu lalu.

Dalam kesempatan tersebut, Menag menyoroti dampak kerusakan lingkungan yang menurutnya jauh lebih parah daripada perang. Ia menekankan pentingnya kesadaran kolektif terhadap ancaman ini demi keberlangsungan hidup manusia di masa depan.

Menag menggarisbawahi bahwa bencana alam seperti tanah longsor, banjir, dan kekeringan, yang merupakan akibat dari kerusakan lingkungan, telah merenggut jutaan nyawa setiap tahun. Oleh karena itu, UIN Datokarama dan Perguruan Tinggi Islam Negeri (PTKIN) lainnya didorong untuk menggagas perubahan fikih yang lebih adaptif terhadap kondisi lingkungan saat ini.

Bahaya Kerusakan Lingkungan: Pembunuh Jutaan Jiwa

Menag Nasaruddin Umar mengungkapkan keprihatinannya yang mendalam terhadap kerusakan lingkungan yang terjadi di berbagai belahan dunia. Menurutnya, dampak destruktif dari lingkungan yang rusak memiliki daya bunuh yang jauh melampaui konflik bersenjata.

"Daya bunuhnya lingkungan yang rusak jauh lebih parah daripada perang itu sendiri. Kita hanya meratapi korban yang ada di Israel, Palestina, Ukraina, Rusia. Tetapi kita enggak sadar, ada pembunuh yang sangat dahsyat yaitu rusaknya lingkungan," kata Menag dalam orasinya. Ia menambahkan bahwa kerusakan lingkungan secara global telah menyebabkan kematian empat juta manusia setiap tahunnya.

Data ini menunjukkan bahwa krisis lingkungan bukan lagi sekadar isu sampingan, melainkan ancaman eksistensial yang memerlukan perhatian serius. Bencana seperti tanah longsor, banjir bandang, dan kekeringan ekstrem menjadi bukti nyata dari dampak kerusakan lingkungan hidup yang semakin masif.

Inovasi Fikih dan Konsep Daruriyatus Sittah

Melihat urgensi masalah lingkungan, Menag Nasaruddin Umar mengajak UIN Datokarama untuk berani berpikir inovatif dalam kerangka fikih Islam. Ia mengusulkan penyesuaian fikih, bahkan ushul fikih, yang mengarah pada pelestarian lingkungan.

Dahulu, dikenal lima prioritas darurat (Daruriyatul Khamsah) dalam Islam, yaitu Al-Muhafaẓah 'alad-din (memelihara agama), Al-Muhafaẓah 'alan-nafs (memelihara jiwa), Al-Muhafaẓah 'alal-'aql (memelihara akal pikiran), Al-Muhafaẓah 'alan-nasab (memelihara keturunan), dan Al-Muhafaẓah 'alal-mal (memelihara harta). Menag mengusulkan penambahan satu darurat baru.

"Ini yang menjadi rujukan pada setiap istinbat hukum yang dilakukan oleh para ulama. Akan tetapi ke depan perlu penyesuaian dengan menambah Daruriyatus Sittah, yaitu Al-Muhafaẓah 'alal-bi'ah memelihara lingkungan hidup," tegasnya. Penambahan ini dianggap krusial karena kerusakan lingkungan memiliki daya bunuh yang lebih parah dibandingkan perang.

Ekoteologi: Menjadikan Alam Sebagai Kawan

Dalam upaya menjaga dan melestarikan lingkungan, Kementerian Agama, di bawah kepemimpinan Menag Nasaruddin Umar, mengedepankan konsep baru yang disebut ekoteologi. Konsep ini diharapkan dapat menciptakan kesadaran global akan pentingnya hubungan harmonis antara manusia dan alam.

Menag menjelaskan, "Eko artinya bumi dan teologi artinya pengetahuan tentang Tuhan, maka ekoteologi sesungguhnya adalah bagaimana menciptakan suatu kesadaran global dalam masyarakat untuk menganggap alam bukan hanya sebagai objek, tetapi menjadikannya sebagai kawan dalam menjalani kehidupan bersama." Pendekatan ini mengajak masyarakat untuk melihat alam bukan sekadar sumber daya yang bisa dieksploitasi, melainkan entitas yang harus dijaga dan dilestarikan.

Menag juga mengajak para alumni dan seluruh sivitas akademika UIN Datokarama untuk berani berpikir berbeda, namun tetap di atas landasan metodologi yang benar. "Silakan dikembangkan, bagaimana menciptakan suatu fikih lokal yang sesuai dengan konteks Palu," pungkasnya, mendorong inovasi dalam pelestarian lingkungan hidup.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi