Kementerian Agama (Kemenag) menyerukan kepada seluruh masyarakat Indonesia, khususnya di Sulawesi Tenggara, untuk senantiasa menghayati nilai-nilai luhur Al Quran. Seruan ini datang setelah gelaran Seleksi Tilawatil Quran dan Hadis (STQH) Nasional XXVIII tahun 2025 di Kendari resmi berakhir.
Dirjen Bimbingan Masyarakat Islam Kemenag, Abu Rokhmad, menegaskan pentingnya mengamalkan ajaran suci ini dalam kehidupan sehari-hari. Ia berharap semangat Al Quran tidak berhenti seiring selesainya kompetisi bergengsi tersebut.
Ajakan ini bertujuan agar syiar Al Quran dan Hadis dapat terus berlanjut setiap saat, bukan hanya pada momen musabaqah. Masyarakat diajak untuk terus membaca, mengamalkan, dan menghayati isi kandungan Al Quran secara konsisten.
Advertisement
Advertisement
Pentingnya Menghayati Al Quran di Luar Musabaqah
Kemenag menekankan bahwa syiar Al Quran dan hadis harus terus hidup dalam keseharian masyarakat. Abu Rokhmad secara tegas menyatakan bahwa kegiatan ini bukan sekadar ajang perlombaan semata. Ia berharap nilai-nilai keagamaan dapat terus diamalkan.
"Syiar Al Quran dan hadis semoga tidak hanya dilakukan saat musabaqah seperti ini," ujar Abu Rokhmad dalam keterangannya di Jakarta. "Setiap hari, setiap saat, mari kita terus membaca, mengamalkan, dan menghayati isi Al Quran." Pesan ini disampaikan untuk memperkuat fondasi keimanan umat.
Pemahaman dan pengamalan ajaran Islam secara mendalam diyakini dapat membentuk karakter masyarakat. Hal ini akan berkontribusi pada terciptanya masyarakat yang damai, beradab, dan berkeadilan. STQH menjadi wadah untuk memperkuat hubungan umat Islam dengan sumber pedoman hidupnya.
Advertisement
Advertisement
STQH Nasional XXVIII: Bukan Sekadar Lomba, Tapi Simbol Harmoni
Seleksi Tilawatil Quran dan Hadis (STQH) Nasional XXVIII Tahun 2025 di Kendari telah sukses besar. Provinsi Kalimantan Timur berhasil keluar sebagai juara umum, menunjukkan performa terbaiknya di antara provinsi lain.
Posisi kedua diraih oleh Daerah Khusus Jakarta, sementara Sumatra Selatan menempati peringkat ketiga. Kemenag memberikan apresiasi tinggi kepada semua pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan acara ini. Penyelenggaraan STQH kali ini bahkan dianggap sebagai salah satu yang terbaik.
Keberhasilan STQH tidak hanya diukur dari kemeriahan acara atau antusiasme peserta yang luar biasa. Namun juga dari semangat masyarakat Sulawesi Tenggara yang begitu tinggi dalam menyambut dan menyukseskan kegiatan ini. Kota Kendari menjadi pusat perhatian nasional selama sembilan hari.
Advertisement
Selain sebagai media syiar agama, STQH juga membawa dampak sosial dan kultural yang signifikan bagi daerah tuan rumah. Acara ini menjadi simbol harmoni antara nilai religius dan semangat kebangsaan. Pemerintah daerah dan masyarakat Kendari dinilai berhasil menjadi tuan rumah yang ramah dan penuh semangat kebersamaan.
Advertisement
Spirit Al Quran dan Hadis untuk Pembangunan Karakter Bangsa
Abu Rokhmad menegaskan bahwa STQH adalah wadah penting untuk memperkuat hubungan umat Islam dengan Al Quran dan Hadis. Keduanya merupakan sumber nilai dan pedoman utama dalam menjalani kehidupan. Pengamalan nilai-nilai ini sangat krusial.
"Pemahaman dan pengamalan terhadap ajaran Islam dapat membentuk masyarakat yang damai, beradab, dan berkeadilan," jelasnya. Pernyataan ini menggarisbawahi dampak positif dari penghayatan Al Quran dalam skala yang lebih luas. Hal ini juga menjadi landasan moral bagi pembangunan bangsa.
Momentum STQH ini diharapkan dapat meninggalkan jejak positif di Kota Kendari dan Sulawesi Tenggara. "Momentum ini sangat penting dan berkesan bagi kami di Kota Kendari. Spirit Al Quran dan hadis akan tetap kami tinggalkan di Kota Kendari, di Sulawesi Tenggara," tutup Abu Rokhmad. Ini menunjukkan komitmen untuk menjaga nilai-nilai tersebut.
Advertisement
Sumber: AntaraNews