2.006 Kasus HIV/AIDS di Bali 2024, FPA Usulkan Edukasi HIV/AIDS Dini Sejak SD Masuk Kurikulum

Melihat lonjakan kasus HIV/AIDS di Bali, Forum Peduli AIDS (FPA) Bali mendesak pemerintah daerah untuk memasukkan **edukasi HIV/AIDS dini** ke dalam kurikulum sekolah guna mencapai target nol kasus pada 2030.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
2.006 Kasus HIV/AIDS di Bali 2024, FPA Usulkan Edukasi HIV/AIDS Dini Sejak SD Masuk Kurikulum
Melihat lonjakan kasus HIV/AIDS di Bali, Forum Peduli AIDS (FPA) Bali mendesak pemerintah daerah untuk memasukkan **edukasi HIV/AIDS dini** ke dalam kurikulum sekolah guna mencapai target nol kasus pada 2030. (AntaraNews)

Forum Peduli AIDS (FPA) Bali secara proaktif mengusulkan penambahan kurikulum edukasi terkait pencegahan dan penanganan HIV/AIDS. Usulan ini diharapkan dapat diterapkan sejak usia dini di lingkungan sekolah seluruh Bali. Langkah ini dipandang krusial untuk mencapai target ambisius mengakhiri kasus HIV/AIDS pada tahun 2030 mendatang.

Usulan tersebut disampaikan oleh Ketua FPA Bali, Oka Negara, dalam acara Pelatihan Jurnalistik Media Tanpa Stigma. Acara ini diselenggarakan di Denpasar pada hari Sabtu, bertujuan untuk Ending AIDS 2030. Oka Negara menegaskan bahwa edukasi seksual yang terstruktur adalah solusi jangka panjang.

Menurut Oka, aktivitas seksual seringkali bersifat tersembunyi dan sulit dideteksi, berbeda dengan perilaku merokok atau penggunaan narkoba. Oleh karena itu, pembentukan perilaku sehat melalui pengetahuan yang komprehensif menjadi sangat penting. Edukasi ini diharapkan mampu membekali generasi muda dengan pemahaman yang benar.

Pentingnya Edukasi Seksual Sejak Dini

FPA Bali menekankan urgensi edukasi seksual yang terintegrasi dalam kurikulum sekolah. Mereka melihat bahwa pencegahan merupakan kunci utama dalam menanggulangi penyebaran HIV/AIDS. Terlebih, kasus HIV/AIDS kini banyak menjangkiti kalangan pelajar.

Oka Negara menyatakan, "Kita butuh edukasi seksual kalau bisa lewat kurikulum, karena masalahnya aktivitas seksual itu tersembunyi, kita tidak pernah tahu, berbeda dengan merokok atau pakai narkoba, jadi pada akhirnya penting membuat perilakunya sehat lewat pengetahuan." Pernyataan ini menggarisbawahi perlunya pendekatan yang sistematis.

Selain itu, stigma buruk terhadap upaya penanganan HIV/AIDS juga menjadi perhatian serius. FPA Bali menilai bahwa stigma ini menghambat individu untuk mencari informasi atau melakukan pemeriksaan. Edukasi yang tepat dapat membantu menghilangkan prasangka negatif di masyarakat.

Oleh karena itu, edukasi HIV/AIDS dini tidak hanya fokus pada bahaya aktivitas seksual berisiko. Namun juga mencakup pemahaman tentang pentingnya kesehatan reproduksi dan cara melindungi diri dari penularan penyakit.

Kurikulum Komprehensif dan Penanganan Kasus

Kurikulum yang diusulkan FPA Bali tidak hanya mengajarkan tentang menghindari aktivitas seksual berisiko, terutama dengan banyak pasangan. Namun, juga mencakup langkah-langkah pencegahan penularan penyakit seksual. Penggunaan alat kontrasepsi seperti kondom menjadi salah satu materi yang dianjurkan.

Selain pencegahan, upaya penanganan setelah penularan juga menjadi bagian penting dari edukasi ini. Seringkali, kasus-kasus baru ditemukan pada individu yang kurang mendapatkan informasi. Padahal, saat ini obat untuk menekan penyebaran HIV sudah tersedia dan mudah diakses.

Oka Negara menjelaskan, "Kalau bisa dikomitmenkan lewat pengetahuan sehingga diberikan terstruktur dalam kurikulum, jadi nanti tergantung bentuk sekolah, kalau IPA bisa masuk pada pelajaran biologi karena ada materi reproduksi, IPS bisa sosiologi, jadi pasti ada tempat-tempatnya tinggal sesuaikan." Ini menunjukkan fleksibilitas dalam implementasi kurikulum.

FPA Bali bahkan menyarankan agar edukasi HIV/AIDS dini ini tidak hanya menyasar siswa SMP dan SMA/SMK. Namun juga dimulai sejak sekolah dasar, dengan materi yang lebih sederhana seperti pola hidup sehat dan edukasi pacaran sehat. Jika tidak bisa masuk kurikulum, buku panduan pencegahan kekerasan seksual dapat diberikan.

Tantangan Stigma dan Harapan Nol Kasus 2030

Data FPA Bali menunjukkan adanya urgensi serius terkait penyebaran HIV/AIDS di wilayah tersebut. Sepanjang tahun 2024, setidaknya 2.006 orang dinyatakan positif HIV/AIDS di Bali. Sementara itu, dari Januari hingga Juli 2025, tercatat 1.193 kasus baru.

Belakangan, FPA bersama Yayasan Kerti Praja Dewa menemukan banyak kasus positif pada laki-laki yang berhubungan seksual dengan sesama laki-laki. Kasus homoseksual dan heteroseksual ini bahkan ditemukan pada usia yang sangat muda. Ini menyoroti kerentanan kelompok usia muda terhadap penularan.

Tantangan terbesar saat ini adalah menghilangkan stigma di masyarakat. Diskriminasi terhadap orang dengan HIV/AIDS (ODHA) seringkali membuat mereka enggan melakukan pemeriksaan atau pengobatan. Padahal, deteksi dini dan pengobatan teratur sangat vital untuk menekan penyebaran.

Oka Negara mengapresiasi pemerintah daerah Bali yang telah menunjukkan kepedulian melalui regulasi. Regulasi ini memberikan keleluasaan bagi lembaga peduli HIV/AIDS untuk bekerja. Jika usulan edukasi HIV/AIDS dini ini mendapat respons positif, FPA Bali optimistis mencapai target nol kasus pada tahun 2030.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi