Tragedi Pesantren Al Khoziny: 67 Nyawa Melayang, Malaysia Sampaikan Duka Cita Mendalam

Pemerintah Malaysia menyampaikan duka cita mendalam atas Tragedi Pesantren Al Khoziny di Sidoarjo yang menewaskan 67 santri. Bagaimana respons global dan langkah pemerintah Indonesia menyikapi insiden memilukan ini?

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Tragedi Pesantren Al Khoziny: 67 Nyawa Melayang, Malaysia Sampaikan Duka Cita Mendalam
Pemerintah Malaysia menyampaikan duka cita mendalam atas Tragedi Pesantren Al Khoziny di Sidoarjo yang menewaskan 67 santri. Bagaimana respons global dan langkah pemerintah Indonesia menyikapi insiden memilukan ini? (AntaraNews)

Pemerintah Malaysia melalui kedutaan besarnya di Jakarta menyampaikan duka cita mendalam atas tragedi runtuhnya gedung Pondok Pesantren Al Khoziny di Sidoarjo, Jawa Timur. Insiden yang terjadi pada 29 September lalu ini telah menelan puluhan korban jiwa dari kalangan santri.

Duta Besar Malaysia untuk Indonesia, Dato' Syed Mohamad Hasrin Tengku Hussin, mengungkapkan simpati tersebut saat peringatan Hari Malaysia di Jakarta. Ia berharap agar para korban yang meninggal dunia mendapat rahmat dari Allah SWT.

Selain itu, Dato' Syed Mohamad Hasrin Tengku Hussin juga mendoakan keluarga yang ditinggalkan agar senantiasa diberi kesabaran dan ketenangan dalam menghadapi ketentuan ilahi ini. Ungkapan duka cita ini menunjukkan solidaritas antarnegara dalam menghadapi musibah.

Duka Cita dari Negeri Jiran

Pemerintah Malaysia, melalui Duta Besar Dato' Syed Mohamad Hasrin Tengku Hussin, secara resmi menyampaikan belasungkawa atas tragedi yang menimpa Pondok Pesantren Al Khoziny. Pernyataan ini disampaikan dalam sebuah acara penting di Jakarta, menunjukkan perhatian serius dari negara tetangga.

“Kami mengucapkan duka cita atas tragedi di Pesantren Al Khoziny yang telah mengorbankan 67 nyawa,” kata Dato' Syed Mohamad Hasrin Tengku Hussin. Ia juga menambahkan harapan agar arwah para korban mendapat rahmat dari Allah SWT.

Duta Besar Malaysia turut mendoakan kekuatan bagi keluarga korban yang ditinggalkan. Doa tersebut disampaikan agar mereka dapat tabah dan ikhlas menerima musibah ini. Ungkapan ini menjadi bentuk dukungan moral dari Malaysia kepada Indonesia.

Kronologi dan Upaya Penyelamatan Korban

Tragedi Pesantren Al Khoziny terjadi pada 29 September lalu, ketika sebuah bangunan empat tingkat ambruk saat renovasi. Ratusan santri sedang melaksanakan salat berjamaah di bawah bangunan tersebut, mengakibatkan mereka terjebak di bawah puing-puing reruntuhan.

Operasi pencarian dan penyelamatan (SAR) segera dilakukan secara intensif sejak hari pertama kejadian. Ratusan personel dari berbagai unsur, termasuk Basarnas, BNPB, TNI, Polri, dan relawan, terlibat dalam upaya evakuasi ini.

Kepala Basarnas Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii melaporkan bahwa dari total 171 korban, 104 orang berhasil diselamatkan. Namun, 67 lainnya dinyatakan meninggal dunia, termasuk delapan bagian tubuh korban yang tidak lengkap.

Seluruh rangkaian misi pencarian dan penyelamatan dinyatakan selesai oleh Basarnas setelah operasi berjalan selama sembilan hari. Penemuan seluruh korban dari lokasi reruntuhan menandai berakhirnya fase darurat ini.

Atensi Presiden dan Evaluasi Keamanan Pesantren

Insiden runtuhnya bangunan Pondok Pesantren Al Khoziny telah menjadi perhatian khusus Presiden Prabowo. Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi menyatakan bahwa Presiden terus memonitor perkembangan tragedi ini.

“Beliau memonitor terus, makanya Beliau kemudian memerintahkan kepada para menteri terkait, dan gubernur, wakil gubernur untuk memberikan perhatian,” kata Prasetyo Hadi pada Minggu (5/10). Arahan ini menunjukkan keseriusan pemerintah dalam menangani musibah.

Lebih lanjut, Presiden Prabowo juga telah memerintahkan evaluasi menyeluruh terhadap seluruh bangunan pesantren di Indonesia. Evaluasi ini bertujuan untuk memastikan aspek keamanan dan keselamatan bangunan. Langkah ini diharapkan dapat mencegah kejadian serupa terulang di masa mendatang.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi