Tradisi Ngunder Cai, sebuah ritual kuno yang berakar kuat di Kecamatan Ciomas, Kabupaten Serang, Banten, kini kembali dihidupkan. Prosesi ini bukan hanya sekadar warisan budaya, melainkan telah bertransformasi menjadi seruan kolektif. Tujuannya adalah untuk menjaga kelestarian vital Sungai Cibanten, yang secara historis dikenal sebagai urat nadi peradaban Banten.
Revitalisasi tradisi mengambil air ini, yang dikenal sebagai Ngunder Cai, diinisiasi melalui perhelatan akbar Sasaka Banten. Acara tersebut berfungsi sebagai platform utama untuk menyuarakan pesan-pesan ekologis yang mendesak kepada masyarakat luas. Inisiatif ini berupaya mengingatkan kembali pentingnya hubungan harmonis antara manusia dan lingkungan alam.
Menurut Yopi Hendrawan, kurator Sasaka Banten, yang menyampaikan pandangannya di Serang, prosesi ini sengaja diangkat. Tujuannya adalah untuk mengembalikan kesadaran akan ikatan esensial antara kehidupan manusia dengan air dan keberadaan sungai. Ia menegaskan bahwa fondasi peradaban Banten tidak dapat dipisahkan dari keberadaan Sungai Cibanten yang mengalir.
Advertisement
Advertisement
Makna Filosofis dan Ekologis Tradisi Ngunder Cai
Yopi Hendrawan menjelaskan bahwa makna utuh dari Tradisi Ngunder Cai adalah bagaimana masyarakat menghargai air dan berkomitmen menjaga sungai. Ritual ini menjadi cerminan cara pandang terhadap Banten dalam tiga dimensi penting: konstruksi sejarah, ekologi, dan kreativitas yang melekat. Ini menunjukkan kedalaman filosofi yang terkandung dalam setiap tetes air yang diambil.
Sungai Cibanten memiliki peran sentral dalam sejarah panjang peradaban Banten, menyediakan sumber kehidupan dan jalur transportasi. Oleh karena itu, menjaga kualitas dan keberlanjutan sungai ini sama dengan melestarikan identitas dan warisan budaya lokal. Tradisi Ngunder Cai berfungsi sebagai pengingat akan tanggung jawab kolektif ini.
Prosesi pengambilan air ini bukan hanya ritual semata, tetapi juga manifestasi nyata dari kesadaran ekologis yang mendalam. Masyarakat diajak untuk merenungkan kembali ketergantungan mereka pada sumber daya alam, khususnya air bersih. Melalui Ngunder Cai, hubungan antara manusia dan alam diperkuat dengan cara yang sakral dan bermakna.
Advertisement
Advertisement
Memperluas Jangkauan dan Edukasi Pelestarian Sungai
Tradisi Ngunder Cai, yang awalnya hanya dikenal di kalangan masyarakat hulu sungai di Ciomas, kini mengalami perluasan jangkauan yang signifikan. Untuk pertama kalinya, prosesi pengambilan air sakral ini dibawa melintasi tujuh titik mata air. Perjalanan ini meliputi area dari hulu, bagian tengah, hingga mencapai hilir Sungai Cibanten.
Yopi Hendrawan menambahkan bahwa perluasan ini merupakan upaya strategis untuk menghubungkan seluruh elemen ekosistem sungai. Ia menjelaskan, "Ini menjadi upaya menghubungkan antara hulu, tengah, dan hilir." Mereka mengadopsi tradisi ini sebagai ritual baru yang membawa pesan pelestarian lingkungan yang sangat kuat.
Lebih dari sekadar seremoni, prosesi Tradisi Ngunder Cai juga berfungsi sebagai gerakan edukasi yang berkelanjutan. Sebagian air yang telah dikumpulkan akan dilarung ke laut, melambangkan doa dan harapan untuk kelestarian. Sementara itu, sebagian lainnya direncanakan untuk diuji di laboratorium guna mendorong kolaborasi dengan dinas terkait dalam pemeliharaan kualitas air dan sungai.
Advertisement
Advertisement
Kolaborasi Lintas Komunitas untuk Masa Depan Sungai Cibanten
Perhelatan Sasaka Banten yang menyertai Tradisi Ngunder Cai melibatkan berbagai komunitas. Partisipasi aktif dari lintas iman dan seniman diharapkan dapat menciptakan dampak yang lebih luas. Keterlibatan mereka bertujuan untuk menumbuhkan kesadaran kolektif terhadap pentingnya menjaga lingkungan.
Fokus utama edukasi adalah mencegah kebiasaan membuang sampah sembarangan ke sungai. Edukasi ini ditujukan khususnya bagi generasi muda, agar mereka secara aktif terlibat dalam upaya pelestarian lingkungan. Kesadaran sejak dini diharapkan dapat membentuk perilaku yang bertanggung jawab terhadap alam.
Yopi Hendrawan berharap bahwa inisiatif ini akan "berefek dan berkelanjutan" di masa mendatang. Ia menegaskan, "Kita harus memberi teladan secara laku dan tidak berhenti mengedukasi." Pesan ini menekankan pentingnya aksi nyata dan pendidikan tanpa henti untuk memastikan kelestarian Sungai Cibanten bagi generasi mendatang.
Advertisement
Sumber: AntaraNews