Hingga hari Jumat (3/10) pukul 06.00 WIB, sudah 86 jam sejak bangunan Pondok Pesantren (Ponpes) Al Khoziny di Sidoarjo runtuh pada Senin (29/9) pukul 14.30 WIB. Operasi pencarian dan penyelamatan (search and rescue/SAR) terhadap para korban masih terus dilakukan.
Saat ini, proses tersebut telah memasuki tahap evakuasi korban yang meninggal dunia, setelah masa pencarian darurat atau golden time dinyatakan selesai, dan tidak ada lagi tanda-tanda kehidupan yang ditemukan di bawah puing-puing bangunan.
Seperti yang diketahui, golden time adalah istilah yang menjadi pedoman penting dalam penyelamatan korban dari bencana alam seperti gempa bumi, tanah longsor, banjir, letusan gunung, dan tsunami.
Istilah ini menggambarkan kondisi di mana korban bencana hanya memiliki waktu bertahan selama tiga hari atau 72 jam tanpa makanan dan minuman di tengah situasi terjepit reruntuhan.
"Sudah tidak ada tanda-tanda kehidupan. Tim SAR gabungan memutuskan untuk masuk ke tahap selanjutnya, yaitu mengevakuasi korban yang meninggal menggunakan alat berat," ungkap Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Suharyanto dalam keterangannya pada Kamis (2/10).
Sebelumnya, Tim SAR gabungan telah berkumpul dengan orang tua dan wali santri yang anaknya belum ditemukan dalam insiden runtuhnya bangunan Ponpes Al Khoziny Sidoarjo, untuk membahas langkah-langkah evakuasi selanjutnya.
Dalam pertemuan itu, para wali santri sepakat untuk menggunakan alat berat dalam proses pencarian korban. Pertemuan tersebut juga dihadiri oleh Menko PMK Pratikno, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, serta perwakilan Forkopimda.
Kepala Basarnas Surabaya, Nanang Sigit, menjelaskan bahwa opsi ini diambil setelah pencarian yang dilakukan dari Rabu hingga Kamis, menggunakan teknik manual dan alat pendeteksi suara tidak menunjukkan hasil yang memuaskan.
"Karena hasilnya nihil, kami mulai mempersiapkan opsi penggunaan alat berat. Namun, keputusan ini kami bawa ke forum bersama keluarga korban. Kami tidak ingin mengambil langkah tanpa persetujuan mereka," katanya di lokasi pada Kamis (2/10).
Berdasarkan data dari BNPB, hingga Kamis sore, total 108 korban telah dievakuasi. Dari jumlah tersebut, 30 orang masih mendapatkan perawatan di rumah sakit, 73 orang sudah diperbolehkan pulang, lima orang meninggal dunia, sementara 58 orang lainnya masih dalam proses pencarian.
Advertisement
Tim SAR Gunakan Crane Angkat Material Reruntuhan
Pada sore hari Kamis (2/10), Tim SAR gabungan mulai mengoperasikan alat berat berupa crane untuk memindahkan material dari atas reruntuhan bangunan. Laksamana Pertama TNI Yudhi Bramantyo, yang menjabat sebagai SAR Mission Coordinator (SMC), menjelaskan bahwa penggunaan crane ini dilakukan setelah tim rescue BASARNAS menyelesaikan rangkaian assessment yang terbagi menjadi tiga fase pada malam Rabu, 1 Oktober 2025.
"Pada fase pertama, tim mengecek tanda-tanda kehidupan di lokasi Site A1, A2, dan A3 dengan memanggil nama-nama korban secara bergantian. Namun, hasil yang didapatkan nihil," tuturnya.
Fase kedua dilanjutkan dengan pemanfaatan search camera yang dapat menjangkau celah hingga kedalaman lima meter, tetapi hasilnya juga tidak menunjukkan adanya tanda-tanda kehidupan.
"Selanjutnya, fase ketiga dilakukan menggunakan wall scan suffer 400 untuk mendeteksi keberadaan orang di balik reruntuhan dinding beton. Pemeriksaan ini tidak menemukan tanda napas maupun denyut nadi," jelas Bramantyo.
Tim rescue BASARNAS kemudian beralih ke penggunaan multi search seismic scanner, yang berfungsi untuk menangkap getaran dan suara kecil dari dalam reruntuhan guna mengidentifikasi kemungkinan adanya korban yang masih hidup.
"Selama proses assessment dan reassessment, area sekitar reruntuhan disterilisasi agar tidak ada suara tambahan yang dapat memengaruhi hasil deteksi," tambahnya.
Advertisement
Gunakan Drone Thermal
Secara bersamaan, tim BNPB juga mengoperasikan drone thermal untuk memperluas pencarian tanda-tanda kehidupan dari udara. Setelah memastikan tidak ada respons dari korban di balik reruntuhan, tim SAR gabungan bersama keluarga korban sepakat untuk memulai proses pemindahan material menggunakan crane.
"Upaya ini dilakukan secara bertahap agar tetap menjaga keselamatan tim di lapangan," ucap Bramantyo.
Selain membersihkan material yang berada di atas, tim SAR gabungan juga berkolaborasi dengan pihak terkait untuk memasang shoring atau penyangga di titik-titik rawan.
Shoring ini berfungsi untuk menjaga kestabilan reruntuhan selama proses pembersihan berlangsung. Operasi SAR ini melibatkan ratusan personel dari berbagai instansi. Di samping Kantor SAR Surabaya, sejumlah unsur lain yang terlibat mencakup BSG, Kantor SAR Semarang, Kantor SAR Yogyakarta, serta BPBD Provinsi Jatim.
Selain itu, keterlibatan unsur TNI dan POLRI, BPBD Kabupaten Sidoarjo, BPBD Kota Surabaya, BPBD Kabupaten Jombang, PMI, DAMKAR Kabupaten Sidoarjo, DAMKAR Kota Surabaya, PT Gun, PT Freeport Indonesia, lPT Bumi Suksesindo, BDRT, TSA Gerpik, SAR MTA, Banser Sidoarjo, DMC, Hujung Galuh Rescue, Kanjuruhan Rescue, IOF Rescue, Rescue 79, Sarnatra, Siaga Kota Surabaya, BAZNAS, LPBI NU, SDI, SAR FKAM, serta sejumlah organisasi potensi SAR lainnya juga sangat krusial dalam mendukung operasi ini.
Advertisement
Upaya Tim SAR Selamatkan Para Korban
Sebelumnya, Basarnas mengungkapkan tantangan yang dihadapi Tim SAR dalam usaha penyelamatan korban reruntuhan musala di Ponpes Al Khoziny, Sidoarjo, Jawa Timur. Memasuki hari ketiga proses evakuasi, tim SAR berjuang menghadapi kondisi medan yang sulit untuk menjangkau para korban.
Direktur Operasi Basarnas sekaligus Koordinator Misi SAR (SMC), Laksamana Pertama TNI Yudhi Bramantyo, menyatakan bahwa anggotanya harus merayap dan tengkurap selama berjam-jam untuk mengevakuasi korban yang terjebak di Site 1.
"Medan sangat sulit. Galian hanya berdiameter 60 cm dan kedalaman 80 cm, sehingga personel harus merayap bahkan tengkurap berjam-jam untuk mencapai korban," imbuh Yudhi pada Kamis, 2 Oktober 2025.
Tim SAR gabungan berhasil mengevakuasi tujuh korban dari ambruknya musala Pondok Pesantren Al Khoziny di Buduran, Sidoarjo, Jawa Timur. Dari total tujuh korban yang berhasil diselamatkan, lima di antaranya selamat, sementara dua lainnya dinyatakan meninggal dunia.
"Seluruh korban ditemukan di sektor pencarian Site A1," ujar Yudhi. Proses evakuasi dimulai pada pukul 14.48 WIB dengan ditemukannya korban ke-12 dalam keadaan meninggal. Sekitar 30 menit kemudian, pukul 15.22 WIB, harapan muncul ketika Haikal berhasil dievakuasi dalam kondisi selamat.
Evakuasi selanjutnya berlangsung secara maraton. Pada pukul 18.05 WIB, Muhammad Wahyudi berhasil dikeluarkan dalam keadaan selamat, diikuti oleh Al Fatih pada pukul 18.40 WIB yang juga berhasil diselamatkan.
Namun, 10 menit setelahnya, korban ke-16 ditemukan dalam keadaan meninggal dunia. "Tim SAR berhasil menyelamatkan Putra pada pukul 19.16 WIB, dan terakhir Rosi pada pukul 20.20 WIB juga berhasil dievakuasi dalam keadaan selamat," ucap Yudhi.