Wakil Ketua Komisi VI Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI, Andre Rosiade, menyalurkan bantuan signifikan kepada para pengungsi Kabupaten Yalimo. Bantuan senilai Rp400 juta ini secara khusus ditujukan untuk meringankan beban warga yang terdampak kerusuhan. Penyaluran dana tersebut dilakukan di Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Papua Pegunungan pada hari Minggu.
Dana tersebut dialokasikan untuk membantu warga yang terdampak kerusuhan di Yalimo, khususnya masyarakat Minangkabau yang kini mengungsi. Andre Rosiade berharap Bantuan Pengungsi Yalimo ini dapat memberikan dukungan nyata. Ini merupakan upaya konkret untuk membantu mereka kembali bangkit pasca-musibah.
Dari total bantuan yang disalurkan, Rp100 juta diserahkan secara tunai kepada para pengungsi di Wamena. Sementara itu, Rp300 juta lainnya dialokasikan dalam bentuk material pembangunan kios atau tempat usaha. Tujuannya agar warga dapat kembali melanjutkan aktivitas ekonomi mereka yang sempat terhenti.
Advertisement
Advertisement
Rincian Bantuan dan Desakan kepada Pemerintah Daerah
Andre Rosiade menjelaskan rincian Bantuan Pengungsi Yalimo yang disalurkan. "Bantuan yang kami berikan ini Rp100 juta diberikan tunai, sementara Rp300 juta lainnya diberikan dalam bentuk material pembangunan kios atau tempat usaha bagi warga Minangkabau supaya dapat kembali melanjutkan usahanya," kata Andre Rosiade usai meninjau pengungsi warga Minangkabau di Wamena.
Selain menyalurkan bantuan, Andre Rosiade juga menyampaikan harapannya kepada pemerintah daerah. Ia mendesak Pemerintah Provinsi (Pemprov) Papua Pegunungan dan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Yalimo untuk memberikan perhatian. Perhatian tersebut khususnya ditujukan kepada pengungsi masyarakat nusantara, terutama Minangkabau, yang terdampak kerusuhan.
Menurutnya, dukungan dari pemerintah daerah sangat penting agar para pengungsi dapat kembali berusaha. Hal ini tidak hanya membantu pemulihan ekonomi mereka, tetapi juga berkontribusi pada perekonomian masyarakat asli Papua. "Kami juga harapkan supaya Pemkab Yalimo dan Pemprov Papua Pegunungan dapat memperhatikan pengungsi nusantara khususnya Minangkabau supaya mereka dapat kembali berusaha membantu perekonomian masyarakat asli Papua," tegasnya.
Advertisement
Advertisement
Kunjungan Kedua dan Filosofi Perantau Minangkabau
Kunjungan Andre Rosiade ke Wamena kali ini merupakan yang kedua kalinya. Ia sebelumnya pernah datang pada 5 Oktober 2025 pascakerusuhan pertama. "Sebelum ada pejabat negara yang datang ke Wamena usai kerusuhan, saya datang untuk melihat masyarakat Minangkabau saat itu. Dan saat ini juga saya datang untuk melihat pengungsi Minangkabau di Wamena setelah terjadi kerusuhan di Kabupaten Yalimo," ujarnya.
Andre Rosiade, yang juga Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Ikatan Keluarga Minangkabau (IKM), menekankan filosofi perantau Minangkabau. Filosofi "di mana bumi dipijak di sana langit dijunjung" selalu dipegang teguh. Ini berarti perantau Minangkabau akan selalu bersama masyarakat setempat, menghormati adat dan budaya, serta membangun daerah.
Ia menambahkan bahwa meskipun berbeda suku, agama, ras, dan antargolongan, semua adalah saudara sebangsa. "Sesama anak bangsa, sesama warga Indonesia kita semua bersaudara maka terus jaga persatuan dan kesatuan bangsa di Tanah Papua khususnya Papua Pegunungan," pesannya. Pesan ini menggarisbawahi pentingnya menjaga persatuan di tengah keberagaman.
Advertisement
Advertisement
Apresiasi Pemerintah Provinsi dan Kondisi Terkini Pengungsi
Asisten III Bidang Administrasi Umum Setda Provinsi Papua Pegunungan, Lukas Kossay, menyambut baik kedatangan Waka Komisi VI DPR RI. Ia mengapresiasi kunjungan Andre Rosiade ke Wamena untuk melihat langsung kondisi pengungsi Kabupaten Yalimo. "Kami sebagai pemerintah daerah memberikan apresiasi atas kunjungan ini, dan apa yang telah disampaikan akan diteruskan atau disampaikan kepada pimpinan dalam hal ini Gubernur dan Wakil Gubernur Papua Pegunungan supaya ditindaklanjuti sesuai aturan yang ada," kata Lukas Kossay.
Andre Rosiade bersama pengurus IKM meninjau langsung 53 orang masyarakat Minangkabau yang terdampak kerusuhan. Mereka adalah warga yang mengungsi dari Distrik Elelim, Kabupaten Yalimo, ke Wamena. Kerusuhan yang terjadi pada 16 September 2025 tersebut menyebabkan kerusakan parah.
Dampak kerusuhan di Distrik Elelim, Kabupaten Yalimo, Papua Pegunungan cukup signifikan. Tercatat ada 11 kios terbakar habis dan 12 kios lainnya mengalami kerusakan. Semua kios tersebut adalah milik warga Minangkabau yang kini berstatus pengungsi. Bantuan Pengungsi Yalimo ini diharapkan dapat menjadi titik awal pemulihan bagi mereka.
Advertisement
Sumber: AntaraNews