Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) berskala cukup besar kembali melanda beberapa wilayah di Provinsi Riau. Insiden ini menimbulkan kekhawatiran akan potensi bencana kabut asap yang dapat mengganggu aktivitas masyarakat dan kesehatan.
Berdasarkan pantauan di lapangan, Karhutla teridentifikasi di empat kabupaten utama, yakni Rokan Hulu, Rokan Hilir, Kampar, dan Pelalawan. Di Rokan Hulu, sekitar 20 hektare hutan dilaporkan terbakar, menghasilkan kepulan asap tebal.
Sementara itu, kondisi di Rokan Hilir disebut lebih parah karena lahan gambut yang terbakar menghasilkan asap yang jauh lebih pekat. Yang lebih mengkhawatirkan, asap dari Karhutla Riau pada siang hari ini terdeteksi telah bergerak melintasi batas negara.
Data satelit dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Pekanbaru menunjukkan bahwa pada Sabtu (19/7) pukul 10.00 WIB, asap bergerak ke arah timur laut, memasuki wilayah Teluk Kemang, Negeri Sembilan, Malaysia.
"Kalau dilihat dari peta sebaran asap, asap tersebut menuju ke wilayah Malaysia," kata Forecaster On Duty BMKG Pekanbaru, Bibin Sulianto.
Ancaman Karhutla di Riau semakin nyata dengan terdeteksinya 259 titik panas atau hotspot pada Sabtu pagi. Angka ini merupakan bagian signifikan dari total 694 titik panas yang tersebar di seluruh Pulau Sumatera, menunjukkan kerentanan Riau terhadap bencana ini di awal musim kemarau.
Advertisement
Daerah Terparah Kebakaran Hutan
Forecaster On Duty BMKG Stasiun Pekanbaru, Gita Dewi S, merinci bahwa Kabupaten Rokan Hulu menjadi penyumbang hotspot terbanyak di Riau dengan 107 titik, diikuti Rokan Hilir dengan 95 titik, dan Kota Dumai dengan 17 titik. Hotspot juga tersebar di Siak 15 titik, Kampar 10, Pelalawan 7, Bengkalis 5, Kuantan Singingi 2, dan Indragiri Hulu 1.
"Dari total 259 hotspot tersebut, BMKG memastikan 42 titik berada pada tingkat kepercayaan tinggi, yang berarti sudah dikonfirmasi sebagai titik api yang memerlukan penanganan segera. Sementara itu, 29 titik lainnya berada pada tingkat kepercayaan sedang," jelasnya.
Dengan prakiraan cuaca yang didominasi cerah berawan hingga berawan dan suhu udara berkisar antara 23,0 hingga 35,0 derajat Celcius, serta kelembapan 50–98 persen, kondisi ini sangat mendukung penyebaran api.
Masyarakat diimbau untuk tidak melakukan aktivitas yang dapat memicu kebakaran hutan dan lahan demi mencegah meluasnya Karhutla di Riau.