Cerita Miris Warga Bekasi Lumpuh Usai Operasi Caesar, Hasil Pemeriksaan Ada Penyakit Ini

Pihak rumah sakit membantah jika kondisi pasien tersebut disebabkan karena adanya dugaan malpraktik.

Enriko
Oleh Enriko - Reporter
Cerita Miris Warga Bekasi Lumpuh Usai Operasi Caesar, Hasil Pemeriksaan Ada Penyakit Ini
Cerita Miris Warga Bekasi Lumpuh Usai Operasi Caesar, Hasil Pemeriksaan Ada Penyakit Ini (Merdeka.com)

Warga Kecamatan Mustikajaya, Kota Bekasi bernama Ratih Raynada (30) tak menyangka nasibnya bakal berubah usai melahirkan anak keempat. Dia mengalami kelumpuhan usai menjalani persalinan dengan cara operasi caesar.

Ratih menjalani persalinan dengan operasi caesar di RSUD Chasbullah Abdulmadjid, Kota Bekasi pada September 2024 lalu. Saat itu, dia dibius sebelum dilakukan tindakan bedah.

Namun ketika proses bedah dimulai, Ratih masih merasakan sakit. Dia berteriak untuk memberitahu kondisi yang dialaminya kepada dokter. Pembedahan pun sempat dihentikan.

Beberapa saat kemudian, tubuh Ratih kembali dibius. Operasi caesar pun kembali dilanjutkan. Rasa sakit akibat sayatan di bagian perut kembali dirasakan Ratih. Dia terus berteriak hingga akhirnya mendengar suara tangisan anaknya yang telah lahir.

"Pasrah, tahunya saya dengar suara anak saya nangis, saya pingsan," kata Ratih, Kamis (3/7).

Warga Bekasi lumpuh usai operasi caesar
Warga Bekasi lumpuh usai operasi caesar merdeka.com

Berat Badan Turun Drastis

Ratih menduga rasa sakit yang dia alami saat operasi caesar lantaran obat bius yang belum sepenuhnya bekerja. Termasuk setelah dia kembali mendapat suntikan obat bius ketika operasi persalinan sudah sempat berjalan.

"Belum semuanya (obat bius) full naik udah dibelek (disayat) lagi, kalau memang sudah harus mati istilahnya, sudah deh, mati deh," ujar Ratih.

Setelah operasi caesar, Ratih dirawat inap di rumah sakit tersebut. Saat itu, tubuhnya tidak bisa bergerak normal. Dia menduga hal itu disebabkan efek dari obat bius saat persalinan.

Setelah tiga hari dirawat, kondisi Ratih belum sepenuhnya sehat namun dia memutuskan untuk pulang ke rumah. Berselang beberapa hari, kondisi tubuhnya semakin memburuk karena sulit digerakan.

Kondisi tubuh yang sulit digerakan membuat Ratih tidak bisa melakukan aktivitas seperti biasa, termasuk untuk makan. Akibatnya berat badan Ratih turun drastis.

"Sebelum ke rumah sakit berat (badannya) 48 kilogram, sekarang (turun) jadi 37 kilogram," kata Ratih.

Melihat kondisi tubuh yang tidak menunjukan perkembangan, Ratih kembali mendatangi rumah sakit tersebut untuk diperiksa kesehatannya. Setelah diperiksa dokter, Ratih dinyatakan mengalami tuberkulosis (TBC) tulang.

Warga Bekasi lumpuh usai operasi caesar
Warga Bekasi lumpuh usai operasi caesar merdeka.com

Operasi Pemasangan Pen

Ratih kemudian menjalani operasi pemasangan pen, seperti yang disarankan dokter kepadanya. Dia juga diberikan obat untuk diminum. Namun beberapa bulan kemudian tubuhnya justru semakin sulit digerakan hingga akhirnya lumpuh total sejak April 2025.

Selain mengalami masalah pada kondisi kesehatannya, Ratih juga diterpa musibah lainnya. Dia ditinggal pergi suaminya dan harus kehilangan pekerjaannya.

Ratih berharap pihak rumah sakit bertanggungjawab terhadap dirinya dan anak-anaknya. Karena setelah lumpuh, dia tidak bisa memenuhi kebutuhan anak-anaknya.

"Kemarin pihak rumah sakit tanggung jawab cuma buat kesehatan saya, tapi anak-anak saya tidak dilihat," kata Ratih.

Penjelasan Rumah Sakit

Direktur RSUD Chasbullah Abdulmadjid Kota Bekasi, Kusnanto mengatakan, beberapa bulan setelah melahirkan, pasien bernama Ratih itu mengalami keluhan di tungkai bawah. Setelah dilakukan pemeriksaan, pasien tersebut dinyatakan TBC tulang.

"Pasien datang pertama dengan kehamilan 36 minggu, kemudian bayinya letak lintang, airnya keluar-keluar, sehingga yang kita lakukan adalah menyelamatkan ibu dan bayinya, kemudian beberapa bulan ada keluhan, keluhannya ada di tungkai bawah yang dianggap bahwa itu pasca kehamilan," kata Kusanto.

"Tapi begitu di-MRI, penyakit utamanya adalah TBC tulang, jadi mulai tulang leher sampai ke tulang panggul, ini yang menyebabkan memperburuk keadaan," tambah Kusnanto.

Kusnanto juga membantah jika kondisi pasien tersebut disebabkan karena adanya dugaan malpraktik. Karena tindakan terhadap pasien sudah dilakukan sesuai prosedur.

"InsyaAllah kita selalu sesuai dengan SOP (Standar Operasional Prosedur), tidak mungkin kita melalaikan pasien," ucap Kusnanto.

Pihak RSUD, lanjut Kusnanto, bekerja sama dengan puskesmas setempat jika sewaktu-waktu pasien membutuhkan rujukan ke rumah sakit atau mobil ambulans.

"Kemarin juga pasti kita rawat pada saat hari raya IdulAdha, telepon kita, kita jemput dengan ambulans, kita siapkan rawat inapnya, kita juga bekerja sama dengan puskesmas untuk suatu waktu pasien membutuhkan rujukan ke RSUD, puskesmas siap membantu ambulans," tandasnya.

Rekomendasi