Tahukah Anda? Ribuan Cagar Budaya Terancam, Pemerintah Perkuat Mitigasi Bencana Cagar Budaya

Pemerintah serius dalam mitigasi bencana cagar budaya di tengah ancaman perubahan iklim. Wamenbud Giring Ganesha tekankan pentingnya pemetaan dan pelestarian untuk menjaga warisan bangsa.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Tahukah Anda? Ribuan Cagar Budaya Terancam, Pemerintah Perkuat Mitigasi Bencana Cagar Budaya
Pemerintah serius dalam mitigasi bencana cagar budaya di tengah ancaman perubahan iklim. Wamenbud Giring Ganesha tekankan pentingnya pemetaan dan pelestarian untuk menjaga warisan bangsa. (Merdeka.com)

Pemerintah Indonesia, melalui Wakil Menteri Kebudayaan Giring Ganesha, menegaskan komitmennya untuk memitigasi dampak bencana alam yang berpotensi mengancam keberadaan cagar budaya di seluruh tanah air. Langkah proaktif ini diambil guna memastikan kelestarian warisan budaya bangsa tetap terjaga di tengah tantangan perubahan iklim global. Wamenbud meminta seluruh tim Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) untuk segera melakukan pengecekan menyeluruh terhadap situs-situs penting.

Pernyataan ini disampaikan oleh Wakil Menteri Kebudayaan Giring Ganesha di sela-sela pembukaan Festival Barong yang berlangsung di Taman Ayun Mengwi, Kabupaten Badung, Bali, pada hari Sabtu. Upaya mitigasi ini menjadi respons terhadap fenomena cuaca ekstrem yang semakin sering terjadi di berbagai wilayah Indonesia, termasuk bencana banjir dan tanah longsor yang melanda sejumlah daerah di Bali pada awal pekan ini.

Dalam kunjungan kerjanya di Bali, Wakil Menteri Kebudayaan juga telah mengadakan rapat koordinasi dengan Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XV, yang meliputi Bali dan Nusa Tenggara, serta jajaran Kementerian Kebudayaan. Pertemuan ini bertujuan untuk memetakan secara komprehensif situs-situs cagar budaya yang memiliki tingkat kerawanan tinggi terhadap bencana alam, sehingga strategi pencegahan dan penanganan dapat disusun secara efektif.

Strategi Pemetaan dan Antisipasi Ancaman Iklim

Tim dari Kementerian Kebudayaan saat ini sedang aktif melakukan pemetaan detail untuk mengantisipasi potensi bencana alam yang dapat mengancam cagar budaya. Pemetaan ini mencakup identifikasi lokasi-lokasi yang rentan terhadap berbagai jenis ancaman, seperti banjir, gempa bumi, dan risiko pohon tumbang. Data yang terkumpul akan menjadi dasar untuk perencanaan mitigasi yang lebih terarah dan preventif.

Wakil Menteri Kebudayaan Giring Ganesha menekankan pentingnya peran Balai Pelestarian Kebudayaan dalam proses ini. "Seluruh jajaran Kementerian Kebudayaan di BPK di sini (Bali) untuk terus mencatat, menganalisis cagar budaya yang rawan banjir, gempa dan pohon tumbang," ujarnya, menggarisbawahi urgensi pengumpulan data dan analisis yang berkelanjutan. Hal ini bertujuan untuk menciptakan sistem peringatan dini dan rencana evakuasi yang efektif jika terjadi bencana.

Sebagai contoh, bencana banjir besar dan tanah longsor secara serentak melanda tujuh kabupaten/kota pada Rabu, 10 September 2025 dini hari, yang salah satunya dipicu oleh hujan ekstrem sejak Selasa (9/9). Insiden ini menjadi pengingat akan pentingnya kesiapsiagaan dan mitigasi bencana, khususnya bagi situs-situs cagar budaya yang seringkali berada di area rentan.

Dukungan Pelestarian dan Pengembangan Budaya

Selain fokus pada mitigasi bencana alam, pemerintah juga terus memberikan dukungan terhadap pelestarian cagar budaya dalam bentuk lain. Saat ini, sedang dilakukan analisis terhadap sejumlah objek yang diduga cagar budaya (ODCB) yang masih banyak ditemukan dan tersebar di berbagai daerah di tanah air. Proses ini penting untuk mengidentifikasi dan melindungi potensi warisan budaya baru.

Wakil Menteri Kebudayaan Giring Ganesha menjelaskan bahwa pemerintah bekerja sama erat dengan pemerintah daerah, termasuk para bupati, wali kota, dan gubernur. "Kami bekerja sama dengan para bupati, wali kota, gubernur juga agar bisa naikkan tingkatnya ke tingkat nasional," katanya, menunjukkan upaya kolaboratif untuk meningkatkan status dan perlindungan ODCB menjadi cagar budaya nasional.

Tidak hanya cagar budaya fisik, pelestarian budaya tak benda juga menjadi prioritas. Kesenian tari Barong di Bali, misalnya, didukung melalui pelaksanaan festival kebudayaan yang rutin diselenggarakan. "Kami juga mendorong dan membuka agar muncul tari baru, ekspresi budaya baru," imbuhnya, menegaskan komitmen pemerintah untuk tidak hanya melestarikan yang sudah ada, tetapi juga mendorong inovasi dan perkembangan budaya kontemporer.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi