Memasuki tahap transisi pemulihan pascabencana, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memfokuskan langkahnya pada percepatan pencairan bantuan bagi warga terdampak gempa di beberapa kabupaten Nusa Tenggara Timur (NTT). Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto menyampaikan bahwa bantuan ini mencakup pembangunan hunian sementara (huntara), hunian tetap (huntap), penyaluran Dana Tunggu Hunian (DTH), hingga Dana Stimulan Rumah Rusak Ringan dan Sedang.
"Saya sudah perintahkan agar di bulan Oktober ini, secepatnya dana tersebut sudah bisa disalurkan dan dicairkan oleh warga yang berhak menerima,” ujar Suharyanto saat meninjau huntara percontohan di Lapangan Pusat Jajanan dan Cendera Mata Maumere, Kelurahan Kota Uneng, Kecamatan Alok, Kabupaten Sikka, NTT, Kamis (1/10/2026).
Sebagian besar data penerima Dana Stimulan Rumah Rusak Ringan dan Sedang kini telah selesai diverifikasi. Suharyanto kembali menyoroti pentingnya kejelasan alokasi besaran bantuan tersebut bagi warga.
"Melalui skema ini, warga yang rumahnya rusak ringan akibat bencana akan menerima bantuan biaya perbaikan rumah dari pemerintah sebesar Rp 15 juta. Sedangkan yang rumahnya rusak sedang akan menerima bantuan sebesar Rp 30 juta," ujar Suharyanto.
"Sedangkan untuk warga terdampak gempa NTT yang rumahnya rusak berat, pemerintah menyediakan skema hunian sementara yang dilanjutkan dengan pembangunan hunian tetap," imbuhnya.
Bagi warga terdampak yang enggan menghuni huntara selama menanti penyelesaian huntap, pemerintah menyiapkan kompensasi berupa bantuan DTH senilai Rp 600 ribu per bulan selama tiga bulan.
"Sembari pendataan berlangsung, proses pembangunan huntara dan huntap sudah dilakukan. Bahkan sudah cukup banyak huntara yang pembangunannya selesai 100%,” ungkap Suharyanto.
Mekanisme penyaluran dana perbaikan rumah dilakukan langsung via rekening pribadi tiap penerima usai diverifikasi. Warga dapat mencairkan 75% dana secara tunai, sedangkan 25% sisanya baru bisa ditarik dengan melampirkan bon atau bukti pembayaran pembelian material bangunan.
"Saya tegaskan, dana itu digunakan untuk perbaikan rumah ya,” wanti dia.
Dari segi spesifikasi, huntara garapan BNPB dibangun berukuran 4x6 meter yang dilengkapi satu kamar tidur dan satu toilet. Adapun huntap dirancang seluas tipe 36 dengan fasilitas dua kamar tidur, ruang tamu, serta satu kamar mandi.
Berdasarkan data pemutakhiran BNPB per 27 September 2026, verifikasi sementara mencatat ada 44.767 unit rumah di NTT yang mengalami kerusakan berat, sedang, hingga ringan. Kemudian per 28 September 2026, target penerima DTH dan huntara terdata sebanyak 4.008 penerima dengan perkiraan alokasi anggaran mencapai Rp136.272.000.000.
Mengenai progres fisik pembangunan huntara per 29 September 2026, tercatat 124 unit telah rampung 100%, 861 unit berada pada tahap pengerjaan di bawah 50%, 117 unit sudah menembus progres di atas 50%, sementara 299 unit sisanya masih dalam tahap pematangan lahan, penentuan titik lokasi, serta pengiriman material.