Hasil Uji Lab Makanan MBG di Bogor yang bikin Murid Keracunan: Terkontaminasi Bakteri

Ratusan murid sekolah swasta ternama di Kota Bogor mengalami keracunan usai menyantap menu MBG.

Achmad Sudarno
Oleh Achmad Sudarno - Reporter
Hasil Uji Lab Makanan MBG di Bogor yang bikin Murid Keracunan: Terkontaminasi Bakteri
Untuk diketahui, menu yang dihadirkan dan diolah di dapur untuk Makan Bergizi Gratis dikelola langsung oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang ditunjuk Badan Gizi Nasional (BGN). (© 2025 Liputan6.com)

Ratusan siswa di Kota Bogor mengalami keracunan usai menyantap menu makanan bergizi gratis (MBG) . Menu yang disajikan nasi, tumis toge, tahu, dan telur ceplok saus barbeque.

Hasil pemeriksaan yang dilakukan Labkesda Kota Bogor terhadap sisa-sisa makanan, ditemukan bakteri Salmonella Typhosa dan E Coli.

"Tadi pagi pemeriksaan sampel dari Labkesda Kota Bogor keluar. Hasilnya ada kandungan bakteri E Coli dari sampel telur ceplok saus barbeque. Untuk bakteri Salmonella ada di tumis toge dan tahu," jelas Wali Kota Bogor, Dedie A. Rachim, pada Senin (12/5) kemarin.

Saat ini, pihak berwenang masih menunggu hasil analisis sampel lain. Seperti air minum dan muntahan dari siswa yang menunjukkan gejala keracunan MBG, yang berasal dari dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Yayasan Bosowa Bina Insani.

"Untuk pemeriksaan sampel lainnya seperti air minum dan muntahan dari tubuh siswa, hasilnya baru keluar sore ini. Berdasarkan kesimpulan sementara bahwa telah terjadi pendistribusian makanan yang mengandung bakteri E Coli dan Salmonella oleh SPPG tersebut," tambahnya.

Dedie juga meminta Badan Gizi Nasional (BGN) untuk meningkatkan pengawasan dan memperketat standar operasional prosedur (SOP) terkait penyediaan MBG di setiap SPPG, agar kejadian serupa tidak terulang kembali.

"Jangan kemudian dianggap sepele. Ini betul-betul sesuatu kejadian serius, karena menyangkut anak-anak," tegasnya.

Jumlah siswa yang terkena keracunan MBG terus meningkat, mencapai 213 siswa. Dari total tersebut, 12 orang di antaranya masih dirawat di rumah sakit.

"Tapi kondisi pasien berangsur membaik. Memang mereka masih mengeluh lemas, mual, dan pusing," ungkap Dedie.

Tentukan waktu untuk mengevaluasi MBG

Terpisah, Wakil Ketua MPR RI dari Fraksi PAN, Eddy Soeparno, memberikan tanggapan terkait insiden keracunan yang menimpa siswa di Kota Bogor. Kasus ini diduga terjadi akibat konsumsi makanan dari Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Sebelumnya, dilaporkan bahwa 36 siswa dari tingkat SD dan SMP di Tanah Sareal mengalami keracunan setelah mengonsumsi makanan yang disediakan oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Bina Insani Tanah Sareal. Hingga hari ini, Sabtu (10/5), jumlah siswa yang terpapar keracunan terus meningkat menjadi 171 orang.

Menurut Eddy, insiden yang terjadi di Bogor, serta sebelumnya di Cianjur, seharusnya menjadi kesempatan untuk melakukan evaluasi dan perbaikan dalam pelaksanaan program MBG di masa mendatang.

"Insiden di Bogor dan sebelumnya Cianjur ini menjadi pengingat bagi kita semua bahwa upaya baik tersebut perlu terus dibarengi dengan penguatan sistem pelaksanaan di lapangan," ungkap Eddy dalam pernyataannya pada Sabtu (10/5).

Sebagai Anggota DPR RI Dapil Bogor dan Cianjur, ia mendukung langkah-langkah mitigasi yang diambil terkait kasus ini dan percaya bahwa evaluasi serta perbaikan akan dilakukan.

Eddy menekankan pentingnya melakukan evaluasi yang menyeluruh agar program MBG dapat berjalan lebih baik dengan standar kesehatan, keamanan, dan kualitas yang lebih tinggi.

"Evaluasi yang komprehensif diperlukan agar program MBG dapat berjalan semakin baik, dengan standar kesehatan, keamanan dan kualitas yang lebih baik dan nilai gizinya juga meningkat," jelasnya.

Dia berharap program ini dapat memberikan manfaat yang optimal bagi siswa dan masyarakat.

Rekomendasi