Kekhawatiran publik muncul setelah Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) menemukan kandungan radioaktif Cesium-137 (Cs-137) pada udang di kawasan industri Modern Cikande, Kabupaten Serang. Temuan ini memicu pertanyaan mengenai keamanan pangan dan potensi bahaya yang mengintai masyarakat.
Menanggapi hal tersebut, Guru Besar Bidang Metalurgi Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Prof. Agus Pramono, memberikan imbauan penting kepada masyarakat. Ia menekankan perlunya kewaspadaan terhadap zat radioaktif, namun juga mengingatkan agar tidak panik secara berlebihan.
Prof. Agus menjelaskan bahwa meskipun zat radioaktif memiliki potensi bahaya, tingkat kontaminasi yang ditemukan pada udang tersebut masih dalam batas aman. Penjelasan ini diharapkan dapat menenangkan kekhawatiran tanpa mengabaikan pentingnya sikap hati-hati.
Advertisement
Advertisement
Prof. Agus Pramono menjelaskan bahwa kadar Cesium-137 yang dilaporkan pada udang tersebut adalah 68 Becquerel per kilogram (Bq/kg). Angka ini perlu dipahami dalam konteks ambang batas keamanan yang telah ditetapkan oleh para ahli.
Menurutnya, batas atas kritis Cesium-137 yang berpotensi membahayakan jaringan tubuh dan dapat menyebabkan kanker adalah 1.200 Bq/kg. Dengan demikian, kadar yang ditemukan pada udang masih jauh di bawah ambang batas tersebut.
Prof. Agus menegaskan, "Jika kandungannya 68 Bq/kg, itu jauh dari batas kritis. Artinya, secara teori itu masih aman untuk dikonsumsi." Pernyataan ini memberikan jaminan bahwa konsumsi udang dengan kadar tersebut tidak serta-merta menimbulkan risiko kesehatan.
Advertisement
Meskipun demikian, kewaspadaan tetap menjadi kunci utama dalam menghadapi potensi bahaya radioaktif. Sifat dasar radioaktif yang berbahaya jika terjadi kontak langsung dalam dosis tinggi tidak boleh diabaikan.
Advertisement
Cesium-137 merupakan salah satu produk hasil reaksi nuklir yang memiliki berbagai aplikasi dalam kehidupan modern. Zat ini umum digunakan untuk sterilisasi alat kesehatan, memastikan kebersihan dan keamanan instrumen medis.
Selain itu, Cesium-137 juga berperan penting dalam bidang manufaktur, khususnya untuk mendeteksi cacat pada material logam. Penggunaannya dalam industri menunjukkan bahwa zat ini dapat dikelola dengan aman jika sesuai prosedur.
Prof. Agus menekankan bahwa selama zat radioaktif seperti Cesium-137 tersimpan dan terkelola dengan baik, maka potensi bahayanya dapat diminimalisir. Pengelolaan yang tepat adalah kunci keamanan dalam pemanfaatan teknologi nuklir.
Advertisement
Namun, ia juga mengingatkan tentang pentingnya menjaga jarak aman dari sumber radioaktif. "Yang perlu kita lakukan adalah menjaga jarak aman, jangan sampai berinteraksi hingga bersentuhan langsung dengan sumber radioaktif. Kontak langsung dalam level terkecil bisa mengakibatkan iritasi, dan yang terbesar bisa menyebabkan kanker," jelasnya.
Advertisement
Selain fokus pada penanganan zat radioaktif, Prof. Agus juga menyoroti pentingnya mitigasi pencemaran lingkungan secara umum. Polutan berbahaya, termasuk potensi dampak dari zat radioaktif, memerlukan perhatian serius dari semua pihak.
Salah satu langkah mitigasi yang ia sarankan adalah dengan memperbanyak penanaman pohon. Pohon memiliki fungsi vital sebagai penyeimbang ekosistem dan penyerap polusi di lingkungan, membantu menjaga kualitas udara.
Upaya ini bukan hanya untuk menghadapi isu radioaktif, tetapi juga untuk menciptakan lingkungan yang lebih sehat dan berkelanjutan secara menyeluruh. Partisipasi aktif masyarakat dalam menjaga kelestarian lingkungan sangat diperlukan.
Advertisement
Dengan kombinasi kewaspadaan terhadap sumber bahaya spesifik dan upaya mitigasi lingkungan yang lebih luas, diharapkan masyarakat dapat hidup lebih aman dan sehat. Edukasi dan informasi yang tepat menjadi fondasi penting dalam membangun kesadaran kolektif.
Sumber: AntaraNews