Trivia Mangrove: SBI Tanam 4.000 Bibit Rambai, Perkuat Penanaman Mangrove Pulau Curiak dan Konservasi Bekantan

Sahabat Bekantan Indonesia (SBI) bersama PT Toyota Astra Motor (TAM) dan Benih Baik menanam 4.000 bibit rambai untuk Penanaman Mangrove Pulau Curiak. Simak dampak positifnya bagi ekosistem dan bekantan!

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Trivia Mangrove: SBI Tanam 4.000 Bibit Rambai, Perkuat Penanaman Mangrove Pulau Curiak dan Konservasi Bekantan
Sahabat Bekantan Indonesia (SBI) bersama PT Toyota Astra Motor (TAM) dan Benih Baik menanam 4.000 bibit rambai untuk Penanaman Mangrove Pulau Curiak. Simak dampak positifnya bagi ekosistem dan bekantan! (Merdeka.com)

Sahabat Bekantan Indonesia (SBI) baru-baru ini melancarkan inisiatif penting di Pulau Curiak, Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan. Sebanyak 4.000 bibit pohon rambai (Sonneratia caseolaris) ditanam untuk memulihkan ekosistem mangrove yang vital. Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya mitigasi perubahan iklim dan pelestarian lingkungan.

Penanaman bibit mangrove ini didukung penuh oleh PT Toyota Astra Motor (TAM) dan mitra Benih Baik. Mereka datang langsung dari Jakarta untuk berpartisipasi aktif dalam program konservasi ini. Inisiatif ini menunjukkan komitmen berbagai pihak terhadap kelestarian lingkungan dan keberlanjutan ekosistem.

Dr. Amalia Rezeki, Founder SBI, menjelaskan bahwa aksi ini adalah langkah nyata menjaga keberlanjutan alam. Kawasan Pulau Curiak sangat bergantung pada ekosistem sungai sebagai mata pencarian masyarakat lokal. Selain itu, Pulau Curiak adalah habitat alami bagi bekantan, monyet besar yang dilindungi undang-undang.

Kolaborasi Lintas Sektor untuk Restorasi Mangrove

Dr. Amalia Rezeki, yang akrab disapa Amel, menyampaikan apresiasi mendalam kepada manajemen TAM atas kepedulian mereka. Dukungan ini terus mengalir untuk pemulihan ekosistem mangrove riparian. Penanaman pohon rambai menjadi fokus utama dalam upaya restorasi ini.

Kolaborasi ini bukan yang pertama kali dilakukan. Pada tahun 2023, TAM juga telah bekerja sama dengan SBI dan Benih Baik dalam program serupa. Saat itu, sebanyak 11.000 bibit pohon rambai berhasil ditanam. Bibit-bibit tersebut kini telah tumbuh subur dan membentuk vegetasi baru.

Vegetasi mangrove yang terbentuk dari penanaman sebelumnya kini menjadi habitat penting bagi berbagai satwa. Ini juga menambah daya dukung pakan bagi bekantan. Keberhasilan program sebelumnya menjadi landasan kuat bagi Penanaman Mangrove Pulau Curiak kali ini, menunjukkan komitmen jangka panjang.

Peran Vital Mangrove dan Konservasi Bekantan

Dosen Pendidikan Biologi Universitas Lambung Mangkurat (ULM), Amel, menjelaskan pentingnya pohon mangrove. Mangrove dikenal sebagai penyerap karbon terbesar di dunia. Perannya sangat krusial dalam siklus karbon global, membantu mengurangi emisi gas rumah kaca.

Mangrove memiliki kemampuan menyimpan karbon tiga hingga empat kali lebih besar dibandingkan hutan tropis lainnya. Ini menjadikan ekosistem mangrove sangat berharga dalam upaya mitigasi perubahan iklim. Pemulihan ekosistem ini secara langsung berkontribusi pada kesehatan planet.

Pulau Curiak tidak hanya penting sebagai lokasi Penanaman Mangrove Pulau Curiak, tetapi juga sebagai rumah bagi bekantan. Monyet hidung panjang ini adalah maskot fauna Kalimantan Selatan. Keberadaannya terancam dan dilindungi oleh Undang-Undang RI, menjadikannya spesies prioritas konservasi.

Suranywaty Tjandrasa dari PT Toyota-Astra Motor merasa takjub melihat perkembangan program restorasi mangrove dan konservasi bekantan. Ia berharap proyek ini terus berlanjut dengan baik. Konservasi bekantan menjadi prioritas mengingat habitatnya yang terbatas di Kalimantan.

Edukasi dan Inspirasi Masa Depan

Selain penanaman, kegiatan ini juga diisi dengan sekolah konservasi. Sebanyak 25 mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Kalsel turut serta. Mereka diajarkan tentang konservasi keanekaragaman hayati dan pentingnya menjaga ekosistem.

Mahasiswa juga mendapatkan pengalaman langsung dalam pengamatan satwa di alam. Mereka juga terlibat aktif dalam kegiatan Penanaman Mangrove Pulau Curiak. Ini memberikan pemahaman praktis tentang pelestarian lingkungan dan peran aktif masyarakat.

Khristiana Anggit Mustikaningrum, Co Founder Yayasan Benih Baik Indonesia, memuji pembangunan ekosistem di Pulau Curiak. Menurutnya, ini adalah contoh luar biasa yang patut dicontoh. Program ini bisa menjadi inspirasi bagi semua pihak untuk melakukan hal serupa.

Ia menekankan pentingnya sekolah konservasi dalam mengajak generasi muda. Program ini menumbuhkan kesadaran akan pelestarian lingkungan sejak dini. Ini adalah investasi jangka panjang untuk masa depan lingkungan Indonesia yang lebih baik dan berkelanjutan.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi