Tidak kurang dari 97 orang diberi pelatihan untuk mendorong pengembangan sumber daya manusia guna mencapai kemandirian sesuai dengan Asta Cita pemerintah. Pelatihan mengenai Social Return on Investment (SROI) dan Indeks Kepuasan Masyarakat (IKM) ini digelar oleh PT Pertamina (Persero) melalui Pertamina Foundation. Para peserta berasal dari program PFseries.
"Pelatihan ini adalah wujud komitmen Pertamina melalui Pertamina Foundation untuk meningkatkan kapasitas para pelaksana program kami," ungkap Direktur Operasi Pertamina Foundation, Yulius S. Bulo, Sabtu (22/2). Dikutip dari Liputan6.com.
Dia menjelaskan alasan di balik pelatihan SROI dan IKM ini. Dia berharap bahwa pelatihan ini akan menjadi kunci dalam mengevaluasi efektivitas program pemberdayaan masyarakat.
Peserta pelatihan terdiri dari 59 pemimpin muda PFmuda yang memiliki proyek sosial, 15 technopreneur PFsains yang berinovasi dalam teknologi dan energi, serta 23 dosen dari perguruan tinggi yang bertindak sebagai mentor dalam program Desa Energi Berdikari Soba Bumi (DEB SoBI).
"Kami tidak hanya memberikan dukungan pendanaan, tetapi juga pelatihan-pelatihan," tambahnya.
Pelatihan berlangsung dari 17 hingga 20 Februari 2025 dan menghadirkan pengajar dari Lembaga Pengembangan Manajemen dan Bisnis (LPMB) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga (FEB UNAIR).
Materi yang diajarkan mencakup pengenalan dan penjelasan tentang SROI, serta dampak yang berhubungan dengan aspek ekonomi, sosial, lingkungan, dan kesejahteraan.
Selain itu, peserta juga belajar mengenai unsur-unsur SROI dan cara perhitungannya. Setelah mendapatkan materi, mereka diminta untuk menghitung SROI dari proyek yang mereka jalankan dan mempresentasikannya.
Selain itu, materi tentang Indeks Kepuasan Masyarakat (IKM) juga disampaikan kepada peserta, yang mencakup pengenalan, tujuan, aspek-aspek survei, serta metode survei dan cara menghitung skor IKM.
Peserta tidak hanya belajar di dalam kelas, tetapi juga diajak untuk mengunjungi salah satu binaan PFmuda yang terbaik, yaitu Kampung Lali Gadget. Di lokasi tersebut, mereka dapat melihat contoh penerapan proyek sosial yang inovatif dan kreatif, sekaligus melakukan praktik survei IKM dan SROI.
Arfianti Novita Anwar, yang merupakan mentor dari Desa Energi Berdikari Sobat Bumi di Universitas Pasir Pengaraian, berbagi pengalaman mengenai pelatihan yang diikutinya.
"Saya awalnya tidak tahu bahwa dampak itu bisa diukur, hanya bisa terlihat dari yang sudah dipublikasikan," ungkapnya.
Dia menjelaskan bahwa berkat pelatihan ini, semua peserta dapat memahami indikator dampak yang dapat diukur dari suatu program dengan parameter yang jelas, sehingga dapat menghindari klaim sepihak.
"Saya jadi memiliki insight yang baru terkait bagaimana menghitung dampak dari kegiatan kemasyarakatan," tambahnya.
Sebagai perusahaan yang memimpin dalam transisi energi, Pertamina berkomitmen untuk mendukung pencapaian net zero emission pada tahun 2060. Hal ini dilakukan dengan terus mendorong program-program yang memberikan dampak langsung terhadap pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs). Semua upaya ini sejalan dengan penerapan prinsip Environmental, Social & Governance (ESG) di seluruh aspek bisnis dan operasional Pertamina.