Dalam beberapa waktu terakhir sering kali ditemukan banyak pengendara yang melakukan tindak arogansi di jalanan umum. Terlebih pada saat kejadian ditemukan suatu kekhususan pada mereka yang melakukan tindak arogansi seperti ditemukan pelat nomor kendaraan dinas seperti pejabat pemerintah, TNI, Polri, anggota dewan dan lain sebagainya.
Teranyar, tindak arogansi dilakukan oleh David Yulianto (32). Dia melakukan tindak penganiayaan terhadap sopir taksi online bernama Hendra (42) di exit tol Tomang Jakarta Barat. Sewaktu melakukan penganiayaan David kedapatan menggunakan kendaraan jenis sedan dengan pelat nomor kepolisian.
Setelah diusut kepolisian, pelat nomor itu kedapatan palsu alias digunakan bukan untuk peruntukannya. Terlebih pelaku bukan dari kalangan polisi.
Lantas bagaimana mereka dengan yang melakukan arogansi dengan mereka yang kedapatan gunakan pelat dinas?
Pengamat sosial asal Universitas Indonesia, Devie Rahmawati berpendapat kepada mereka yang kerap kali melakukan tindak arogansi di jalanan dalam hal ini adalah seperti pejabat pemerintah seperti anggota dewan, TNI, Polri dan lain sebagainya adalah mereka yang memiliki derajat yang lebih tinggi yang disebut sebagai 'Patron klien' cenderung memiliki perasaan ingin dijajah.
"Sayangnya kemudian orang-orang yang merasa dirinya patron ini kemudian sebagian kecil menyalahgunakan posisinya sebagai elit di masyarakat perilaku mereka kemudian cenderung dalam tanda kutip menjajah orang-orang yang dianggap di bawah strata sosial mereka," ucap Devie saat dihubungi merdeka.com, Senin (8/5).
Advertisement
Sejatinya sistem sosial masyarakat yang ada di Indonesia termasuk dalam kategori masyarakat hierarki dimana adanya tingkatan-tingkatan sosial. Devie mengatakan mereka yang dianggap Patron seharusnya punya kewajiban untuk sebagai lokomotif masyarakat yang ada distrata bawahnya untuk mengayomi justru malah disalah gunakan.
"Ada sebagian elit yang kemudian menyalahgunakan status keelitan ini dengan bertindak sewenang-wenang dan ini pengaruh feodalisme penjajahan masa lalu," ucap dia.
Pengamat sosial asal Universitas Indoensia itu pun berkaca saat di masa lampau saat masih terjadinya penjajahan dibeberapa belahan dunia. Pada saat itu dinilainya adanya tindak arogansi dengan latar belakang kaum elit merupakan hal yang biasa.
"Di era digital tidak bisa lagi karena kemudian orang dengan mudah menyampaikan ketidaknyamanannya, ketidaksukaannya terhadap kesewenang-wenangan elit yang merasa memiliki kekuasaan sepenuhnya atas masyarakat dan merasa berhak juga melakukan sewenang seperti itu," tegasnya.
Lantas dari dasar itu pula mereka yang masih kerap kali tindak arogansi merupakan bentuk dari tidak terlepasnya rasa dari penjajahan di sebagian kecil para elit yang seakan-akan memiliki hak sepenuhnya atas hidup orang lain.
"Karena sebenarnya kenapa kemudian muncul masyarakat hirarki. Hirarki itu sebenarnya punya tanggung jawab sosial yang tinggi mereka punya kewajiban justru sebaliknya untuk melindungi orang yang ada di tingkatan bawahnya. Kenapa masyarakat di tingkat bawah menerima jadi itu cara pandang yang sangat imperialistik yang sangat mengadopsi cara pandang penjajahan ketika berkuasa malah kemudian menindas," beber Devie.
"Jadi itu sudah melanggar, sudah mengkhianati transisi sosial mereka yang sebenarnya sudah sangat baik. Orang yang lebih tinggi, lebih berkuasa, lebih hebat itu punya tanggung jawab untuk memelihara merangkul merawat orang-orang yang tingkatan di bawah kita," sambungnya.
Advertisement
Tidak hanya itu, dalam beberapa kasus arogansi di jalan juga ditemukan oleh anak-anak yang mengaku-ngaku dari pejabat pemerintah, TNI, Polisi dan sebagainya. Devie beranggapan kalau mereka merupakan cerminan sekaligus korban dari hasil pendidikan lingkungan sosialnya.
"Jadi sekali lagi jangan salahkan anak anak itu adalah korban mereka korban dari sistem cerminan sosial keluarganya sendiri," tegasnya.
"Secara sosial anak-anak itu tumbuh dari lingkungan sosialnya. Kalau mereka tumbuh dari orang tua oknum seperti itu maka dia akan tumbuh seperti itu," timpalnya.
Devie mengungkapkan dari sebuah hasil penelitian selama 50 tahun menunjukkan karakter anak jelas merupakan fotokopi imitasi dari orangtuanya.