Peringati Setahun Invasi Rusia, Warga Ukraina di Bali Harap Perang Segera Berakhir

Puluhan warga negara (WN) Ukraina mendatangi Konsulat Ukraina di Denpasar Selatan, Bali, Jumat (24/2). Mereka memperingati satu tahun invasi Rusia ke negaranya.

Moh. Kadafi
Oleh Moh. Kadafi - Reporter
Peringati Setahun Invasi Rusia, Warga Ukraina di Bali Harap Perang Segera Berakhir
WN Ukraina mendatangi Konsulat Ukraina di Denpasar Selatan, Bali, Jumat (24/2). ©2023 Merdeka.com/Moh. Kadafi

Puluhan warga negara (WN) Ukraina mendatangi Konsulat Ukraina di Denpasar Selatan, Bali, Jumat (24/2). Mereka memperingati satu tahun invasi Rusia ke negaranya.

WN Ukraina datang silih berganti ke lokasi itu sejak pukul 13.30 Wita hingga sore ini. Mereka rata-rata menggunakan sepeda motor. Ada yang berboncengan dan ada pula yang menggunakan jasa ojek online.

Mereka datang sambil membawa bunga dan diletakkan di depan dan samping pintu Konsulat Ukraina. Selain itu, mereka juga menyalakan lilin yang dibagikan sesama warga Ukraina dan lalu berdoa. Beberapa di antaranya menangis.

Beberapa warga Ukraina juga membagikan gelang dan cendera mata berbentuk love berwarna biru dan kuning yang identik dengan bendera Ukraina. Di sisi lain, terlihat juga sejumlah foto yang dipajang di belakang tumpukan bunga yang diletakkan WN Ukraina. Foto-foto itu menampilkan sejumlah kota di Ukraina yang dulunya tampak indah kini luluh lantak akibat perang.

Seorang WN Ukraina, Dmytro mengatakan, hari ini sangat penting bagi warga Ukraina. "Ini hari yang sangat penting bagi warga Ukraina. Kami datang ke sini dengan bunga dan lilin, hanya karena hari tragis 24 Februari untuk setiap orang Ukraina, semua orang tahu apa arti tanggal itu dan semua orang datang hanya untuk melihat satu sama lain untuk saling mendukung," ucap Dmytro.

Ia juga menyebutkan bahwa WN Ukraina membawa bunga sebagai simbol kedamaian dan berharap perang segera berakhir. "(Bunga) itu hanya simbol kedamaian hidup. Setiap orang Ukraina memiliki ceritanya sendiri, banyak orang dengan cerita yang berbeda," ujarnya.

WN Ukraina lainnya, Raisa menceritakan dirinya cukup beruntung karena dirinya sudah ada di Indonesia sebelum terjadi perang. Dia sudah tiga tahun tinggal di Bali.

"Saya tinggal di Indonesia sebelum perang dimulai dan di Bali sudah tiga tahun," ungkapnya.

Ia mengaku berasal dari Kota Kherson, kota pelabuhan di Ukraina. Saat ini dia tidak memiliki rumah karena terkena bom saat perang. Selain itu, ibu dan ayahnya juga mengungsi setelah terjadi perang.

"Saya tidak punya rumah, sudah dibom sehingga saya tinggal di Indonesia. Ibu saya (mengungsi) di Polandia dan bapak saya di Jerman, kakak saya sudah ke Indonesia," ujarnya.

Ia juga mengungkapkan banyak orang Ukraina yang sedih karena tidak bisa pulang ke negaranya. Padahal mereka sangat rindu kepada keluarga di Ukraina.

Untuk mengobati kerinduannya, Raisa mengatakan bahwa dirinya sering bertemu warga Ukraina lain di Bali. Mereka selalu mengobrol untuk berbagi cerita kondisi negaranya.

Raisa juga mengungkapkan bahwa warga Ukraina ingin sekali perang usai, sehingga mereka bisa kembali ke negaranya. Wanita ini memilih tinggal di Indonesia, khususnya Bali, karena warganya sangat baik, ramah, dan suka membantu.

Selama di Bali, Raisa bekerja secara online. Selama ini, banyak warga Ukraina bekerja secara online selama berada di negara orang.

"Semua harapannya bisa pulang ke negara Ukraina. Semua rindu ingin pulang ke Ukraina karena banyak keluarga. Saya kerja online, dan warga Ukraina banyak kerja online. Orang di sini baik dan selalu senyum dan bisa membantu dan mengerti," ujarnya.

Rekomendasi