Cerita WNI di Kapal Pesiar Selamatkan 31 Orang Terdampar di Tengah Laut

Pria asal Nias ini menuturkan puluhan orang itu merupakan pengungsi dari Cuba yang ingin mengadu nasib ke Amerika Serikat.

Dedi Rahmadi
Oleh Dedi Rahmadi - Reporter
Cerita WNI di Kapal Pesiar Selamatkan 31 Orang Terdampar di Tengah Laut
Kapal pesiar. ©2022 Merdeka.com/Dok. Pemkot Probolinggo

Lambaian tangan dan teriakan datang dari 31 orang di perahu yang terombang ambing di perairan perbatasan Amerika Serikat dan Meksiko. Teriakan dan lambaian tangan mereka direspons penumpang kapal pesiar yang meminta kru untuk menyelamatkan korban tersebut.

Informasi itu sampai ke Vincent Hulu, salah satu kru kapal pesiar yang membawa 4.600 penumpang. Dia tak langsung mengirimkan bantuan, namun mengamati pergerakan mereka yang berada di perahu tersebut melalui teropong.

"Pertama, kami harus membawa kapal pesiar menjauh dari perahu mereka, mengingat kapal pesiar ini sangat besar. Kami juga harus mengecek apakah mereka yang benar-benar membutuhkan bantuan, karena kita tidak tahu 31 orang tersebut memiliki maksud tertentu atau tidak," ujar Vincent dikutip dari Youtube pribadinya, Senin (12/12).

Kapal pesiar tersebut akhirnya mengirimkan tim untuk menyelamatkan 31 orang tersebut, usai mengamati dan mengumpulkan informasi. Pria asal Nias ini menuturkan puluhan orang itu merupakan pengungsi dari Cuba yang ingin mengadu nasib ke Amerika Serikat.

"Kami mengirimkan tim dokter hingga tenaga kesehatan untuk membantu mereka. Namun, untuk masuk ke dalam kapal pesiar ini, harus menempuh beberapa persyaratan. Dari cek dokumen hingga cek kesehatan. Kalau ada yang terinfeksi covid-19, maka akan di karantina," jelas lulusan UGM ini.

"Namun kami utamakan penyelamatan pada anak-anak dan orang tua," kata dia menambahkan.

Wanita Sekarat

Vincent mengatakan, ada satu wanita paruh baru yang sekarat karena sudah terombang ambing di lautan berhari-hari tanpa makanan dan minuman. Ditambah, lanjut dia, tekanan psikologi di lautan tanpa tahu hidupnya akan selamat atau tidak.

"Akhirnya wanita itu bisa diselamatkan. Saat mereka masuk ke kapal, standar kebersihannya, semua pakaian mereka harus diganti dengan yang kami sediakan. Ternyata mereka juga membawa dokumen lengkap seperti paspor dan lain lain. Berarti mereka memang ada niat pergi," tutur dia.

"Akhirnya kami tempatkan mereka di ruangan khusus dengan dijaga dan diawasi tim keamanan selama 24 jam. Mereka tak dibolehkan meninggalkan ruangan tersebut.

Untuk mengetahui tujuan para pengungsi tersebut, Vincent mencoba mengorek keterangan dari salah satu korban. Namun sayang, kata dia, orang tersebut tak bisa berbahasa Inggris dan hanya mengerti bahasa Spanyol.

"Saat tiba di Miami, pihak kapal pesiar akan menyerahkan 31 orang tersebut kepada pihak berwajib untuk ditangani. Tugas kami hanya menyelamatkan nyawa seseorang saat berada di lautan," tegas dia.

Rekomendasi