Enam Warga Semarang Meninggal akibat Leptospirosis, Bakteri dari Kencing Hewan

Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Semarang mencatat 22 kasus infeksi Leptospirosis, enam orang meninggal dunia dari Januari hingga Oktober 2022. Penyakit leptospirosis disebabkan infeksi bakteri leptospira yang ditularkan melalui kencing tikus.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Enam Warga Semarang Meninggal akibat Leptospirosis, Bakteri dari Kencing Hewan
Ilustrasi pasien Covid-19 di rumah sakit. ©2021 Merdeka.com/liputan6.com

Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Semarang mencatat 22 kasus infeksi Leptospirosis, enam orang meninggal dunia dari Januari hingga Oktober 2022. Penyakit leptospirosis disebabkan infeksi bakteri leptospira yang ditularkan melalui kencing tikus.

"Total ada 22 kasus leptospira (leptospirosis). Kasus meninggal terbanyak ada di Kecamatan Tembalang dua kasus. Sisanya masing-masing hanya satu kasus meninggal dunia di Kecamatan Pedurungan, Kecamatan Semarang Utara, Kecamatan Genuk dan Kecamatan Mijen," kata Kepala Bidang (Kabid) Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Nur Dian Rakhmawati, Selasa (25/10).

Berdasarkan catatan Dinkes Semarang, sudah ada 10 kecamatan yang ditemukan kasus leptospira. Yakni Kecamatan Tembalang lima kasus, Kecamatan Candisari empat kasus, Kecamatan Pedurungan tiga kasus, Semarang Utara dua kasus, Kecamatan Genuk dua kasus, Kecamatan Mijen dua kasus dan Kecamatan Semarang Selatan, Kecamatan Banyumanik, Kecamatan Gunungpati, Kecamatan Ngalian masing-masing satu kasus.

Leptospirosis paling sering ditularkan dari hewan ke manusia ketika orang dengan luka terbuka di kulit. Orang ini kemudian melakukan kontak dengan air atau tanah yang telah terkontaminasi air kencing hewan. Bakteri ini juga dapat memasuki tubuh melalui mata atau selaput lendir.

"Jadi, perilaku hidup bersih dan gunakan pelindung atau alas kaki bila ada luka, simpan makanan dan minuman dengan baik dan lindungi luka dengan penutup luka," ungkapnya.

Gejala orang terkena leptospira yaitu demam akut (dengan atau tanpa sakit kepala) nyeri otot betis, muntah, diare, ruam, mata memerah dan kulit atau area putih pada mata menguning. Pihaknya mengimbau masyarakat agar segera cek kesehatan bila merasakan tanda-tanda tersebut.

"Arahan untuk tenaga kesehatan lakukan skrining deteksi dini dan tata laksana di layanan kesehatan baik di puskesmas maupun di rumah sakit. Sedangkan untuk edukasi di masyarakat, melalui penyuluhan oleh puskesmas tentang tanda gejala dan cara pencegahannya," tutup dia.

Sekadar informasi, kendati ada 22 kasus leptospirosis, kasus air kencing hewan sakit itu mengalami penurunan dibanding tahun 2021. Sebab, pada tahun sebelumnya tercatat ada 33 kasus dan enam kematian.

Rekomendasi