BRIN Ungkap Jumlah Peneliti Perempuan Hanya 44 Persen dari 4.102 Orang

Kepala Organisasi Riset Kesehatan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) NLP Indi Dharmayanti mengharapkan para periset perempuan Indonesia dapat mampu mendorong lingkungan riset yang mampu berkontribusi dalam kemajuan negara dan bermanfaat bagi masyarakat.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
BRIN Ungkap Jumlah Peneliti Perempuan Hanya 44 Persen dari 4.102 Orang
Ilustrasi penelitian. ©2012 Shutterstock/Levent Konuk

Kepala Organisasi Riset Kesehatan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) NLP Indi Dharmayanti mengharapkan para periset perempuan Indonesia dapat mampu mendorong lingkungan riset yang mampu berkontribusi dalam kemajuan negara dan bermanfaat bagi masyarakat.

Indi menyoroti bahwa data UNESCO memperlihatkan masih adanya kesenjangan gender dalam keterlibatan di sains dengan 70 persen adalah laki-laki dan perempuan 30 persen. Untuk BRIN sendiri, menurutnya, terdapat 56 persen laki-laki dan 44 perempuan dari total 4.102 peneliti.

"Saya harapkan bahwa dengan kekuatan yang kita miliki, perempuan sebagai periset di BRIN memang diharapkan mampu mendorong lingkungan riset yang mampu menciptakan penemuan dan inovasi dan berkontribusi tentunya terhadap kemajuan bangsa dan negara serta bermanfaat bagi masyarakat," kata Indi dalam diskusi virtual BRIN edisi Hari Kartini yang diikuti di Jakarta, Kamis (21/4).

Dalam diskusi yang sama, Kepala OR Pertanian dan Pangan BRIN Puji Lestari dalam peringatan Hari Kartini yang dilakukan setiap 21 April secara khusus ingin menyoroti bahwa berdasarkan statistik 50 persen periset di OR Pertanian dan Pangan adalah perempuan. Menurut dia, profil sumber daya manusia itu membuktikan bahwa profesi perempuan sebagai periset memberi kontribusi yang sama terhadap ketahanan pangan nasional.

Dia juga ingin mendorong periset terutama perempuan meniru sikap tidak mudah menyerah ketika masih ingin mencoba yang diusung Kartini.

"Ini sepertinya penting untuk periset karena sering penelitian kita gagal, terutama seperti molekuler, genomik itu banyak sekali kegagalan. Di lapangan banyak hama penyakit, di sini jangan pernah menyerah, bisa dicoba lagi," ujar Puji Lestari.

Sementara itu, Pelaksana tugas Sekretaris Utama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Nur Tri Aries Suestiningtyas mengatakan periset perempuan Indonesia telah banyak berkontribusi dalam inovasi ilmu pengetahuan dan peran perempuan di BRIN merefleksikan pentingnya peran mereka untuk kemajuan riset.

Tri mengatakan bahwa Hari Kartini menjadi momentum pengingat kontribusi perempuan dalam pembangunan dan apakah kesempatan yang dihasilkan dari perjuangan Kartini telah dimanfaatkan sebaik-baiknya.

Tri menjelaskan bahwa intelektualitas menjadi cambuk bagi perempuan masa kini untuk berkembang, dengan ilmu pengetahuan, riset dan inovasi, termasuk berada di dalamnya.

"Badan Riset dan Inovasi Nasional telah memberikan kesempatan yang inklusif bagi seluruh sivitas untuk berkarya, memiliki kesempatan yang sama termasuk bagi perempuan untuk berkiprah di berbagai bidang, baik di riset maupun manajemen iptek," kata Tri. Dikutip Antara.

Rekomendasi