Kisah I Wayan Patut 'Menyulap' Sampah Plastik jadi Produk Kreatif Bernilai Ekonomis

Selain pandai membuat perahu dari botol plastik bekas, Patut juga bisa membuat kursi, meja, pot pohon dan tanaman. Serta paving blok, keramik dinding dan gantungan kunci yang semuanya bahannya dari plastik bekas semacam ecobrick.

Moh. Kadafi
Oleh Moh. Kadafi - Reporter
Kisah I Wayan Patut 'Menyulap' Sampah Plastik jadi Produk Kreatif Bernilai Ekonomis
Kerajinan Warga Berbahan Sampah Plastik. Moh Kadafi

Sampah plastik mulai dari botol dan kresek bekas di tangan I Wayan Patut (51), menjadi kerajinan yang bernilai ekonomis. Barang-barang itu disulap menjadi beberapa inovasi sehingga barang dari bahan sampah plastik cukup keren menjadi hiasan atau pernak-pernik di lingkungan rumah.

Selain pandai membuat perahu dari botol plastik bekas, Patut juga bisa membuat kursi, meja, pot pohon dan tanaman. Serta paving blok, keramik dinding dan gantungan kunci yang semuanya bahannya dari plastik bekas semacam ecobrick.

"Saya sudah sejak tahun 2017, sudah bikin macam-macam kerajinan," kata Patut saat ditemui di tempat kerjanya di Kura-Kura Bali Turtle Island, di Desa Serangan, Denpasar Selatan, Senin (4/4).

Pria asal Desa Serangan ini, menceritakan bahwa dirinya membuat kerajinan itu karena ingin lingkungan di Desa Serangan bersih dari sampah plastik.

"Target kita, menciptakan Desa Serangan bebas sampah plastik itu tujuan utama kita. Makannya, setiap hari kita memungut sampah plastik dan ada juga masyarakat yang donasi sampah dan sering ke sini," ucap pria yang kini memiliki empat anak ini.

Proses Pembuatan

Sementara, selayang pandang melihat apa yang dibuat oleh Patut bersama 12 rekan-rekannya cukup menarik. Untuk membuat keramik dinding mereka mencacah tutup botol plastik sehingga berbentuk kecil. Lalu, cacahan itu dimasukkan ke mesin oven makanan diletakkan semacam loyang besi yang sudah berbentuk.

Ketika sudah meleleh lalu diletakkan di alat press lalu ditekan selama lima menit dan ketika sudah terbentuk lalu diceburkan ke air selama 15 menit dan akhirnya jadi keramik dinding dari bahan plastik. Hanya tinggal mereka gunting dan merapikan bentuknya.

Kemudian, untuk pembuatan pot pohon dan pot tanaman serta patung hias. Ia, menggunakan bahan campuran. Yaitu, semen, styrofoam, kresek dan botol plastik. Awalnya, botol-botol plastik itu diisi penuh dengan plastik kresek, lalu ditumpuk dan dirangkai sesuai bentuk yang diinginkan dan setelah itu ditambal semen lalu membentuknya.

Bentuk hiasan pot pohon juga bermacam-macam ada yang seperti wajah manusia dan juga binatang. Sementara, untuk ukuran paling tinggi sekitar dua meter dan paling kecil sekitar 10 sentimeter.

"Kalau meja sebagian besar kita bikin dari plastik langsung. Kalau dulu pakai semen dan strofong," ujar dia.

Dirintis Sejak 2017

Dia mengungkapkan, sejak tahun 2017 dirinya sudah membuat sekitar 15 ribu kerajinan dari bahan kresek dan botol dengan bermacam-macam inovasi. Selain itu, untuk kerajinan itu banyak juga peminatnya salah satunya adalah ibu-ibu Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) di Desa Serangan, yang membeli pot tanaman hias.

"Banyak yang beli, terutama masyarakat di sini sama ibu-ibu PKK. Yang mereka beli pot-pot kecil itu semua dari botol plastik. Ada juga orang lokal penggemar bonsai," ungkapnya.

Sementara, untuk harga pot tanaman tergantung ukuran yang dipatok dari Rp 10 ribu hingga Rp 2,5 juta yang tinggi pot tanaman mencapai dua meter. "Ada yang kita jual juga, untuk kebutuhan mencari sumber bahan baku. Ketika dapat uang kita belikan lagi botol plastik," ujarnya.

Sementara, untuk setiap harinya pemakaian sampai plastik botol, kresek, tergantung apa yang akan dibuat. "Tergantung, sekarang kita mau kerjakan apa, minimal 5 kilogram. Kalau sampah ada yang memungut di pasar desa dan ada yang beli (botol plastik). Kalau ide iya berawal dari saya semua," ujarnya.

Ia juga mengatakan, bahwa dirinya bekerja di Kura-kura Bali sejak tahun 2013 dengan mempekerjakan 12 orang yang merupakan warga Desa Serangan dan nantinya diharapkan bisa ikut mengelola sampah plastik jadi bahan yang berguna untuk lingkungan.

"Kita di sini mencoba membuat dengan Kura-kura Bali ini, kita bagian dari program community development, community partnership dengan masyarakat Serangan," ujar dia.

Ia juga menyampaikan, bahwa keunggulan membuat kerajinan dari bahan sampah plastik adalah soal nilai ekologinya yang pasti bisa membersihkan lingkungan dari sampah plastik.

"Kita melihat nilai ekologinya, pasti kita membersihkan lingkungan dan mencoba mengurangi planet ini dari pemanasan global. Keunggulan yang lain, kita bisa berkreasi untuk membuat motif-motif kerajinan yang berbeda dan nilai seninya ada," ujarnya.

"Yang benar-benar diperlukan adalah inspirasi untuk membuat model dan motif. Ini, juga hobi saya, saya sangat senang sekali karena pertama yang tidak dibatasi untuk berkreasi. Keinginan saya untuk berkreasi sepanjang itu positif, ownersnya sangat apresiasi," tutup dia.

Rekomendasi