Warga Saling Sikut Berebut Minyak Goreng Rp14 Ribu, Pemkab Jember Pastikan Stok Aman

Menurut Kadisperindag Jember Bambang Saputro, pada dasarnya video itu menunjukkan bahwa ketersediaan minyak goreng di pusat perbelanjaan dalam kondisi aman.

Muhammad Permana
Oleh Muhammad Permana - Reporter
Warga Saling Sikut Berebut Minyak Goreng Rp14 Ribu, Pemkab Jember Pastikan Stok Aman
Viral Warga Saling Sikut Demi Dapatkan Minyak Goreng Rp14.000 di Jember. ©2022 Merdeka.com/Istimewa

Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Jember angkat bicara terkait video viral warga berebut minyak goreng (migor) di salah satu swalayan Kencong baru-baru ini. Warga berebut minyak goreng subsidi yang diterapkan pemerintah dijual seharga maksimal Rp14 ribu per liter.

Menurut Kadisperindag Jember Bambang Saputro, pada dasarnya video itu menunjukkan bahwa ketersediaan minyak goreng di pusat perbelanjaan dalam kondisi aman.

"Hanya saja masyarakat yang berebut. Karena itu kita minta agar pusat perbelanjaan bisa lebih menyiapkan karyawannya supaya bisa mengatur warga yang membeli untuk tidak berebut," tutur Bambang.

Stok Aman di Market Modern, Langka di Pasar Tradisional

Disperindag Jember, lanjut Bambang, selama ini terus memantau ketersediaan minyak goreng di Jember. "Kemarin pak bupati bersama kapolres dan dandim sidak ke beberapa gudang penyimpanan minyak goreng. Kita juga sudah minta ke tiap pengelola pusat perbelanjaan agar selalu berkoordinasi dengan kita jika stok menipis," ujar Bambang.

Diakui Bambang, terjadi perbedaan kondisi antara di retail atau pusat perbelanjaan modern dengan di pasar tradisional. Di retail atau pusat perbelanjaan modern, harga minyak goreng yang dijual sudah sesuai dengan harga eceran tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah yakni Rp14 ribu per liter.

"Hanya saja memang, jaringan retail modern itu gerainya ada banyak. Ketersediaan stok minyak goreng di tiap gerai itu berbeda-beda,” papar Bambang.

Sedangkan di pasar tradisional, kondisinya jauh lebih tidak terkontrol. Pemkab Jember memiliki 34 pasar tradisional yang dikelola sendiri. Dari jumlah tersebut, terdapat 3 kondisi.

“Ada yang stoknya memang kosong, ada juga menipis ada juga yang benar tersedia dengan cukup,” papar Bambang.

Namun, dari 34 pasar tradisional yang ada di Jember, Disperindag Jember mengakui, hampir semua menjual minyak goreng di atas HET yang telah ditetapkan pemerintah pusat. Sekalipun sudah ada subsidi.

“Kebanyakan harganya di atas Rp17 ribu per liter,” papar Bambang.

Untuk mengatasi gejolak harga minyak goreng, Pemkab Jember secara berkala juga menggelar operasi pasar dengan menjual minyak goreng di beberapa titik dengan harga sesuai HET yang ditetapkan pemerintah. “Kita kerjasama dengan jaringan retail modern yang ada,” pungkas Bambang.

Pantauan merdeka.com di beberapa retail modern, kondisinya sedikit berbeda dengan pernyataan Bambang. Sejumlah gerai retail modern nampak habis stok minyak goreng dari seluruh merek. Kondisi ini sudah terjadi selama beberapa hari terakhir.

Rekomendasi