Polres Jember dikabarkan menjemput paksa pemimpin atau guru spiritual kelompok Tunggal Jati Nusantara di Pantai Payangan, Jember Nurhasan. Dia sebelumnya dirawat di Rumah Sakit Daerah (RSD) dr Soebandi Jember.
"InsyaAllah hari ini sudah boleh pulang, tadi saya tanya ke dokter yang menangani. Kondisinya sudah sehat," kata Wakil Direktur RSD dr Soebandi Jember, Tri Wiranto saat dikonfirmasi merdeka.com pada Senin (15/2).
Nurhasan dijemput dari ruang rawat inap sekitar pukul 14.00 WIB. "Oleh dokter yang merawat, sudah diizinkan untuk pulang," lanjut Tri Wiranto.
Kapolres Jember, AKBP Hery Purnomo menyatakan pihaknya akan melakukan penyelidikan atas peristiwa maut tersebut. Termasuk pimpinan kelompok, Nurhasan, terkait dugaan kelalaian yang mengakibatkan hilangnya nyawa orang lain.
Dari foto yang diterima merdeka.com, Nurhasan tampak mengenakan kaos merah, sedang mengahadapi pemeriksaan di salah satu ruangan milik Satreskrim Polres Jember. Namun, sejumlah polisi yang memeriksanya enggan berkomentar terkait perkembangan pemeriksaan tersebut.
"Menunggu pernyataan resmi dari Kaporles Jember saja," ujar seorang perwira.
Advertisement
Nurhasan memimpin ritual bersama 23 orang pengikutnya di Pantai Payangan, Ambulu, Jember. Mereka berasal dari berbagai kecamatan di Jember, bahkan ada pula yang berasal dari Kabupaten Bondowoso.
Mereka berangkat dari rumah Nurhasan di Desa Dukuh Mencek, Kecamatan Sukorambi pada Minggu (13/02) sekitar pukul 23.00 WIB. 11 Orang meninggal dunia di Pantai Payangan terseret arus saat menggelar ritual. 12 orang lainnya selamat termasuk Nurhasan.
Polres Jember menjelaskan korban terserat arus air laut Pantai Payangan yang datang secara tiba-tiba. Sebetulnya, para korban sudah diingatkan warga setempat untuk tidak mendekat ke laut dikarenakan ombak besar.