Tujuh pelajar SMPN di Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur, diamankan karena melakukan berbagai tindak kejahatan pada jam sekolah. Mereka memalak rekan dan adik kelas, mengonsumsi minuman keras hingga mabuk serta merusaki fasilitas sekolah.
Inisial dari tujuh siswa pembuat onar ini adalah MR (14) warga Kelurahan Bakunase II, EN (14) warga Pasar Kasih Kelurahan Naikoten I, FE (14) warga Kelurahan Liliba, AP (14) warga Kelurahan Bakunase II, AK (14) warga Kelurahan Fatubesi, NG (14) warga Kelurahan Naikoten I dan FK (16) warga Kelurahan Naikoten I.
Sementara tiga rekan mereka yang kabur yakni, MM (15) warga kelurahan Bakunase II, MT (15) dan RS (14) warga Kelurahan Bakunase Kota Kupang.
Kepala Sekolah SMPN 9 Kota Kupang, Maria Yasintha Giri mengatakan, pagar dan tembok sekolah roboh karena dirusak sejumlah siswa.
"Kejadiannya (perusakan tembok sekolah) semalam dan ada laporan masyarakat serta penjaga sekolah," ujar Maria kepada wartawan, Kamis (18/11).
Kejadian berlanjut dengan perkelahian antarsiswa di luar sekolah, yang melibatkan siswa SMPN 9 dan warga sipil. Saat itu keamanan dari Polsek Oebobo datang, namun para siswa yang berkelahi terlebih dahulu kabur.
Pihak sekolah dan polisi kemudian mengamankan tujuh siswa yang diduga kuat terlibat dalam aksi ini. "Tujuh siswa ini selalu bikin onar walaupun sudah berulang kali kami bina," jelas Maria.
Sebelum perkelahian, para siswa ini bersembunyi di balik tembok dengan rekan perempuan. "Mungkin mereka pacaran. Tujuh siswa yang diamankan lebih sering berada di luar kompleks sekolah bersama siswa SMKN 5 Kupang dan anak luar, ada yang memakai seragam dan ada yang tidak sehingga kami sulit mendeteksi apalagi mereka memakai masker," tambah Maria.
Tindakan para siswa ini diakui kepala sekolah, bahwa sangat meresahkan. "Kalau ada warga yang tegur, mereka malah lempar rumah warga," cerita Maria.
Para siswa ini pun sering kedapatan mabuk minuman keras, baik saat jam sekolah maupun diluar jam sekolah. Selain itu para siswa ini melakukan aksi pemalakan terhadap adik kelas maupun rekan mereka.
Pihak sekolah sudah berulang kali melakukan pembinaan dan memanggil orang tua siswa, namun kebanyakan orang tua siswa mengabaikan undangan dari sekolah.
"Guru pun sering melakukan home visit mendatangi kediaman siswa untuk bertemu orang tua, tapi malah orang tua menyalahkan kami dan tidak kooperatif untuk membina anak mereka," ungkap Maria.
Lebih miris, jika kepala sekolah atau guru menegur para siswa ini, maka para siswa malah berteriak dan memaki guru. "Pembinaan dari sekolah tidak mempan jadi mereka perlu dibina oleh polisi," keluh Maria.
Sebagai tindak lanjut pembinaan, para siswa yang diamankan diwajibkan membuat surat pernyataan dan tidak mengulangi lagi perbuatannya.