Penyandang dana bom Polresta Surakarta 5 Juli 2016, Munir Kartono meminta maaf kepada korban serangan itu, Ipda Bambang Adi Cahyanto. Dia juga meminta maaf kepada masyarakat Solo.
Prosesi permintaan maaf itu difasilitasi Wali Kota Solo Gibran Rakabuming Raka, BNPT dan Polresta Surakarta di Bale Tawangarum, Kamis (4/11) pukul 13.30 WIB.
Dengan terbata-bata, Munir menyampaikan permintaan maaf kepada masyarakat Solo, Bambang, dan keluarga yang terkena imbas bom bunuh diri yang dilakukan Nur Rohman, warga Sangkrah, Pasarkliwon, Solo, menjelang Hari Raya Idul Fitri itu. Peristiwa tersebut menjadi tragedi yang selalu diingat masyarakat Solo.
"Dan pada saat ini Alhamdulillah pula berbagai pihak membantu saya untuk datang kemari, memenuhi apa yang telah saya janjikan kepada diri saya sendiri, untuk meminta maaf kepada seluruh masyarakat Kota Surakarta. Kepada Pemerintah Kota Surakarta, dan kepada kepolisian, terutama Kapolresta dan jajaran. Dan yang paling utama kepada Bapak Bambang yang saat itu menjadi korban dari apa yang dilakukan oleh Nur Rohman," ujar Munir.
Munir mengakui, selama dalam masa hukuman, ia menyadari bahwa apa yang dilakukan dan keterlibatannya pada saat itu adalah kesalahan. Kesadaran itu juga berkat pembinaan yang diberikan berbagai pihak, baik Densus 88, BNPT, dan lainnya.
"Saya secara pribadi memohon kepada semua pihak untuk dibukakan pintu maaf yang sebesar-besarnya atas apa yang telah saya lakukan. Dan saya menyadari apa yang saya lakukan ini sebuah kesalahan. Saya mohon kepada seluruh pihak untuk sudi memaafkan," tutur Munir sambil berderai air mata.
Pemintaan maaf Munir dikabulkan Bambang yang saat kejadian masih berpangkat brigadir. Dengan ikhlas dan tulus hati, dia bersedia memaafkan Munir. Dengan suasana haru, keduanya pun bersalaman dan berpelukan.
"Dengan ikhlas dan tulus hati saya, Mas Munir saya memaafkan. Saya beserta keluarga dan rekan-rekan kami, ikhlas dan rida. Setelah ini kita ciptakan Solo yang damai," katanya.
Kapolresta Surakarta Kombes Ade Safri Simanjuntak mengapresiasi sikap Munir maupun Bambang. Ia berharap ke depan serangan bom tidak akan terulang, sehingga Kota Solo selalu dalam kondisi yang aman, nyaman dan damai.
"Janji Allah jelas, siapa yang meminta maaf terlebih dahulu, akan ditinggikan derajatnya dan akan dicintai oleh Allah SWT," tutup Ade.
Bom Mapolresta Surakarta 5 tahun lalu terjadi saat personel sedang dilaksanakan apel pagi. Sekitar pukul 07.35 WIB, seorang pengendara sepeda motor yang memaksa menerobos masuk. Dia dicegat beberapa personel provos, salah satunya Brigadir Bambang Adi Cahyanto. Ketika dihentikan, pengendara motor meledakkan diri dengan bom yang dibawanya.
Pengendara bernama Nur Rohman meninggal di tempat. Brigadir Bambang luka-luka. Selang satu bulan kemudian, Munir Kartono ditangkap di Gunung Putri Bogor.
Munir diketahui berperan sebagai salah satu penyandang dana untuk beberapa kejadian teror di Indonesia, termasuk bom Nur Rohman di Mapolresta Surakarta.