DNA Kerangka Berumur 7.200 Tahun Ungkap Sejarah Manusia Purba di Sulawesi

Berdasarkan hasil pemeriksaan, menyebutkan kerangka diduga seorang perempuan tersebut memiliki DNA Denisovan yang merupakan kerabat Ras Austromelanesoid.

Ihwan Fajar
Oleh Ihwan Fajar - Reporter
DNA Kerangka Berumur 7.200 Tahun Ungkap Sejarah Manusia Purba di Sulawesi
Kerangka manusia purba tertua di Sulawesi yang ditemukan di Leang Panninge, Maros. ©Departemen Arkeologi FIB Unhas

Penemuan kerangka berumur 7.200 tahun di Leang Paningnge, Kecamatan Mallawa, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan (Sulsel) mulai mengungkap sejarah manusia purba di Sulawesi. Berdasarkan hasil pemeriksaan, menyebutkan kerangka diduga seorang perempuan tersebut memiliki DNA Denisovan yang merupakan kerabat Ras Austromelanesoid.

Dekan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Hasanuddin Makassar, Prof Akin Duli mengatakan kerangka berumur 7.200 tahun itu pertama kali itu ditemukan pada Juli 2015. Saat itu dilakukan ekskavasi atau penggalian arkeologi dengan menentukan dua kotak atau titik.

"Awalnya atas kerja sama dengan USM Malaysia melakukan survei dan penggalian di situs Leang Panninge, Kecamatan Mallawa, Maros. Situs ini kita anggap sangat penting dan bagus, karena berupa gua berupa lorong dari berupa satu bukit ke bukit yang lain dan diapit oleh sungai," ujarnya saat jumpa pers melalui Zoom Meeting, Selasa (31/8).

Ia mengaku kondisi gua yang diapit oleh bukit sering ditempati oleh manusia purba untuk beraktivitas. Akhirnya dari dua titik yang sudah ditentukan, satu titik dilakukan ekskavasi.

"Saat satu kotak (titik) itu kami ekskavasi, ternyata ditemukan kerangka manusia. Kemudian kita menemukan kerangka itu kami identifikasi," tuturnya.

Berdasarkan identifikasi awal, kata Akin Duli, menunjukkan kerangka ini memperlihatkan ciri-ciri perempuan muda. Hasil temuan kerangka tersebut selanjutnya diberi nama Besse (perempuan).

"Saat itu kerangka belum Kami angkat. Tentunya secara prosedural penemuan kerangka memang tidak harus langsung diangkat karena perlu ada proses adaptasi," bebernya.

Selain karena prosedural, pengangkatan kerangka tersebut belum dilakukan pada saat itu karena tidak siapnya peralatan. Akhirnya, tim peneliti menutup kembali temuan tersebut sesuai dengan prosedur ilmiah.

"Pada Tahun 2017, atas biaya dari Unhas kemudian kerangka ini kita angkat. Kita melakukan penelitian lanjutan dan kemudian kita bawa ke laboratorium," ungkapnya.

Meski kerangka tersebut berhasil diangkat, masalah identifikasi lebih dalam kembali terkendala. Pasalnya, di Makassar belum memiliki laboratorium memadai dan butuh anggaran besar melakukan analisis untuk mengidentifikasi umur, jenis kelamin, hingga penyebab kematiannya.

"Kerangka sempat kami bawa ke (RSUP) Wahidin untuk di scan. Tujuannya untuk mengetahui struktur kerangka, karena ini masih terbungkus lapisan tanah dan batu sehingga mengetahui tulang mana yang bisa diambil DNA-nya," kata Dosen Arkeologi Unhas ini.

Pada tahun 2018, akhirnya Griffith University Australia tertarik atas penemuan kerangka tersebut. Akin Duli mengungkapkan Griffith University menganggap kerangka tersebut sebagai penemuan terbaik.

"Akhirnya data dan sampel dikirim ke Jerman, karena memang di sana ada khusus mengkaji manusia prasejarah pada masa lampau. Ternyata pada saat itu Jerman mengaku butuh seorang ahli DNA untuk melakukan analisis," ucapnya.

Hampir satu tahun berselang, berdasarkan hasil analisis DNA diketahui bahwa kerangka tersebut berumur 7.200 tahun. Meski demikian, penyebab kematian manusia purba tersebut belum bisa diungkap.

"Jadi ini merupakan kerangka manusia tertua yang ditemukan dan dianalisis dengan baik di Sulawesi. Makanya kita katakan bahwa kerangka ini penting bagi sejarah peradaban manusia di Sulawesi, karena inilah kerangka yang tertua," tegasnya.

Akin Duli menambahkan penemuan kerangka tersebut bisa menjadi jawaban atas temuan lukisan hewan, telapak tangan diperkirakan berusia 45.500 tahun berada Leang Tedongnge, Kabupaten Maros.

"Walaupun ada budaya prasejarah yang sudah ditemukan seperti lukisan berumur 45.000 tahun, tapi pada saat itu kita belum menemukan manusianya. Oleh karena itu, temuan ini dianggap sebagai kerangka sangat penting," jelasnya.

Berdasarkan segi DNA, kerangka tersebut merupakan nenek moyang atau kerabat dari Ras Papua dan Aborigin di Australia. Selain itu, DNA kerangka tersebut juga ditemukan DNA Ras Denisovan.

"Denisovan ini diperkirakan lebih tua umurnya dibanding dengan DNA Australomelanesid atau nenek moyang langsung dari bangsa Papua dan Aborigin yang ada di Australia," tuturnya.

Meski butuh penelitian lebih dalam, kata Akin Duli, tetapi teori menunjukkan bahwa nenek moyang dari bangsa melanesoid dan Denisovan asalnya dari Afrika yang melakukan migrasi ke berbagai belahan dunia.

"Sekali lagi, temuan ini sangat penting bagi sejarah penghunian manusia di pulau Sulawesi. Karena inilah bukti tertua tentang kerangka nenek moyang kita," ucapnya.

Sementara itu, Tim peneliti Departemen Arkeologi Unhas, Iwan Sumantri mengaku dengan adanya penemuan kerangka berusia 7.200 tahun tersebut, bisa membuka peluang penelitian lebih luas lagi. Berdasarkan DNA kerangka tersebut, kata Iwan, menunjukkan bahwa masa lampau Indonesia dihuni oleh bermacam ras.

"Tidak ada satu pun orang yang berhak mengklaim sebagai penduduk asli republik ini. Karena di masa lampau Indonesia dihuni oleh campuran ras," ucapnya.

Iwan menambahkan penemuan kerangka berusia 7.200 tahun tersebut bisa menjadi harapan untuk menjawab siapa pembuat lukisan purba di gowa yang ada di Sulsel. "Selama ini kami hanya menemukan dan melihat adanya sisa budaya prasejarah baik lukisan dinding gua. Tetapi pertanyaannya siapa yang menggambar lukisan indah itu? Lukisan di gua itu menunjukkan satu kecerdasan yang dimiliki manusia masa lampau," tuturnya.

Dia menambahkan, secara garis besar, wilayah Wallacea sangat penting karena banyak fenomena biologis yang ditemukan. Di Sulsel, misalnya, pihaknya tidak pernah menyangka bahwa gajah pernah di hidup, mulai dari gajah purba dan jenis gajah lainnya, termasuk dua jenis anoa.

Sekadar diketahui, Denisovan dianggap sebagai nenek moyang leluhur misterius manusia. Ras Denisovan berkembang di Siberia dan menyebar. Kerabat dekatnya dari pohon genetik adalah manusia Neanderthal yang berkembang di wilayah Eropa.

Rekomendasi