Warga Samarinda dibuat heboh dengan kabar tutupnya layanan instalasi gawat darurat (IGD) RSUD AW Sjachranie di Samarinda, Kalimantan Timur, karena penuhnya keterisian tempat tidur pasien.
Foto berupa banner dengan tulisan 'Mohon Maaf untuk Sementara IGD RSUD AWS Tidak Menerima dan Melayani Pasien Dikarenakan Penuh' tersebar di WhatsApp Messenger dan media sosial.
Masyarakat tidak hanya dari Samarinda, melainkan juga dari luar kota panik lantaran khawatir tidak mendapat perawatan di rumah sakit terbesar di Kaltim itu, meski mereka bukan pasien Covid-19.
Manajemen RSUD AW Sjachranie Samarinda angkat bicara. Mereka menyatakan layanan IGD RSUD AW Sjachranie tidak ditutup karena penuhnya pasien.
"Terkait beredarnya foto di media sosial terkait penutupan IGD RSUD AWS, banner yang terpasang tersebut tidak benar," kata Kepala Instalasi Humas & PKRS RSUD AW Sjachranie Samarinda dr Arysia Andhina dikonfirmasi merdeka.com, Senin (5/7) malam.
Meski demikian, Arysia tidak membantah banner itu memang disiapkan untuk kondisi terkini IGD ke depannya. "Banner tersebut kita siapkan, jika sewaktu-waktu IGD diharuskan tutup, dikarenakan BOR saat ini mencapai 91," ujar Arysia.
Di Samarinda sendiri, hari ini mencatatkan angka kasus 14.727 kasus positif Covid-19, dengan angka kesembuhan 13.680 kasus. Angka kematian berjumlah 381 kasus. Sehingga angka kasus positif aktif atau pasien dalam perawatan Covid-19 berjumlah 666 orang.
Dari 14 fasilitas kesehatan berupa pusat karantina dan rumah sakit di Samarinda dengan kapasitas 479 tempat tidur, saat ini angka BOR mencapai lebih dari 60 persen, atau melebihi batas standar yang ditetapkan Badan Kesehatan Dunia (WHO).
"Angka BOR saat ini 73,07 persen," kata Kepala Dinas Kesehatan Kota Samarinda Ismed Kusasih dalam penjelasan terpisah.