Kepala Bidang Informasi Gempabumi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Daryono mengungkapkan bahwa gempa di Kabupaten Majene dan Mamuju, Sulawesi Barat memiliki produktivitas gempa susulan yang sangat rendah.
Untuk itu, dia mengimbau warga yang masih mengungsi di pengungsian untuk kembali ke rumah, jika rumah yang dihuni tidak rusak. Apalagi jika wilayah yang ditinggali jauh dari wilayah rawan longsor.
Seperti yang diketahui, BPBD Sulbar melaporkan bahwa jumlah pengungsi melonjak pasca pemberitaan media terkait gempa susulan. Dari 18 ribu orang yang mengungsi menjadi 90 ribu orang. Daryono meminta masyarakat untuk tidak panik dan tidak memercayai pemberitaan yang tidak memiliki dasar analisis ilmiah yang kuat.
“Zona gempa Majene dan Mamuju sudah memasuki kondisi post seismic. Sehingga produktivitas gempa rendah. Hal ini juga didukung perhitungan estimasi seluruh gempa. Mudah-mudahan situasi kondisi segera aman kembali,” kata Daryono dalam Focus Group Discussion (FGD) Gempa Bumi Sulawesi Barat, Senin (1/2).
Dia pun mengakui bahwa hal ini mungkin dianggap tidak lazim bagi sebagian orang, karena umumnya gempa kerak dangkal dengan magnitudo 6,2 SR diikuti gempa susulan yang cukup banyak. Ada juga pihak yang berpendapat bahwa minimnya gempa susulan itu menggambarkan masih adanya medan tegangan yang terakumulasi, sehingga masih ada potensi gempa besar yang akan terjadi nantinya.
“Fenomena tersebut memang tidak lazim. Jika dibandingkan dengan gempa lain sekelasnya, gempa susulan yang terjadi pun jauh lebih banyak. Namun kita tetap harus menggunakan data riil terkait gempa yang terjadi, bukan menggunakan asumsi,” ujarnya.
Daryono pun dengan tegas menepis pendapat tersebut. Dia mengatakan bahwa gempa Majene memiliki luasan sumber rekah yang sangat kecil. Luas bidang rekahan ini berhubungan dengan besarnya momen seismik atau besarnya gempa dan pergeseran yang terjadi di sumber gempa.
“Semakin luas rekahan di sumbernya, semakin lama durasi gempanya. Nah durasi gempa di Majene dan Mamuju ini rekahannya sangat singkat, energi sumber sudah habis dalam 4 detik, tandanya sumbernya sangat kecil,” kata dia.
“Inilah sebabnya hasil monitoring menunjukkan bahwa gempa Majene memang miskin gempa susulan. Sebaran stasiun seismik BMKG di daerah itu sudah cukup baik sehingga gempa kecil pun akan terekam,”imbuhnya.
Dalam kesempatan yang sama, Guru Besar Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian Institut Teknologi Bandung (ITB), Benyamin Sapii juga menepis pemberitaan yang menyebutkan bahwa gempa Sulbar menyebabkan rentetan gempa lainnya di Indonesia.
“Secara umum tidak ada hal ini terjadi, karena prosesnya tektonik terjadi perlahan dan Panjang sekali waktunya. Jadi sulit mengatakan hubungan secara langsung,” kata Benyamin.