Pos Relawan Diduga Dibakar, Danny Pomanto Minta Pendukung Tetap Tenang

Danny Pomanto mengatakan, pos itu dibangun sejak Pilwalkot Makassar tahun 2018 lalu oleh relawannya. Tahun ini, pos itu kembali digunakan sebagai tempat berkumpul dan istirahat para relawan dan semalam hangus diduga karena dibakar.

Salviah Ika Padmasari
Oleh Salviah Ika Padmasari - Reporter
Pos Relawan Diduga Dibakar, Danny Pomanto Minta Pendukung Tetap Tenang
Danny Pomanto. ©2018 Merdeka.com/Salviah Ika

Pos ukuran 3x4 meter yang terbakar di perempatan Jalan Lamaddukelleng-Jalan Maipa itu adalah tempat relawan paslon wali kota dan wakil wali kota Makassar nomor urut 1, Mohammad Ramdhan Pomanto-Fatmawati Rusdi. Peristiwa itu terjadi Selasa (10/11) dini hari.

Mohammad Ramdhan Pomanto akrab disapa Danny Pomanto mengatakan, pos itu dibangun sejak Pilwalkot Makassar tahun 2018 lalu oleh relawannya. Tahun ini, pos itu kembali digunakan sebagai tempat berkumpul dan istirahat para relawan dan semalam hangus diduga karena dibakar.

Menanggapi kejadian tersebut, Danny merasa itu bagian dari upaya pemancingan. "Memang banyak yang mencoba memancing tapi sudah saya sampaikan ke semua tim, relawan hingga jejaring di bawah agar tidak terpancing. Harus tetap tenang dan sabar," ujar dia.

Dia menambahkan, pihaknya tidak akan mengarahkan ke siapa kira-kira pelakunya. Kata dia, lebih baik bersikap biasa-biasa saja, tidak terpancing dengan situasi apapun yang terjadi di luar.

Menanggapi kejadian pos relawan tersebut, pengamat politik dari Universitas Hasanuddin (Unhas), Dr Sukri mengatakan, memang kontestasi pemilu maupun pilkada merupakan sebuah ruang persaingan dengan pertaruhan banyak sumber daya. Olehnya tingkat persaingan akan sangat sengit.

"Saat ini dengan semakin dekatnya hari pemungutan suara maka kecenderungan meningkatnya suhu politik memang akan lebih hangat," terangnya.

Menurutnya, selain karena waktu para kandidat untuk mencoba meyakinkan masyarakat makin pendek, tentu sudah ada gambaran tentang kecenderungan posisi potensi elektabilitas masing masing kandidat.

Dengan kondisi ini, lanjutnya, maka kondisi persaingan akan terus ketat dan upaya masing-masing kandidat akan makin intensif.

"Hal ini kemudian menyebabkan potensi pergesekan di lapangan antar pendukung dan simpatisan akan semakin besar," terangnya.

Dia mengingatkan ke para kandidat, sebaiknya senantiasa mengingatkan pendukung dan simpatisannya agar dapat menjaga kondisi lebih kondusif. Juga ke para kandidat termasuk para elit politik agar memberikan contoh yang baik dalam upaya menjaga kondisi ini..

"Sebaiknya proses pilkada tidak dijadikan ajang untuk bersaing menimbulkan konflik yang destruktif namun seharusnya menjadi ajang mempersaingkan visi misi terbaik dan realible agar rakyat dapat menggunakan hak pilihnya dengan baik," pungkas Sukri.

Rekomendasi