PBHI: Kasus Hendri Bakari Lebih Mengerikan dari George Floyd di AS

"Peristiwa Hendri ini lebih mengerikan dari peristiwa George Floyd di AS. Karena dalam konteks narkotika kerap seperti itu, belum diproses, belum diperiksa, sudah mengalami penyiksaan dan kemungkinan terjadinya besar sekali," kata Julius Ibrani saat dihubungi merdeka.com, Selasa (11/8).

Bachtiarudin Alam
Oleh Bachtiarudin Alam - Reporter
PBHI: Kasus Hendri Bakari Lebih Mengerikan dari George Floyd di AS
Jenazah Hendri Alfred Bakari. ©2020 Istimewa

Kematian Hendri Alfred Bakari (38) menuai banyak sorotan. Betapa tidak, Hendri tewas dengan wajah dibungkus plastik usai ditangkap polisi dua hari karena diduga terlibat kasus narkoba.
Sekjen Perhimpunan Bantuan Hukum dan HAM Asasi Manusia Indonesia (PBHI), Julius Ibrani menilai, tewasnya Hendri, warga Belakangpadang, Batam, Kepulauan Riau, lebih mengerikan dibanding kasus George Floyd warga Amerika Serikat.

"Peristiwa Hendri ini lebih mengerikan dari peristiwa George Floyd di AS. Karena dalam konteks narkotika kerap seperti itu, belum diproses, belum diperiksa, sudah mengalami penyiksaan dan kemungkinan terjadinya besar sekali," kata Julius Ibrani saat dihubungi merdeka.com, Selasa (11/8).

Sekedar informasi, Floyd tewas setelah lehernya dihimpit menggunakan dengkul polisi saat ditangkap. Floyd diduga terlibat penggunaan uang palsu. Akibat kematian Floyd, terjadi demonstrasi besar di sejumlah wilayah Amerika Serikat.

Julius pun mengatakan, kasus yang dialami memang kerap terjadi soal penyiksaan saat melakukan pemeriksaan oleh aparat. Dia menegaskan, kejadian yang dialami Hendri bukan hanya satu atau dua, melainkan sudah banyak terjadi.

"Kalau kita tahu terduga teroris Joko Priyono yang mengalami kasus yang serupa. Kemudian, kalau kita ingat dua tahanan pemuda di Sijunjung yang menerima hal serupa juga," terangnya.

Oleh sebab itu, dia menegaskan, terkait kejadian Hendri bisa menjadi momentum bagi Polri untuk berbenah terutama pada sistem pengawasan. Karena kejadian seperti itu bukanlah pertama kali.

Kemudian, Julius menilai, peristiwa yang dialami Hendri merupakan sepenuhnya tanggung jawab dari penyidik yang terlibat mulai dari penangkapan hingga pemeriksaan wajib bertanggung jawab.

"Jika benar, ini jelas sebuah tindak pidana yang amat sangat keji ya. Sehingga perlu diusut, bukan hanya orang perorang, melainkan instansinya juga perlu diperiksa, siapa atasanya, siapa pengawasannya untuk mengetahui yang sebenarnya," bebernya.

Oleh sebab itu, Julius menambahkan, apapun bentuk penyiksaannya merupakan tindak pembunuhan luar biasa. Karena merupakan tindak perlakuan keji, terlebih bila terbukti dilakukan oleh aparatur penegak hukum selaku cerminan dari negara.

Sementara itu, Julius menuturkan, terkait pwrisitiwa Hendri, seharusnya membuka peluang untuk Komnas HAM ikut hadir andil dan ikut memeriksa peristiwa penjelasan penyebab tewasnya Hendri.

"Saya pikir ini sudah saatnya untuk kepolisian dan Komnas HAM jangan kelamaan tidurlah. Karena ini bukan satu dua kasus, sudah lama tidak kedengaran suaranya. Kecuali ketika rebutan soal mobil dinas, Camry waktu itu," kritik dia.

"Seharusnyakan aparat segera lakukan penyidikan, untuk lakukan titik temu perkaranya ada dimana dan bagaimana memperbaiki lembaga Polri ini," katanya.

Mega Selviana Bakari yang merupakan keluarga korban menjelaskan, awal sebelum Hendri meninggal dunia. Ia sempat dijemput oleh aparat kepolisian di Kerambah Ikan-nya pada Kamis (6/8) sekitar pukul 15.00 Wib.

"Setelah dijemput, pihak keluarga tidak mengetahui pasti siapa petugas kepolisian yang menjemput. Karena tidak ada surat penahanan, singkat cerita malam itu kami tidak tahu dimana keberadaan abang saya," kata Mega dalam keterangannya kepada merdeka.com, Senin (10/8).

Sehari kemudian, rumah Hendri pun dilakukan penggeledahan untuk mencari barang bukti terkait kasus yang menjerat dirinya.

"Selanjutnya pada tanggal 7 Agustus sekitar pukul 17.00 Wib-01.00 Wib ada penggeledahan di rumah abang saya untuk mencari barang bukti, namun tidak ditemukan. Kemudian abang saya dibawa kembali oleh petugas kepolisian yang memperkenalkan bahwa mereka dari Polresta Barelang Batam," ujarnya.

Saat itu, ia mengaku jika Hendri yang merupakan kakaknya tersebut masih terlihat baik-baik saja dan masih sempat melambaikan tangan kepada ibu mereka.

"Lalu, seharian itu kami tidak tahu kabar abang saya. Selanjutnya, keesokan hari-nya tepat pada tanggal 8 Agustus sekitar pukul 13.00 Wib dan petugas kepolisian datang kerumah abang saya untuk menjemput istri dari abang saya dengan alasan bahwa abang saya bisa dijumpai," jelasnya.

Lantas, istri dan paman Hendri serta kakak kandung dari Mega pun berangkat menuju Polresta Barelang. Sesampainya disana, mereka pun diberi kabar jika Hendri sudah meninggal dunia.

"Selanjutnya istri abang saya bersama paman dan kakak kandung saya berangkat menuju Polresta Barelang, setelah menunggu lama istri dan paman saya dipersilakan masuk ke ruangan Kanit Reskrim-nya. Di sana beliau mengabarkan bahwa abang saya sudah meninggal dunia," ucapnya.

"Dari surat kematian yang saya terima bahwa beliau meninggal pada pukul 07.13 Wib. Tapi, kejanggalan yang kami terima kenapa kami diberitakan untuk menjenguk abang saya. Meninggal pagi, tapi pihak keluarga mengetahui siang hari," sambungnya.

Mengetahui kabar tersebut, ia pun langsung mendatangi salah satu rumah sakit tempat abangnya tersebut berada.

"Kami datang ke Rumah Sakit Budi Kemuliaan kepala Abang saya di wrapping, ada apa? Kenapa? Badan Abang saya memar-memar. Saya berharap adanya Keadilan di Negeri. Tidak peduli apa yang abang saya lakukan, jika salah semua ada jalur hukum-nya. Pergi dengan keadaan sehat, lalu diberitakan bahwa abang saya meninggal dunia," ungkapnya.

Sementara itu, Kabid Humas Polda Kepualaun Riau Kombes Harry Goldenhart Santoso mengatakan, hasil autopsi Hendri langsung diserahkan ke Polresta Barelang.

"Kalau untuk masalah hasil visum autopsi silakan ke dokter yang memberikan autopsi ya. Karena kita serahkan ke Polresta yang menjawab," ujar Harry saat dikonfirmasi merdeka.com.

Lalu, terkait wajah Hendri yang ditutup dengan plastik tersebut. Ia mengaku, tak tahu terkait hal itu.

"Enggak tahu saya, itukan prosedurnya, kan yang bersangkutan itu dibawa ke rumah sakit dalam kondisi sesak nafas, karena memiliki asma dan ditangani oleh rumah sakit," ujarnya.

"(Jadi dari rumah sakit diplastik) Iya, silakan konfirmasi ke rumah sakit agar lebih jelas," tutupnya.

Rekomendasi