Pemerintah Kota Bekasi mencatat kawasan kumuh di wilayahnya mencapai 445 hektare. Namun kawasan yang tersebar di 112 titik ini mulai ditata tahun ini menggunakan anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) di Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR).
"Tahun ini ada tujuh titik, tahun depan tujuh titik lagi yang ditata," kata Anggota DPR Intan Fitriana Fauzi di Bekasi, Selasa (17/12).
Tujuh titik yang telah ditata tahun ini dengan dana sebesar Rp14 miliar antara lain Kelurahan Kalibaru, Harapan Mulya, Margamulya, Margahayu, Jatisari, Mustikasari dan Harapan Baru dengan luas mencapai 100 hektare.
"Tahun depan Kelurahan Jatisari, Margamulya, Jatiranggan, Kalibaru, Harapanmulya, Jatiluhur dan Medansatria," ucap politisi Partai Amanat Nasional (PAN) ini.
Intan menerangkan, setiap titik menghabiskan dana Rp2 miliar. Dana tersebut bersumber dari APBN di Kementerian PUPR melalui program kotaku (kota tanpa kumuh), di mana setiap kelurahan mendapatkan alokasi dana sebesar Rp2 miliar.
"Skema pekerjaannya adalah pemberdayaan masyarakat, pemerintah daerah hanya menunjuk titik yang ditata berdasarkan SK wali kota, kemudian yang mengerjakan adalah masyarakat setempat diawasi petugas dari Kementerian PUPR," kata Intan.
Intan menambahkan, salah satu contoh penataan kawasan kumuh di Kelurahan Harapanmulya, Kecamatan Medansatria. Kawasan lebih dari lima hektare dengan kondisi lingkungan padat penduduk ini telah berubah menjadi kawasan bersih.
Sejumlah penataan di kawasan kumuh mulai dari sanitasi, drainase lingkungan, jalan paving blok, kolam resapan, sumur artesis untuk kebutuhan air bersih di kawasan yang telah ditata tersebut.
"Setelah ditata ini, perilaku masyarakat yang harus diubah, supaya kawasan tetap bersih," ujar Intan yang sekarang duduk di Komisi IX.
Ia menunjuk salah satu contoh penataan kawasan kumuh di Kelurahan Harapanmulya, Kecamatan Medansatria. Menurut dia, kawasan lebih dari lima hektare itu kondisi lingkungan padat penduduk. Sebelum ditata, kata dia, ada saluran air terbuka dimanfaatkan oleh penduduk setempat sebagai tempat buang air besar.
"Sekarang saluran itu ditutup menggunakan box culvert, di atasnya dipakai akses jalan lalu dicat warna-warni. Setelah ditata ini harus dijaga, terutama perilaku masyarakat harus diubah supaya lingkungan tetap bersih," ujar politisi asal PAN ini.
Lurah Harapanmulya, Kecamatan Medansatria, Kota Bekasi, Rena Nurwanginten mengatakan, setelah ada penataan kawasan kumuh di wilayahnya, banjir yang kerap terjadi di titik tersebut menjadi berkurang. Sebab, selain ada perbaikan saluran, juga dibuatkan kolam resapan air.
"Kondisi lingkungan sekarang jauh lebih baik dari sebelumnya," ujar dia.