Salah seorang anggota komplotan penembak tiga pekerja proyek jembatan di Musi Banyuasin, Sumatera Selatan, menyerahkan diri. Polisi masih memburu empat pelaku termasuk eksekutor.
Pelaku yang menyerahkan diri adalah Panji Ahmad Akbar (19) warga Desa Muara Punjung, Kecamatan Babat Toman, Musi Banyuasin. Atas kemauan sendiri, dia meminta diantar keluarganya ke Mapolsek Babat Toman, Minggu (29/9) malam.
Kabid Humas Polda Sumsel Kombes Pol Supriadi mengungkapkan, dari pemeriksaan, tersangka mengakui terlibat dalam aksi kejahatan itu bersama empat pelaku, SD, AM, AS, dan RI. Namun, tersangka berdalih hanya diajak dan bertugas mengadang para korban dari belakang tenda.
"Satu tersangka sudah menyerahkan diri tadi malam. Dia mengaku hanya diajak, tapi turut terlibat," ungkap Supriadi, Senin (30/9).
Tersangka menyebut senjata api rakitan yang digunakan dipersiapkan oleh SD dan AS. Mereka membawa dua pucuk senpi rakitan laras dan sepucuk laras panjang. Sementara pelaku penembakan para korban adalah AM.
"Tadi malam kami gerebek lokasi persembunyian para pelaku, tapi mereka tidak ada di tempat. Kami hanya temukan dua perahu," kata dia.
Saat kejadian, pelaku langsung menembak para korban begitu dibangunkan dari tidur. Korban Yulius Patra Kurniawan (35) dan Tarmizi (35), tewas di tempat. Sementara korban Sayuti (61) mengalami kekerasan fisik.
"Para pelaku membawa dua unit sepeda motor, dua HP, jam tangan, dompet, dan senter. Kerugian ditaksir Rp 30 juta," kata dia.
Diberitakan sebelumnya, perampokan sadis dialami pekerja PT Pinago Utama yang tengah mengerjakan proyek jembatan (sebelumnya tertulis saluran air) di Desa Sugi Waras, Kecamatan Babat Toman, Musi Banyuasin, Sabtu (21/9) dini hari. Korban tewas adalah Yulius Patra Kurniawan (35) dan Tarmizi (35).
Kejadiannya ketika korban tengah tidur bersama rekannya, Sayuti (61) di tenda sekitar proyek di Divisi 1 Blok C 27. Tiba-tiba datang empat pelaku yang semuanya membawa senjata api.
Begitu masuk tenda, para pelaku langsung menembak kedua korban. Sementara ketika menembak Sayuti, senjata api yang digunakan pelaku mendadak tidak meledak.
Sayuti terbangun dan berteriak. Takut dipergoki warga, pelaku mengikat tangan sambil mengancam membunuh jika berontak. Para pelaku leluasa mengambil barang-barang korban, seperti sepeda motor dan uang.