Cerita pria 69 tahun pantang menyerah cari mantan istri & anak korban gempa Palu

Leman (69), warga Makassar yang sehari-harinya berprofesi sebagai musisi tampak serius memelototi daftar nama yang tertempel di papan pengumuman posko penampungan pengungsi korban gempa dan tsunami Palu, di Asrama Haji Sudiang, Makassar. Dia berharap nama mantan istri, anak-anak dan cucunya tertera di situ.

Salviah Ika Padmasari
Oleh Salviah Ika Padmasari - Reporter
Cerita pria 69 tahun pantang menyerah cari mantan istri & anak korban gempa Palu
Posko penampungan pengungsi di Makassar. ©2018 Merdeka.com/Salviah Ika Padmasari

Leman (69), warga Makassar yang sehari-harinya berprofesi sebagai musisi tampak serius memelototi daftar nama yang tertempel di papan pengumuman posko penampungan pengungsi korban gempa dan tsunami Palu, di Asrama Haji Sudiang, Makassar. Dia berharap nama mantan istri, anak-anak dan cucunya tertera di situ.

Ini adalah kali kedua dia menyambangi posko penampungan pengungsi korban bencana alam di wilayah Sulawesi Tengah itu. Pada kedatangan pertama, dia tak menemukan nama yang diharapkannya di papan pengumuman itu.

"Saya sudah dari penampungan pengungsi yang di gedung TK Akar Panrita Mamminasata di Kelurahan Antang tapi keluarga saya tidak ada di situ. Jadi saya kembali ke asrama haji ini, siapa tahu sudah ada, karena pengungsi masih terus berdatangan. Tapi di antara ribuan nama-nama itu, tidak ada nama mereka," tutur Leman, lelaki tua berambut gondrong yang nyaris memutih semua itu.

Dia menyebut nama mantan istrinya adalah Megawati, (44), dua anaknya yakni Okiana (25) dan Seprinder (18), serta dua cucu dari Okiana yang juga telah bercerai dengan suaminya yang dia sendiri belum tahu siapa namanya.

Dia hanya berharap kalau cucunya itu menggunakan nama Leman sehingga mudah dikenali. Leman merasa kemungkinan istrinya dan anak-anak yang terpisah sejak 13 tahun karena cerai itu jadi korban tsunami karena rumah mereka berada di sekitar Pantai Talise, Kabupaten Palu Timur, Sulawesi Tengah.

Posko penampungan pengungsi di Makassar ©2018 Merdeka.com/Salviah Ika Padmasari

"Saya berharap mereka selamat dari tsunami itu jadi saya terus berusaha mencari siapa tahu mereka ada di antara pengungsi yang masuk ke Makassar ini. Kalau ternyata tidak ada di Makassar, saya rencana lanjut mencari ke Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat karena di sana juga banyak masuk pengungsi melalui kalur darat," tutur Leman dengan suara terbata-bata.

Rencananya, jika di Mamuju juga tak menemukan keluarganya, Leman akan bertolak ke Palu. Namun dia akan terlebih dahulu mengumpulkan dana untuk ke sana.

Dia mengaku bercerai dengan Megawati 15 tahun silam atau tahun 2003 lalu. Dari Megawati, Leman memiliki enam orang anak yang kini telah tinggal di Jakarta, Balikpapan dan juga di Makassar. Sementara dua anaknya yang lain yakni Okiana dan si bungsu, Seprinder, ikut Megawati ibunya merantau dan merangkai hidup baru di Palu.

Tahun 2016 lalu, dia sempat menelepon Okiana putrinya dan mengajaknya untuk kembali ke Makassar namun tidak diberi izin oleh ibunya. Leman kecewa tapi tetap bersyukur karena saat itu diketahui penghidupan mantan istri dan anak-anaknya tidak kekurangan.

Mereka punya rumah di dekat Pantai Talise juga sudah punya motor meski tak diketahui pasti pekerjaan apa gerangan istrinya di sana hingga mampu membiayai anak-anak dan cucu-cunya karena Okiana juga telah ditinggal cerai suami.

"Tapi saat saya menonton tv yang menayangkan gambar bencana di Palu, saya langsung sujud dan berdoa semoga istri dan anak-anak selamat. Mereka masih istri dan darah daging saya," tutup Leman.

Rekomendasi