Iptu Anumerta Auzhar (56) gugur dalam peristiwa penyerangan Mapolda Riau oleh sekelompok terduga teroris, Rabu (16/5) lalu. Setelah 32 tahun menjalani rumah tangga bersama Auzhar, kini Erlina (51) kehilangan sosok suami yang menjadi panutan bagi keluarga. Auzhar lahir pada 9 November 1962 lalu di Kabupaten Rokan Hulu, Riau.
Saat ditemui merdeka.com di kediamannya, Jalan Bambu Kuning, Hangtuah, Kota Pekanbaru, Minggu (20/5) sore, Erlina sedang sibuk di dapur untuk menyiapkan menu berbuka puasa untuk anak-anak dan cucunya.
Dengan senyum yang ramah, Erlina mempersilakan masuk di ruangan tamu. Tampak buku surat Yasin tersusun di dalam rumah tersebut. Hari itu adalah hari kelima kepergian Auzhar. Saat itu Erlina ditemani dua anak, satu menantu dan cucu.
"Alhamarhum (Auzhar) adalah sosok suami sekaligus sahabat bagi saya. Semasa hidupnya bersama saya, dia tidak pernah meninggalkan salat, lebih banyak di masjid daripada salat di rumah," ujar Erlina membuka perbincangannya.
Di rumah berlantai dua dikelilingi tanaman bunga, Auzhar tinggal bersama istri tercinta. Tampak pula anak dan cucunya sedang duduk bersama di ruang tengah sambil menonton televisi.
Rumah tangga yang dibangun mereka selama ini dipenuhi rasa cinta dan kasih sayang sangat berkesan bagi Erlina. Selama meniti karir, dan imam baginya dan anak-anak, Auzhar merupakan sosok pria yang tidak pernah marah.
Dia hanya menegur jika anak-anaknya tidak disiplin dalam menjalani hidup. Tiga anaknya pun sudah dewasa, dua di antaranya sudah menikah dan dikarunia anak. Sedangkan satu anak gadisnya masih sendiri.
"Anak kami tiga, dua perempuan dan satu laki-laki yang paling besar. Anak pertama itu anggota kepolisian juga, sama seperti ayahnya. Sudah berumah tangga dan memiliki dua anak. Kalau anak kedua kami juga sudah berumah tangga, anaknya baru satu, dan anak kami terakhir belum menikah," kata Erlina.
Almarhum Auzhar setiap pagi berangkat dari rumah pukul 04.00 WIB untuk salat subuh. Dia sangat jarang salat di rumah, setiap hari berkeliling mencari masjid untuk menunaikan ibadah salat subuh. Setelah itu, dia langsung menuju kantornya di Mapolda Riau.
Jika tidak sedang berpuasa sunah Senin dan Kamis, Auzhar mencari sarapan. Setiap kali sarapan di luar, dia akan menghubungi Erlina melalui telepon untuk menanyakan apakah sudah sarapan atau belum.
Hal itu dilakukan Auzhar hampir setiap pagi, menu sarapannya juga diberi tahu kepada Erlina. Baik itu sarapan lontong, maupun menu lainnya. Di sela-sela sarapannya itu, Auzhar menawarkan kepada Erlina.
"Setiap Senin dan Kamis dia puasa. Tapi kalau hari lain dia sarapan di luar. Dia selalu telepon dan bilang, mau sarapan apa ma, ada makanan ini, dan segala macam menu di tempatnya makan diberi tahu. Lalu saya suruh menantu saya menjemput sarapan itu ke tempat suami saya makan, begitu setiap hari," kenang Erlina dengan senyumnya.
Erlina merasa sangat kehilangan Auzhar. Kenangan manis tak pernah dilupakannya, apalagi jika tiba 'Hari Ibu' atau hari ulang tahunnya. Auzhar selalu memberikan kejutan dengan membelikan sesuatu untuk Erlina, sebagai bentuk kasih sayang suami terhadap istri.
"Dia memang lebih memprioritaskan tugasnya sebagai polisi, tapi dia juga tak pernah lupa dengan keluarganya. Ada saja kejutan darinya, kalau hari ibu dia ucapkan, selamat hari ibu kepada saya," ucap Erlina.
Kini, Erlina tak lagi mendengar ucapan selamat hari ibu dari Auzhar. Dia juga tak lagi dapat melihat sang suami tercinta pamit setiap jam 4 pagi untuk keliling masjid menunaikan salat subuh.
Erlina dan Auzhar pergi menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci pada tahun 2003 lalu. Sosok Auzhar lebih dikenal sebagai ustaz daripada seorang polisi. Auzhar kerap mengunjungi panti asuhan anak yatim piatu miliknya bersama donatur lainnya.
Selamat jalan Iptu Anumerta Auzhar, sosok polisi yang senantiasa tersenyum dan ramah kepada siapa saja. Jasamu akan selalu dikenang anak-anak panti asuhan dan masyarakat.