Obrolan tentang sosok almarhum Aloysius Bayu Rendra Wardana begitu menarik. Entah berapa kali saya tidak menghitung berpindah tempat duduk dan bergabung dengan keluarga asyik ngobrol.
Sesekali tawa kami pecah, saat obrolan bernada mem-bully menyerang satu sama lain. Atau saat sebagian dari kami menciptakan kejutan yang membuat Tante Cyntia, teman ngeband Bayu, hingga latah terkaget-kaget.
Cyntia, pernah menjadi vokalis band indie yang dibangun bersama-sama almarhum. Bayu sendiri pemegang gitar.
Band itu dibangun saat masih belum menikah dan sama-sama menjadi aktivis, walaupun di gereja yang berbeda. Tidak jarang bandnya itu tampil di acara gereja, walupun kerap juga tapil di cafe.
"Ya grudak-gruduk bersama-sama sampai kemudian menikah. Anaknya baik, aktif di semua kegiatan," kata Cintya yang saat itu didampingi suaminya.
Malam semakin dingin, tapi menjadi hangat dengan kehadiran empat orang penjaga gereja yang selama ini dikoordinir oleh Bayu. Mereka menemani saya hingga pagi tiba.
Obrolan menjadi gayeng saat disediakan kacang dan kopi, ditambah bully-an Om Yok dan Om Jo yang membuat kami betah bertahan.
Salah satu dari para tenaga keamanan, Herman yang saat itu berjaga bersama Bayu di Gereja Santa Maria Tak Bercela. Namun Herman mendapat bagian berjaga di pintu belakang, sehingga sehingga selamat dari ledakan.
Herman mendengar ledakkan keras dan material berjatuhan dari udara. Suara itu pun terngiang-ngiang terus di telinganya.
"Saya melihat kabel listrik bergoyang sama hitam-hitam berjatuhan. Saya langsung lari ke depan. Saat itu, Mas Anom di depan teriak 'Bom Man, Bayu di depan Man' langsung ingat Mas Bayu. Saya langsung mencari mencari Mas Bayu dulu ke depan, sempat nyeberang jalan mencari," kata Herman diamini teman-temannya.
Herman mengaku mencari dengan warga sekitar yang mengenal Bayu, namun tidak menemukan. Dirinya tidak mengetahui pastinya, siapa yang mengevakuasi Bayu.
Herman sendiri mengaku langsung mengevakuasi korban-korban yang dirasa bisa diselamatkan. Dirinya tidak berani mengevakuasi yang kondisinya sudah hancur.
Seingatnya tiga orang ditolong, salah satunya Mayawati, yang kemudian meninggal dunia dan dikebumikan di Malang.
"Saya kaget waktu melihat foto-foto meninggal dunia di tempel di gereja, saya tanya ke rekan yang bekerja di kantor, ternyata benar, itu perempuan yang saya tolong, bagian tangannya luka," kisahnya.
"Saya menolong yang masih hidup tiga orang. Kalau yang meninggal di lokasi enggak berani megang. Sama polisinya satu, kalau masih hidup memang harus segera ditolong," katanya.
Herman sendiri terakhir bertemu dengan Bayu sekitar pukul 06.00 WIB di parkiran belakang. Herman datang terlebih dulu, diajak ngobrol Bayu dari atas sepeda motornya.
"Tidak ada firasat apa-apa, pagi jam 06.00 WIB ketemu saya di gereja, ngobrol. Mas Bayu di atas motor, saya kan rencana mau langsung pulang ke Tuban, sambil bawa tas besar. Ya ngobrol, "Telat yo' saya bilang 'ndak Mas'," kisah Herman.
"Karena orangnya disiplin banget, 'Nggak Mas , Aku Gak telat' Yo.. jogo belakang, yo," sambung Herman.
Sistem keamanan gereja, kata Herman dibagi menjadi tiga sif, khusus Misa Sabtu, Minggu dan Misa besar lainnya dijaga 4 orang. Mereka dari para relawan dengan berbagai profesi, termasuk polisi hingga driver Gojek. Semuanya dikoordinatori oleh Bayu.
Saat itu, Herman menggambarkan sangat tegang dan menyeramkan. Darah dan anggota tubuh ditemukan di mana-mana. Ia menceritakan betapa rekannya yang dalam kondisi terluka parah juga harus menggendong anak-anak yang luka parah. Seorang korban terluka parah juga ditemukan berlari ke belakang.
Selain asap kehitaman yang ditemukan di lokasi juga ditemukan bahas sejenis minyak, pisau lipat, cutter, silet, paku, dan pipa dari aluminium. Barang-barang itu yang menjadikan korban mengalami luka parah dan meninggal dunia.
"Nek ndelok, eling-elingen terus. Eling suaranya saja wes wedi," kata Heman yang mengaku akan tetap menjaga gereja.
Sementara teman-teman Herman, Agus dan Elok, dan lainnya menceritakan kedekatan dengan Bayu selama ini. Sering diajak ngopi bareng apalagi sejak Bayu ditunjuk menjadi koordinator keamanan gereja.
"Sebelumnya Mas Bayu, sering ke gereja. Ngedit foto-fotonya pas jadi fotografer. Waktunya banyak di gereja. Sejak jadi muda-mudi Katholik sudah sering ketemu," kata Agus yang diamini kawan-kawannya.
Kata-kata yang selalu terngiang di ingatan mereka hingga saat ini adalah ajakan ngopi bareng. Memang Bayu, kerap ngajak membeli kopi bareng untuk dinikmati secara patungan.
"Ndi rek kopine. Gak ada yang punya cita-cita tuku kopi tah," katanya menirukan.
Obrolan yang rasanya tidak ingin berhenti malam itu harus berakhir. Karena sebagian dari mereka punya jadwal jaga esok pagi, selain harus makan sahur untuk menjalankan ibadah puasa.
Ya sebentar lagi adzan Subuh, saya pun harus mencari makan sahur, kendati perut saya sudah kenyang dengan roti, kacang dan kopi yang disuguhkan. Obrolan pun sudah sangat panjang dari urusan hobi ngeband Bayu hingga ajakan gayanya ngajak ngopi.