Angka pertumbuhan industri perbankan di Jawa Tengah saat ini melampaui nasional. Menurut Deputi Direktur pengawasan LJK3 dan Perizinan OJK, Rusli Albas, hal tersebut dikarenakan semakin tingginya literasi dan inklusi masyarakat.
Rusli mengatakan, di Jawa Tengah per Februari 2018 pertumbuhan positif untuk aset mencapai 10,79 persen, kredit 9,7 persen, dan Dana Pihak Ketiga (DPK) 10,3 persen. Sementara angka nasional pertumbuhan aset hanya 9,25 persen, kredit 8,24 persen, dan DPK 9,35 persen.
"Begitu juga untuk NPL (non-performing loan), dari 3,06 persen menjadi 2,48 persen. Padahal untuk nasional 2,59 persen," jelasnya dalam launching B-Tunai Bank Bukopin di Semarang, Rabu (25/4).
Rusli mengungkapkan, salah satu bergairahnya industri perbankan di Jawa Tengah karena pertumbuhan program Laku Pandai. Hingga saat ini, tercatat ada 126.646 agen dengan jumlah nasabah mencapai 2.950.163. Jumlah tersebut menjadikan Jawa Tengah berada di posisi ketiga nasional, di bawah Jawa Barat dan Jawa Timur.
Sementara Direktur Bank Bukopin Rivan Purwantono menargetkan tahun ini ada 1.800 agen Laku Pandai. "Sampai saat ini baru ada 1.380 agen, dan 124 di antaranya ada di Jawa Tengah," paparnya.
Pembukaan B-Tunai di kawasan Sompok Semarang, menurutnya adalah yang pertama di daerah pinggiran. "Kita berupaya mengedukasi masyarakat, terutama mereka yang enggan ke bank. Kita akan fokus di pinggiran, yang di tengah mungkin hanya lima persen," ungkapnya.
Rivan mengatakan Laku Pandai di Bank Bukopin yang diberi nama B-Tunai akan bermigrasi ke digitalisasi pada bulan Juli 2018.
"Kita meminimalisasi penggunaan kertas, dengan digitalisasi, maka tidak perlu buku tabungan. Semua bisa dimonitor dengan telepon genggam. Termasuk juga pembayaran listrik, di mana Bank Bukopin adalah yang tertinggi, yakni melayani antara 10 sampai 18 juta transaksi," ungkapnya. Dengan layanan tersebut nasabah akan lebih mudah saat melakukan buka dan tarik rekening, asuransi, serta melakukan transfer.