Ketua Majelis Ulama Indonesia Kah Ma'ruf Amin mengatakan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto hanya melempar isu yang tidak jelas soal elit di Indonesia yang dianggap membohongi publik. Dia pun menantang Prabowo untuk membeberkan siapa sosok tersebut.
Menanggapi hal itu, Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Fadli Zon mengatakan Prabowo tidak harus mengungkapkan siapa tokoh yang dituju. Menurut Fadli, ucapan Mantan Danjen Kopassus itu dijadikan bahan introspeksi saja.
"Ya tidak perlu, kan bicara banyak masa harus disebut satu-satu kecuali memang kalau menyebut nama. Saya kira ini bahan untuk introspeksi terhadap kita semua," kata Fadli di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (3/4).
Dia merasa saat ini tidak sedang melakukan uji kelayakan dan kepatutan (Fit and Proper Test) pada seseorang. Karena itu Prabowo ia dianggap tidak perlu mengungkapkan siapa sosok tersebut.
"Memangnya kita sedang melakukan fit and proper test. Ini kan kayak saya bicara plonga plongo, kemudian saya harus bicara siapa plonga plongonya? Memang ini kuis atau apa? Jadi ya kalau ada yang merasa tersinggung mungkin memang dia terasa, merasa. Kalau dia terasa bukan salah saya dong," ungkapnya.
Fadli menjelaskan, yang dimaksud maling tidak hanya berupa perlakuan langsung. Salah satunya adalah pembuatan kebijakan. Elite itu bisa terbagi menjadi beberapa bagian mulai dari eksekutif, legislatif dan yudikatif.
"Indonesia ini kaya tapi banyak rakyatnya miskin, dan kekayaan itu hanya dikuasai segelintir orang dan bahkan asing gitu. Jadi itu yang akhirnya dan kebijakan itu, maling itu bukan berarti handphone terus diambil gitu, dari sisi kebijakan bisa menjadi maling," ucapnya.
Sebelumnya, Ma'ruf Amin menanggapi keras pernyataan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto yang menyebut elite di Jakarta membohongi publik. Ma'ruf mengatakan, Prabowo hanya melempar tuduhan yang tidak jelas.
Mantan anggota Dewan Pertimbangan Presiden Bidang Hubungan Antar Agama ini menekankan, Prabowo harus menyebut nama tokoh elite di Jakarta yang membohongi publik. Sehingga tidak ada spekulasi muncul yang nantinya malah menimbulkan kegaduhan nasional.
"Orangnya mana? Tunjuk saja yang bohongi publik mana gitu loh. Tunjuk nama, tunjuk hidung saja," tegasnya di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Senin (2/4).