Deklarasi dukungan Bara JP (Barisan Relawan Jokowi for Presiden) pada Sabtu (3/3) lalu dinilai menjadi bukti pemilih loyalis Joko Widodo di Jawa Timur akan tertuju untuk pasangan calon Gubernur-Wakil Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa-Emil Elistianto Dardak. Lewat dukungan dari Relawan Bara JP dianggap akan menarik dukungan masyarakat untuk pasangan Khofifah-Emil.
Pengamat Politik Universitas Airlangga (Unair), Airlangga Pribadi Kusman menyebut langkah presiden tidak berpihak pada pasangan manapun juga disebut sudah sesuai dengan regulasi dan sikap netralitas sebuah lembaga negara.
"Presiden sudah benar tidak menyatakan diri berpihak pada salah satu paslon secara langsung namun masuknya Bara JP ke kubu Khofifah adalah sinyal kuat bagi dukungan kekuatan sosial presiden ke kubu Khofifah," katanya saat dihubungi, Senin (5/3).
Sebaliknya, pernyataan Ketua Tim Pemenangan, Ahmad Basarah bahwa Presiden mendukung salah satu calon disebut mencoreng citra lembaga tertinggi negara di mata masyarakat. Dalam Pilkada suara dukungan mutlak dari masyarakat tanpa intervensi dari lembaga negara.
"Menyatakan secara terbuka dukungan presiden terhadap kandidat pada saat kampanye itu statemen tidak elok. Itu adalah pernyataan untuk downgrading presiden, seperti menyatakan kepada publik bahwa presiden intervensi dalam momen pilgub yang seharusnya menghormati suara rakyat," terang Airlangga.
Doktor dari Murdoch University Australia ini menjelaskan saat masa kampanye adalah momen setiap pasangan meraih simpati masyarakat dengan adu program setiap pasangan.
"Sekarang adalah momen kampanye saatnya meraih hati dan pikiran rakyat dengan kekuatan visi misi dan kapasitas elite," ucapnya.
Dia menyebutkan pernyataan tim pasangan Gus Ipul-Puti soal dukungan dari presiden membuktikan lemahnya kompetensi kandidat dan tim untuk meraih simpati masyarakat. Selain itu, hal tersebut menunjukan tidak layaknya seorang kandidat tampil sebagai pemimpin Jawa Timur.
"Ketergantungan kandidat terhadap dukungan presiden memperlihatkan lemahnya confident dari calon tersebut terhadap kekuatan konsepsi dan kapasitas dari pasangan maupun tim untuk mandiri dalam merebut hati dan pikiran konstituen," ujarnya.