Di Kartu Tanda Penduduk elektronik atau e-KTP milik warga Baduy, yang baru saja dicetak oleh Dirjen Dukcapil, tidak ada nama agama tertulis dalam kolom agama. Termasuk juga Sunda Wiwitan yang diinginkan oleh warga Baduy tak tercamtum dalam kolom agama e-KTP mereka.
Hal tersebut diketahui setelah Dirjen Dukcapil melakukan perekaman dan pencetakan e-KTP di lingkungan Baduy di Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak. Dirjen Dukcapil Kemendagri Zudan Arif Fakrulloh menuturkan, dikosongkannya kolom agama di e-KTP warga Baduy karena pencantuman kepercayaan Sunda Wiwitan masih menunggu ketetapan presiden.
Namun diperkirakan, keinginan warga Baduy mencantumkan nama Sunda Wiwitan di kolom agama e-KTP mereka tidak akan terjadi. Kemungkinan akan diisi dengan keterangan penganut kepercayaan Tuhan yang maha esa.
"Jadi nama Sunda Wiwitannya enggak ditulis, kan banyak di Indonesia seperti di sini. Bentuk nya sama, tapi nanti polanya ada ditulis agama/kepercayaan lalu titik dua, atau agama titik dua lalu di bawahnya kepercayaan titik dua. Nah kalau agama yang diisi kepercayaanya enggak, kalau kepercayaannya yang diisi agamanya dicoret," kata Zudan setelah penyerahan simbolis e-KTP, di Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Senin (19/2).
KTP warga Baduy ©2018 Merdeka.com/Dwi Prasetya
Menurut Zudan, jika Presiden Jokowi sudah menetapkan penulisan kepercayaan di e-KTP, pemerintah akan melakukan pencetakan ulang. Namun Zudan kembali menegaskan tidak ada keterangan Sunda Wiwitan dalam kolom itu, tapi penganut kepercayaan Tuhan yang maha esa.
"Kalau sudah rekam, tinggal cetak kan cepat," katanya.
Sementara itu, salah tokoh adat Baduy Dalam Ayah Mursid menjelaskan, warga Baduy sudah lebih dari 10 tahun berharap agar Sunda Wiwitan bisa tercantum dalam kartu identitas penduduk.
"Sudah minta ke pemerintah Lebak, Provinsi, Pusat juga," kata Ayah Mursid.
Menurut Ayah Mursid, masyarakat Baduy kukuh ingin nama Sunda Wiwitan yang tercantum di kartu identitas, bukan nama lain, termasuk bukan penganut kepercayaan terhadap Tuhan yang maha esa.
"Lebih baik kosong dari pada enggak Sunda Wiwitan, kalau saudara-sudara yang lain ingin gitu enggak apa-apa, kalau warga Baduy mah tetap," ujarnya.
Berdasarkan data yang dihimpun, selama sepekan, sekitar 1.800 warga Baduy Dalam dan Luar yang melakukan perekaman. Dari total 5.300 warga Baduy masih sekitar 1.000 warga yang belum melakukan perekaman.