Komandan Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPN-PB) Hendrik Wanmang angkat bicara pada media Australia soal penyanderaan di Dusun Banti dan Utikini, Tembagapura. Dia membantah sengaja menargetkan warga kampung untuk disandera.Menurut Hendrik warga kampung tak sengaja terjebak karena dua dusun itu berada dekat wilayah konflik. Walau begitu dia mengaku belum mengizinkan warga non-Papua meninggalkan dusun tersebut."Saya masih mempertimbangkan bagaimana mengeluarkan mereka dari sana," kata Hendrik kepada media Australia Fairfax dan dikutip Sidney Morning Herald, (12/11) kemarin.Alasan Hendrik jika orang-orang non-Papua diizinkan keluar, dia takut TNI dan Polri akan melakukan serangan dan jatuh korban warga sipil."Saya tak ingin ada korban," katanya.Hendrik juga mengatakan pada media Australia mereka adalah pejuang yang memperjuangkan kemerdekaan tanah mereka.Sementara itu aparat Polri dan Polri terus berusaha untuk mengakhiri penyanderaan di Tembagapura. Mereka telah menyebarkan pamflet yang meminta anggota kelompok bersenjata itu meletakkan senjata dan menyerah.Kapolda Papua Irjen Pol Boy Rafli Amar juga meminta KKB berhenti melakukan perbuatan melanggar hukum seperti pengancaman, penganiayaan, perampokan, penjarahan, pemerkosaan, pembunuhan dan perbuatan kriminal lainnya.Saat ini TNI dan Polri memperkirakan ada sekitar 35 anggota kelompok ini yang bersenjata api lengkap. Mereka menyandera sekitar 1.300 warga sipil di dua dusun ini.Aparat akan ambil tindakan tegasKapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian menegaskan tindakan tegas akan diambil aparat TNI bersama Polri bila langkah persuasif mengalami jalan buntu."Kita juga mempersiapkan pasukan Polri dan TNI di sana, dan saya sudah diskusi dengan Panglima TNI, nantinya ketika langkah persuasif tidak bisa ketemu atau deadlock maka tidak ada jalan lain dimana negara perlu melakukan tindakan-tindakan dalam rangka menegakkan kembali ketertiban dan keamanan, serta menegakkan hukum," kata Tito di Ambon, Senin (13/11).Sejauh ini aparat keamanan masih menggunakan pendekatan persuasif terhadap kelompok kriminal bersenjata (KKB) yang menyandera 1.300 warga sipil pada daerah Utikini dan Banti, termasuk adanya indikasi menyandera karyawan PT Freeport Indonesia.Kelompok kriminal bersenjata ini juga dilaporkan telah melakukan pengrusakan fasilitas jalan raya dari Utikini menuju Banti dengan menggunakan peralatan berat milik PT Freeport yang bertujuan menghambat atau memutuskan jalur transportasi darat."Berkaitan dengan masalah Papua sendiri, memang ada dinamika kelompok kriminal bersenjata yang ada di daerah Tembagapura, yaitu di Desa Utikini dan Banti. Saya mantan Kapolda Papua selama dua tahun saat daerah itu belum dimekarkan," tandasnya.Sehingga Tito menyatakan memahami betul kelompok-kelompok ini yang motif utamanya adalah ekonomi. Karena itu Polri dan TNI masih menggunakan pendekatan kesejahteraan dan langkah persuasif, serta negosiasi yang dikedepankan guna mencari solusi dan mendekati tokoh-tokoh masyarakat, tokoh adat serta tokoh gereja."Namun bila langkah persuasif ini mengalami deadlock maka Polri bersama TNI akan mengambil langkah tegas untuk menegakkan keamanan dan ketertiban masyarakat," tegasnya.
Pengakuan Komandan Tentara Papua Barat yang kepung warga di Tembagapura
Pengakuan Komandan Tentara Papua Barat yang kepung warga di Tembagapura. Dia membantah sengaja menargetkan warga kampung untuk disandera. Menurut Hendrik warga kampung tak sengaja terjebak karena dua dusun itu berada dekat wilayah konflik.Walau begitu dia mengaku belum mengizinkan warga non-Papua meninggalkan dusun.
Advertisement
Rekomendasi