Menlu Retno minta Interpol pantau pergerakan radikalisme di medsos

Menlu Retno minta Interpol pantau pergerakan radikalisme di medsos. "Perkembangan teknologi informasi adalah ancaman lain yang membuka kesempatan, tapi juga membuat ancaman seperti penipuan dan kejahatan cyber, situs web jadi alat yang efektif untuk menyampaikan informasi." kata Retno.

Juven Martua Sitompul
Oleh Juven Martua Sitompul - Reporter
Menlu Retno minta Interpol pantau pergerakan radikalisme di medsos
Sandera Abu Sayyaf. ©2016 merdeka.com/arie basuki

Menteri Luar Negeri (Menlu), Retno LP Marsudi, meminta Interpol mewaspadai perkembangan teknologi informasi di era digital. Sebab, perkembangan teknologi memberi kesempatan seseorang atau kelompok untuk melakukan kejahatan."Perkembangan teknologi informasi adalah ancaman lain yang membuka kesempatan, tapi juga membuat ancaman seperti penipuan dan kejahatan cyber," kata Retno di Bali Nusa Dua Convention Center, Kamis (10/11).Selain penipuan dan kejahatan cyber, diungkapkan Retno, media sosial juga kerap dijadikan alat oleh kelompok radikal untuk melakukan propaganda bahkan perekrutan anggota."Situs web jadi alat yang efektif untuk menyampaikan informasi," ujar dia.Oleh karena itu, Retno berharap Interpol bisa memfasilitasi Indonesia bekerja sama dengan negara lain atau lembaga penegak hukum lainnya untuk mengantisipasi ancaman-ancaman tersebut."Ini juga disebutkan Jusuf Kalla dalam sambutan. 20.000 personel dari macam macam negara. Melalui ini Indonesia ingin meningkatkan kapasitas melalui Interpol," ucapnya.Sebelum menutup pidatonya, di hadapan 167 negara yang merupakan anggota Interpol, Retno mengucapkan selamat atas keberhasilan gelaran sidang umum Interpol ke 85. Ditegaskan dia, Indonesia siap bekerjasama dengan negara-negara Interpol untuk menghadapi ancaman Internasional."Selamat pada Interpol telah melaksanakan sidang umum dengan sukses. ‎Indonesia siap bekerjasama dengan negara lain menghadapi ancaman bersama. Terima kasih," pungkas Retno.

Rekomendasi