PON Jabar banyak kisruh di mana-mana, KONI malah beri nilai 9

PON Jabar banyak kisruh di mana-mana, KONI malah beri nilai 9. Selasa kemarin, hastag #PonJabarKacau menjadi trending topik di media sosial twitter. Hastag #PonJabarKacau menempati posisi kedua trending topik Twitter Indonesia.

Hery H Winarno
Oleh Hery H Winarno - Reporter
PON Jabar banyak kisruh di mana-mana, KONI malah beri nilai 9
PON Expo Jabar 2016. ©2016 merdeka.com/istimewa

Pekan Olahraga Nasional (PON) besok akan resmi ditutup. Namun pelaksanaan PON ke XIX di Jawa Barat itu dinilai banyak amburadulnya. Banyak pihak tidak puas dan menyebut penyelenggaraan PON tahun ini kacau balau.Bahkan Selasa kemarin, hastag #PonJabarKacau menjadi trending topik di media sosial twitter. Hastag #PonJabarKacau menempati posisi kedua trending topik Twitter Indonesia.Pesta olahraga empat tahunan tersebut diwarnai dengan banyak insiden kericuhan. Mulai dari kebijakan wildcard bagi atlet Jawa Barat, intimidasi terhadap wartawan hingga perkelahian di tengah arena pertandingan.Bahkan panitia penyelenggara atau Pengurus Besar (PB) PON XIX/Jabar baru saja memecat salah satu juru bicaranya, Maria Selena. Mantan Putri Indonesia 2011 ini dinilai hanya sebagai pemanis, serta tidak memahami seluruh isi pertandingan. Alhasil, posisinya digantikan Perry Soeparman."Resmi diganti, hasil evaluasi sekarang posisi juru bicara Pak Perry," kata Ketua Harian Umum PB PON XIX/2016 Jabar, di Bandung, Rabu (21/9). Perry sendiri saat ini merupakan Kepala Inspektorat Jabar.Sejumlah wartawan yang meliput langsung ajang ini merasakan sulitnya memperoleh keterangan langsung mengenai PON dari Maria Selena."Diminta nomor telepon oleh wartawan enggak mau, bahkan ngomong soal kondisi PON terbaru pun enggak bisa. Padahal isu PON ini butuh juru bicara yang optimal," kata Ovi, wartawan harian di Bandung.Tak hanya soal juru bicara, protes serupa juga disampaikan sembilan kontingen atlet berkuda. Mereka merasa keberatan terhadap kebijakan panitia penyelenggara untuk memberikan wildcard terhadap seluruh atet berkuda asal Jawa Barat menuai protes.Fasilitas Wildcard tersebut membuat 10 kuda yang akan dipertandingkan melenggang dalam lima nomor langsung ke babak final tanpa melalui penyisihan. Aturan ini tercantum dalam buku petunjuk teknis atau Technical Hand Book (THB) Cabang Olahraga Berkuda.

Sembilan kontingen yang menolak wildcard tersebut berasal dari DKI Jakarta, Jawa Timur, Sulawesi Utara, Riau, Sumatera Barat, Sulawesi Barat, Kalimantan Selatan, Kalimantan Barat, Nusa Tenggara Timur dan Nusa Tenggara Barat.Sayangnya, protes tersebut dianggap angin lalu oleh panitia. Mereka beralasan, aturan itu sudah tercantum jelas dalam buku petunjuk, sehingga tidak memungkinkan untuk dihapus atau ditinjau ulang. Mereka juga menyebut hal itu sudah disetujui Gubernur Jawa Barat sekaligus Ketua Umum PB PON XIX/Jabar, Ahmad Heryawan."Kan keputusan akhirnya di Technical Hand Book. Kalau memutuskan tidak, sudah jelas tidak bisa dipaksakan," ungkap Wakil Ketua III PON XIX/2016 Rudi Gandakusuma, merdeka.com, Senin (19/9).Perkelahian juga ikut mewarnai PON XIX Jabar. Di mana sejumlah atlet polo air, mereka berkelahi di tengah arena, hingga merembet ke area penonton.Kejadian itu membuat PB PON XIX/2016 Jabar mengevaluasi kericuhan yang terjadi selama pertandingan PON berjalan hampir sepekan. Kericuhan mencolok terjadi saat cabang olahraga polo air bertanding di kolam renang Stadion Si Jalak Harupat, Kabupaten Bandung pada Senin (19/8) kemarin."Kami panitia akan melakukan perbaikan khususnya pada Ketua Sub PB PON Kabupaten Bandung terutama yang mengundang pertandingan dengan penonton yang resistensinya tinggi," kata Ketua Harian PB PON Jabar Iwa Karniwa, di Bandung, Selasa (20/9).Keluhan tak hanya terjadi di area pertandingan. Di luar arena, sejumlah peserta PON expo 2016 di Jawa Barat mengaku kecewa dengan panitia. Proposal yang ditawarkan tidak sesuai dengan kenyataan. Bahkan lokasi pameran sangat sepi pengunjung."Baru kali ini kami mengikuti Expo (pameran) tingkat nasional yang sangat mengecewakan, bahkan bikin frustasi," ujar peserta expo dari Ditjen Bimas Islam Kementerian Agama, Tobib Al Asyhar, Senin (19/9).

Menurutnya, pada proposal penawaran yang ditandatangani Gubernur Jawa Barat, Ahmad Heryawan, dikemas dengan desain dan rencana sangat menarik. Jumlah stand yang direncanakan ada ratusan dengan beragam acara penunjang yang menarik.Lokasi pameran berada di lapangan TVRI Cibaduyut yang jauh dari pusat keramaian. Untuk menempuhnya dengan jalan sempit karena hanya bisa dilalui dua jalur mobil. Padahal peserta diharuskan membayar Rp 18 juta untuk sewa stand, belum lagi harus membuat dekor stand yang biayanya cukup mahal.Sebagai konsekuensi dari lokasi tersebut, lanjutnya, pengunjung datang sepi bahkan bisa dibilang tidak ada yang peduli. Saat pembukaan oleh istri gubernur sangat sepi pengujung, bahkan panitia kelimpungan cari warga untuk ikut duduk di kursi acara. Para penyewa stand banyak yang mengeluh. Mereka datang dari Solo, Kebumen, Semarang, Jakarta, bahkan ada dari Sulawesi Selatan.Kondisi ini diperparah dengan EO atau penyelenggara tidak profesional, tidak responsif dan tidak memiliki tanggung jawab. "Karena lokasi yang becek seperti sawah tidak ada upaya EO untuk sekedar tutup dengan pasir atau koral sehingga pengunjung nyaman," ungkapnya.Namun meski banyak kekacauan, Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) menyebut penyelenggaraan PON tahun ini terbilang baik. Bahkan KONI mengganjar Jabar dengan nilai sembilan untuk PON tahun ini.Hal itu disampaikan Ketua Umum KONI Pusat Tono Suratman, pada merdeka.com, usai menggelar jumpa persnya di Media Centre PON Jabar, di The Trans Luxury Hotel, Rabu (28/9)."Saya bukan karena saya, sebagai ketua KONI yang ada di sini. Saya melihat segala dinamika yang ada masih dalam batas wajar. Penilaian saya di antara 8,5 sampai sembilan ya," kata Tono.Dia mengatakan, sehari jelang penutupan PON Jabar, laporan dari 16 kabupaten/kota sebagai daerah tempat dilangsungkannya cabang olah raga bertanding berjalan dengan lancar. Tono juga menyampaikan, komandan kontingen dari gubernur masing-masing provinsi menilai penyelenggaraan PON Jabar mengalami peningkatan dibandingkan PON Riau.

"Dari komandan kontingen, Gubernur di Indonesia yang mengatakan bahwa PON Jabar semakin maju dan terasa marwah persatuannya. Walaupun ada riak-riak , tapi itu merupakan hal yang dimaklumi," ungkapnya.Dia menambahkan, beberapa catatan yang saat ini dinilai kurang tentu akan dievaluasi pada PON XX/2020 di mana Papua bertindak sebagai tuan rumah."Kita sudah melaksanakan langkah-langkah dan panpel untuk melakukan evaluasi dan saran baik dari official," tandasnya. Salah satu parameter yang disampaikan untuk suksesnya PON ini di antaranya adalah berkurangnya jumlah gugatan ke dewan hakim.Dia menambahkan, ada 42 gugatan yang masuk ke dewan hakim saat kejuaraan PON di Riau 2012 lalu. Sedangkan Jabar relatif jauh lebih rendah dengan sembilan gugatan."Pelanggaran kalau di Riau jumlahnya mencapai 42, sedangkan Jabar hanya sembilan. Ini semua dapat diselesaikan dengan musyawarah. Kalau ada hal yang dilakukan itu bisa diselesaikan dengan baik," ucapnya.Tolak ukur suksesnya PON Jabar juga yakni pecahnya beberapa rekor di mana per hari kemarin sudah 66 rekor diciptakan dari berbagai cabang olah raga. Rekor itu juga memecahkan rekor PON di Riau 2012 lalu. Rekor pecah didominasi dari cabang renang."PON ini kami sangat puas melihat adanya pemecahan prestasi dan rekor nasional yang bermunculan dari atlet remaja, atletik dan cabang lainnya. Sehingga hasil ini bisa jadi bahan pelatnas jangka panjang," katanya.Dia menggarisbawahi bahwa PON ini bukan semata berapa medali yang diraih dari tiap kontingen. Tapi lebih dari itu, tujuan utamanya adalah mengembalikan marwah olah raga nasional untuk bisa bersaing di jenjang lebih tinggi."Kami hanya menggarisbawahi PON adalah marwah olah raga. Bukan berapa medali direbut. Tapi ini membangun karakter untuk Indonesia," tandasnya.Di hari terakhir pertandingan, Jabar sendiri mengukuhkan dominasinya dengan torehan 528 medali di mana 216 emas, 154 perak dan 158 perunggu. Adapun Jatim dan DKI Jakarta menguntit di bawahnya dengan raihan 384 dan 366 medali.

Rekomendasi