Puluhan ribu sapi dan kambing di sembelih umat muslim di Tanah Air saat perayaan hari raya Idul Adha. Namun, tidak semua daerah di Nusantara memilih sapi sebagai kurban favorit.Bagi warga di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah dan Kabupaten Pandeglang, Banten, kerbau lebih diminati untuk kurban maupun hidangan sehari-hari.Warga Kabupaten Pandeglang, sudah turun temurun terbiasa mengonsumsi daging kerbau, terutama menjelang Idul Adha dan Idul Fitri. Warga hingga kini tidak terlalu suka memakan daging sapi atau jenis ternak lainnya."Warga Pandeglang terbiasa mengonsumsi daging kerbau, kami akan berupaya mengubahnya agar mau makan daging sapi," kata Sekretaris Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakeswan) Kabupaten Pandeglang, Winarno di Pandeglang, seperti dikutip dari Antara, Rabu (24/9) lalu.Winarno menyatakan, dengan terus disosialisasikan bahwa daging sapi sama dengan kerbau dan populasinya ditambah, optimis ke depan warga akan mau memakan daging hewan itu.Karena tingginya permintaan daging kerbau, kata dia, harganya pun relatif mahal, yakni pada hari biasa mencapai Rp 90 ribu hingga Rp 95 ribu per Kg. Sedangkan ketika hari raya mencapai Rp 120 ribu per Kg.
Warga Pandeglang, kata dia, enggan membeli daging sapi walaupun harganya relatif lebih murah. Untuk mengubah kebiasaan itu, Disnakeswan saat ini terus mendorong peternakan sapi dan pemeliharaan sapi oleh masyarakat.Para pedagang daging di Kabupaten Pandeglang juga mengaku enggan menjual daging sapi karena kurangnya minat dari masyarakat."Kurang laku, jadi kami malas jual daging sapi. Warga lebih memilih beli daging kerbau walaupun harga relatif lebih tinggi," kata Siti, pedagang daging di Pasar Badak, pasar tradisional terbesar di Kabupaten Pandeglang.Dia menyatakan pernah menjual daging sapi saat menjelang Idul Fitri, namun dari 50 kg yang disediakan hanya laku setengahnya, sisanya dilelang pada penjual bakso. "Terpaksa saya jual ke pedagang bakso, makanya sekarang saya gak mau menjual daging sapi lagi," katanya.Sebenarnya, kata dia, saat harga daging kerbau tinggi, sering juga pemerintah daerah melakukan operasi pasar daging, dengan menyediakan daging sapi, dengan harga relatif murah, tapi sepertinya kurang peminatnya."Yang saya tahu beberapa kali ada operasi pasar daging, tapi kurang peminat karena warga tidak terlalu suka dengan daging sapi, mereka tetap saja datang ke pasar untuk membeli daging kerbau, walaupun mahal," ujarnya.Lalu apa alasan warga Pandeglang lebih suka mengonsumsi daging kerbau dibanding dengan daging sapi?
Advertisement
Iyus, warga Kecamatan Karangtanjung menyatakan tidak terlalu suka makan daging sapi karena rasanya tidak seenak daging kerbau. "Saya pernah beli daging sapi, dan menurut saya rasa tidak seenak daging kerbau, maka tidak mau lagi beli, mungkin karena tidak biasa kali," katanya.Winarno juga menyatakan, selama ini bantuan sapi dari pemerintah Provinsi Banten dan Kementerian Pertanian sering diberikan pada warga setempat.Dengan seringnya bantuan itu, kata dia, diharapkan akan menumbuhkan minat warga untuk memelihara sapi. Selama ini masyarakat Pandeglang lebih tertarik memelihara kerbau.Sementara itu Kepala Seksi Masyarakat Veteriner Disnakeswan Pandeglang Onah menyatakan, pada hari biasa kebutuhan sapi/kerbau di daerah itu hanya sekitar 90 ekor hingga 110 ekor per hari, tapi menjelang Idul Fitri bisa mencapai 300 ekor hingga 350 ekor."Untuk Idul Fitri tahun ini, berdasarkan laporan dari kecamatan jumlah kerbau/sapi yang dipotong 300 ekor, dan masih ada kemungkinan yang tidak tercatat, jadi kalau riilnya, saya kira mencapai 350-an ekor," ujarnya.Dari 300 ekor yang terdata, lanjut dia, sebagian besar atau mencapai 222 ekor merupakan kerbau, dan hanya 78 ekor sapi.
Bupati Pandeglang Erwan Kurtubi menyatakan kebutuhan daging di daerah itu akan terus meningkat, seiring bertambahnya jumlah penduduk dan meningkatnya daya beli warga. "Pasti akan meningkat, karena warga bertambah dan daya beli meningkat, karena itu saya minta dinas/instansi terkait terus mengembangkan ternak, dan jangan hanya terfokus pada satu jenis saja," katanya.Erwan menyatakan, saat ini untuk jenis ternak besar lebih terfokus pada kerbau dan domba, ke depan diharapkan juga mulai digarap peternakan sapi dan kambing."Saya kira cocok untuk sapi juga, maka terus dikembangkan, dan masyarakat didorong memelihara hewan itu. Kita juga terbuka jika ada perusahaan yang tertarik membuka usaha ternak sapi," ujarnya.Kudus pun demikian. Kuliner di Kota Kretek ini juga banyak yang menggunakan daging kerbau. Soto kebo dan sate kebo banyak ditemukan di kota ini.Pilihan tidak menyembelih sapi bagi masyarakat Kudus, merupakan salah satu manifestasi (wujud) toleransi yang diajarkan oleh Kanjeng Sunan Kudus pada masanya. Mengapa demikian?
Advertisement
Hal ini sebagai bentuk penghormatan kepada penganut non muslim yang menghormati sapi.Hal itu masih dipegang oleh kebanyakan masyarakat Kudus hingga sekarang, tak terkecuali dalam perayaan Idul Idha atau Hari Raya Kurban. Pada Hari Raya Kurban, kambing dan kerbau pun menjadi hewan untuk kurban, sebagaimana yang dilakukan oleh Universitas Muria Kudus (UMK).Manajer Yayasan Pembina (YP) UMK, Zamhuri, mengatakan, pihaknya akan mencoba mentradisikan memilih kambing dan kerbau sebagai hewan kurban, untuk menjunjung kearifan lokal yang berlaku di Kota Kretek ini."Alhamdulillah, tahun ini UMK bisa berkurban tiga ekor kerbau dan dua ekor kambing," ujarnya di sela-sela prosesi penyembelihan hewan kurban di halaman belakang UMK, Senin (12/9) kemarin.Rektor UMK, Dr. Suparnyo SH. MS., mengemukakan, kerbau menjadi pilihan untuk berkurban, selain untuk menjunjung kearifan lokal (tradisional) Kota Kudus, karena ada pesan tersirat dari sana.ââIslam tidak mengharamkan menyembelih sapi, sehingga tidak mungkin Sunan Kudus melarang menyembelih sapi. Hanya saja, karena dulu banyak non muslim yang menganggap sapi itu suci, maka Sunan Kudus mengimbau masyarakat, khususnya yang sudah memeluk Islam, tidak menyembelihnya untuk menjaga perasaan masyarakat yang menganggap sapi sebagai hewan suci," ungkapnya.Lebih lanjut Suparnyo menambahkan, dengan 'imbauan' tidak menyembelih sapi itu, Sunan Kudus pun secara tidak langsung telah meletakkan pondasi nilai-nilai toleransi dalam kehidupan masyarakat di Kabupaten Kudus."Pesan toleransi ini sungguh luar biasa, maka sudah semestinya dilestarikan oleh masyarakat di masa-masa kemudian atau generasi penerus saat ini," katanya.