Belajar dari Mi Bikini

Sang pembuat menyatakan tak jera berwirausaha.

Aryo Putranto Saptohutomo
Belajar dari Mi Bikini
Pemusnahan snack bikini. ©2016 merdeka.com/andrian salam wiyono

Perempuan muda berjilbab biru dan mengenakan baju batik itu hanya berdiri di belakang. Raut wajahnya sesekali berkerut. Entah menahan sedih atau hal lain. Dia cuma bisa menatap karyanya dimusnahkan.Kemarin, Jumat (26/8), Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan (BBPOM) Kota Bandung membakar sisa kudapan dengan kemasan kontroversial, 'Mi Bikini', disita. Pertiwi Damawanti Oktavia (19) atau kerap disapa Tiwi turut melihatnya. Dia sengaja dihadirkan di antara kerumunan.Makanan ringan buatan Tiwi itu dimasukkan dalam empat wadah berisi bahan bakar cair. Setelah disulut, sekejap api melumat semuanya.Tiwi berdiri di belakang Kepala BBPOM Bandung, Abdul Rahim, dan Kepala Dinas Kesehatan Kota Bandung, Ahyani. Saat api melumat semua kemasan merupakan tugas kuliah itu, Tiwi hanya pasrah. Sesekali perempuan berjilbab itu menutupi hidungnya karena asap pekat membumbung.Tiwi kembali menyampaikan permohonan maaf pada semua pihak dibuat resah gara-gara camilan buatannya. Tiwi juga berjanji tidak akan mengulanginya."Untuk itu saya memohon maaf yang sebesar-besarnya. Saya berjanji tidak akan mengulanginya dan akan belajar tentang undang-undang yang berlaku. Demikian permohonan maaf ini saya sampaikan, semoga masyarakat indonesia dapat memaafkan dan memaklumi keadaan saya. Saya juga berterima kasih kepada Balai Besar POM atas bantuan dan informasi yang diberikan. Sehingga saya semakin hati-hati untuk membuat produk lagi ke depannya," kata Tiwi.Tiwi hanya menitip pesan buat seluruh pelaku usaha ingin memulai supaya tidak takut terjun ke dunia bisnis. Meski begitu, dia meminta tetap mengedepankan norma berlaku di Indonesia."Saya harap dengan kejadian ini tidak membuat para pelaku UKM dan anak muda yang ingin berbisnis menjadi takut untuk membuat produk-produk sejenis. Namun, dengan diselesaikan seluruh pengurusan izin-izin yang dibutuhkan," ujar Tiwi.Tiwi merasa tidak jera berbisnis. Dia menganggap perkara itu adalah cobaan saat menapaki kesuksesan."Kapok enggak. Karena saya memang ingin berwirausaha. Ini saya kira cuma pembelajaran saja," imbuh Tiwi.Tiwi memang sejak lulus SMA langsung menimba ilmu wirausaha non-formal di Bandung. Dia pernah merasakan meraup untung besar dari penjualan 'Mi Bikini'. Namun, kondisi itu berbalik lantaran dalam sekejap lantaran jualannya dinilai memuat pornografi."Saya pernah dua bulan sampai dapat Rp 60 juta, itu omzet. Tapi ternyata tidak bisa begitu. Karena semua harus ada jalurnya ini pangan industri rumah tangga kita berharap mendaftarkan," lanjut Tiwi.Tiwi mengaku akan tetap menjual makanan ringan, tapi dengan kemasan dan perizinan bakal ditempuh sesuai aturan. "Saya akan tetap menjual ini, tapi ada perubahan," tutup Tiwi.

Rekomendasi