Batik merupakan kerajinan khas Indonesia. Setiap sudut wilayah Indonesia memiliki kemampuan untuk menghasilkan batik dengan ciri khas daerah masing-masing. Seperti batik asal Kota Tarakan, Kalimantan Utara yang memiliki khas warna-warna cerah dan warna alam dengan motif budaya lokal, yakni budaya tidung suku asli Kota Tarakan.Adalah Sonny Lolong, seorang pengrajin batik Tarakan yang mulai menggeluti batik tulis sejak 4 tahun terakhir. Batik karya Sonny merupakan batik dengan warna-warna alam dengan motif flora dan fauna khas Kalimantan Utara.Pria usia 53 tahun ini mengaku konsisten menggunakan warna yang berbahan dasar dari alam dalam setiap karya yang diciptakan. Kondisi alam yang masih alami membuat Sonny enggan merusaknya dengan bahan-bahan sintetis."Kalau di Kalimantan Utara kan masih banyak hutan, jadi masih banyak bahan bakunya. Jadi enggak begitu sulit. Lagi pula saya tidak ingin mencemari alam dengan menggunakan pewarna sintetis. Jadi saya cukup idealis mempertahankan menggunakan warna alam," tutur Sonny yang ditemui merdeka.com di Jakarta beberapa waktu lalu, Senin (22/8).Sonny mengaku menjadi pengrajin batik Tarakan baru empat tahun belakangan. Bermula saat dirinya mengikuti program pelatihan proses pembuatan batik tahun 2011 yang diselenggarakan oleh Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi dan UMKM (Disperindagkop UMKM) Kota Tarakan.Dalam program tersebut, Sonny beserta peserta lainnya belajar membatik di Yogyakarta. Setelah mendapat pelatihan, Sonny pun mengembangkan batik Tarakan yang mulai ditinggalkan. Melalui tangan kreatifnya lahirlah karya-karya batik tulis yang kini telah terjual hingga ke Malaysia dan Brunei Darussalam.Meski karyanya sudah tembus ke luar negeri, nyatanya penghasilan dari membatik masih belum bisa mencukupi kebutuhan hidupnya. Ayah 6 anak ini membagi waktunya bekerja sebagai staf keamanan di sebuah kantor setiap malam hari."Selain membatik saya juga bekerja menjaga kantor setiap malam. Mulai dari jam 10 malam sampai jam 7 pagi," kata Sonny.Kakek 3 orang cucu ini mengaku tak pernah merasa lelah dengan seabrek pekerjaan yang harus dilakukannya. Sonny selalu menjalani dengan hati yang ikhlas sehingga dirinya tak merasa letih, justru dia tak pernah sakit walaupun waktu tidurnya tak lebih dari enam jam."Yang penting itu bukan lama tidurnya, tapi kualitasnya. Kalau 2 jam tapi berkualitas, itu sudah lebih baik ketimbang tidur selama 8 jam," kata Sonny."Kalau kita bekerja dengan hati, kita tidak akan merasa letih, walaupun uang yang dihasilkan tidak banyak, tapi kepuasan batin sudah cukup dan lebih penting. Intinya ada di hati kita, bahagia enggak melakukannya," tambah Sonny.Kegigihan dan keuletan Sonny memang patut diacungi jempol. Sebab, Sonny sebenarnya bukanlah penduduk asli Tarakan. Darah yang mengalir dalam tubuh Sonny merupakan darah sunda asal Sukabumi.Perjalanan Sonny untuk menjadi pembatik Tarakan pun tak langsung begitu saja. Kepada merdeka.com, Sonny bercerita perjalanan hidupnya. Sonny mulai merantau ke Bali tahun 1982. Tak lama, 3 tahun setelahnya dia pun berpindah ke Lombok untuk mengadu nasib. Sayangnya, perjuangan dia di Lombok pun hanya bertahan 3 tahun.Pada tahun 1988, Sonny pun memutuskan untuk menjadi TKI di Malaysia sebagai buruh kepala sawit. Di negeri jiran inilah dia bertemu dengan istrinya dan menikah di Malaysia.Setelah 12 tahun, Sonny pun akhirnya memutuskan untuk kembali ke Indonesia. Sebenarnya dia ingin kembali ke daerah asalnya di Sukabumi. Namun apa daya, uangnya tak cukup untuk membeli tiket istri dan empat anaknya. Saat itu uang yang dimiliki Sonny hanya mampu mengantarkan dirinya hingga di Tarakan."Karena uangnya enggak cukup, jadi ya saya dan keluarga hanya bisa sampai di Tarakan. Nah di Tarakan inilah saya memulai kembali hidup saya mulai dari nol. Saya enggak punya rumah atau apapun waktu itu," cerita Sonny.Sonny pun melakukan apa saja yang dia bisa lakukan untuk menghidupi keluarganya. Mulai dari usaha sablon, menjadi petugas keamanan hingga kini menjadi pengrajin batik Tarakan.Tak hanya itu, meski kini Sonny menjalani dua profesi sekaligus, ternyata Sonny pun aktif di berbagai organisasi lainnya seperti PKK yang dekat dengan para pemangku kebijakan."Prinsip saya, sekerasnya hidup seberatnya pekerjaan itu akan terasa ringan bila dikerjakan dengan hati. Insya Allah tidak ada beban dan tidak ada capek, Alhamdulillah," ungkap Sonny.Sonny mengaku masih belum puas dengan pencapaiannya saat ini. Dia masih ingin belajar lebih banyak dam menggali potensi lain yang ada dalam dirinya."Kalau puas kan itu relatif, tapi saya masih perlu banyak belajar dan menggali lebih banyak lagi," kata Sonny mengakhiri.
Jalan panjang Sonny Lolong menjadi perajin batik Tarakan
Sonny mengaku menjadi pengrajin batik Tarakan baru empat tahun belakangan.
Advertisement
Rekomendasi