Tahun ini Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi kembali mengadakan pemilihan Transmigran Teladan dan Pembina Permukiman Transmigrasi Teladan Tahun 2016.Penganugerahan ini merupakan bentuk apresiasi kepada para transmigran dan pembina atas perannya yang telah membantu sukseskan program transmigrasi, khususnya para Transmigran dan Pembina permukiman Transmigrasi di seluruh Indonesia.Program transmigrasi telah melahirkan berbagai kisah sukses masyarakat. Para transmigran di Indonesia saat ini mampu membuktikan bahwa mereka bukanlah kalangan orang yang terpinggirkan, melainkan masyarakat yang berpikiran maju.Kesuksesan para transmigran teladan 2016 juga menyimpan berbagai kisahnya sendiri dalam perjuangan mereka sejak pertama kali menjadi transmigran, terutama warga Pulau Jawa yang mengikuti program transmigrasi.Maryono Adi Putro contohnya, transmigran dari permukiman transmigrasi Tanjung Buka SP 5, Kabupaten Bulungan, Provinsi Kalimantan Utara ini meraih juara harapan 1 transmigran teladan 2016. Pria asal kota Magelang, Jawa Tengah ini menuturkan bahwa sejarah ia pertama kali mengikuti program transmigrasi itu sangat menyedihkan.Maryono resmi menjadi warga transmigran pada tahun 2012, saat itu ia baru saja menikah, keinginan ia untuk menjadi transmigran adalah supaya mampu mengubah kehidupannya menjadi lebih layak di kawasan transmigrasi. Sebelum menjadi transmigran, Maryono hanya seorang kuli bangunan dengan upah perhari 35 ribu rupiah.Maryono merasa sangat terkejut ketika ia pertama kali ditempatkan di Unit Permukiman Transmigrasi Tanjung Buka SP 5, saat itu tidak ada sama sekali orang yang tinggal di lokasi transmigrasi tempat ia ditugaskan menjadi seorang transmigran. Namun Maryono mengakui bahwa selama ia menjadi transmigran ia tidak mau mengeluh dengan keadaan, ia memiliki tekad dan semangat kuat untuk menghadapi segala keterbatasan di lokasi transmigrasi.Setelah 4 tahun Maryono menjalani hidup sebagai petani transmigrasi, kini ia mampu menikmati hasil dari kerja kerasnya selama ini. Saat ini ia mampu mengembangkan lahan pertaniannya, hasil pertanian utama dari Maryono adalah bawang, cabai, tomat, dan sayur-sayuran lain. Dari hasil menjual sayur-sayuran yang ia tanam di lokasi transmigrasi Tanjung Buka SP5, Provinsi Kalimantan Utara, Maryono mampu meraih pendapatan hingga 35 juta dalam satu bulan.Sama halnya dengan Maryono, Disro, transmigran dari Kimtrans Simpang Tiga SP.2, Kabupaten Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan adalah seorang pria asal Pemalang, Jawa Tengah. Saat pertama kali tinggal di permukiman transmigrasi ia sempat putus asa, namun istri dan anak- anaknya memberikan semangat kepadanya agar terus berjuang di kawasan transmigrasi.Kini Disro mampu mengembangkan peternakan ikan lele dan udang. Dari hasil peternakan ikan lele dan udang, Disro mampu mendapatkan penghasilan hingga 400 juta dalam satu tahun. Pada tahun ini Disro yang dulunya seorang pekerja serabutan sebelum mengikuti program transmigrasi kini mampu mendapatkan gelar juara ke-3 Transmigran Teladan 2016.Perlu kita ketahui, sebagian besar lokasi pemukiman transmigrasi berada di kawasan tertinggal dan perbatasan. Para transmigran dihadapkan dengan infrastruktur yang terbatas, sarana dan prasarana produksi yang masih kekurangan tetapi mereka mampu keluar dari keterbatasan tersebut.Dengan kesuksesan para transmigran teladan 2016, dapat dikatakan program transmigrasi merupakan program strategis yang tidak hanya semata-mata mengatasi permasalahan demografis, namun juga sebagai upaya mengentaskan kemiskinan masyarakat dan menekan angka pengangguran.
Transmigran teladan sukses menerobos keterbatasan
Program transmigrasi telah melahirkan berbagai kisah sukses masyarakat.
Advertisement
Rekomendasi