Praktik sunat wanita di Indonesia cukup menuai pro dan kontra. Mayoritas penduduk Indonesia yang beragama Islam tetap menjalankan praktik potong ujung kemaluan pada bayi perempuan ini. Namun belum ada data resmi berapa jumlah penduduk Indonesia yang menjalani sunat perempuan.Tahun 2006 Depatermen Kesehatan Indonesia sempat melarang praktik sunat pada perempuan. Namun, Majelis Ulama Indonesia(MUI) mengeluarka fatwanya yang mengatakan sunat pada perempuan tetap bisa dilakukan jika orang tua bayi meminta dengan catatan aman baik secara fisik maupun psikologi bayi. Akhirnya, pada tahun 2010, Kementerian Kesehatan mengeluarkan Permenkes No. 1636 tahun 2010 tentang tata lakasana sunat pada perempuan. Karena praktiknya tidak berdasarkan indikasi medis dan belum terbukti manfaatnya bagi kesehatan, maka dari itu menteri kesehatan telah mencabut peraturan tersebut pada 2014 silam.Praktik sunat pada laki-laki dan perempuan tidaklah sama. Sunat pada laki-laki merupakan pemotongan seluruh kulit yang menutupi ujung kemaluan. Biasanya sunat ini dilakukan saat seorang anak berusia 3 sampai 12 tahun. Sementara itu, sunat pada perempuan hanya memotong sedikit kulit kemaluan bagian atas yang muncul ke permukaan. Berbeda dengan anak laki-laki, sunat pada perempuan biasanya dilakukan saat bayi baru berumur kurang dari 40 hari.Secara medis, praktik sunat pada bayi perempuan dinilai tidak memberikan manfaat. Sebaliknya malah merugikan pada bayi karena dapat memberikan rasa sakit karena ada bagian kelaminnya yang dilukai. Berbeda dengan sunat pada laki-laki yang justru dapat menurunkan resiko terkena infeksi bagi si anak maupun resiko penularan infeksi yang kepada pasangannya saat usia dewasa.Pada tahun 2013 Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperkirakan 140 juta perempuan di Asia, Timur Tengah dan Afrika yang melakukan praktik sunat. Selain itu, UNICEF juga mengungkapkan ada 30 juta anak perempuan dibawah 15 tahun yang juga disunat. Dalam rangka menghentikan praktik sunat yang dinilai membahayakan ini, PBB melaui CEDAW Commitee pada tahun 2013 menetapkan setiap tanggal 6 Februari diperingati sebagai Hari Internasional Tanpa Toleransi Terhadap Khitan Perempuan.Beberapa negara di dunia saat ini telah menghapus praktik sunat pada perempuan seperti Turki, Pakistan, Burkina Faso, Liberia dan Mesir. Tak hanya itu, pada tahun 2013, PBB menetapkan setiap tanggal 6 Februari diperingati sebagai Hari Internasional Tanpa Toleransi Terhadap Khitan Perempuan.Seorang bidan di Kalasan, Sleman, Yogyakarta, Mugia Rahayu mengaku masih melayani permintaan sunat pada bayi perempuan. Jika ada orangtua yang meminta dirinya untuk melakukan sunat, ia akan membersihkan area vagina bayi dari kotoran bawaan rahim sang ibu. Tak hanya itu, ia juga memberikan sedikit luka pada bagian klitorisnya."Dibersihkan vagina bayi dan memberikan luka sedikit supaya klitorisnya tumbuh ke atas dengan menggunakan jarum suntik biasa," kata Mugia Rahayu saat dihubungi merdeka.com, Kamis (11/2).Ia menjelaskan, sunat yang dimaksud berbeda dengan sunat yang ada di negara Timur Tengah seperti Mesir. Di Mesir, sunat pada perempuan dilakukan dengan cara memotong habis klirotisnya. Sehingga pada saat dewasa perempuan mesir tidak merasakan kenikmatan seksual."Perempuan di Mesir itu kasihan. Mereka sebagai perempuan tidak merasakan kepuasan saat melakukan hubungan seksual dengan pasangannya. Haknya dia enggak ada lagi. Apa yang diharapkan dari sebuah rumah tangga kalau seperti itu," terang bidan Rahayu.Paradigma yang berkembang di masyarakat, hanya laki-laki yang bisa merasakan kepuasan saat berhubungan intim. Padahal lanjut dia, perempuan justru harus dapat merasakan kepuasan tersebut. Jika tidak terpenuhi, akan menimbulkan potensi perselingkuhan yang dilakukan perempuan."Perempuan kan perasa, jadi justru lebih rentan saat kepuasannya tidak terpenuhi," kata Rahayu.Dia menambahkan, klitoris yang tumbuh ke atas nantinya akan lebih mudah disentuh. Sehingga perempuan akan meraskan kenikmatan dalam hubungan intimnya.
Peraturan menteri sudah dicabut, praktik sunat wanita masih ada
"Perempuan kan perasa, jadi justru lebih rentan saat kepuasannya tidak terpenuhi," kata Rahayu.
Advertisement
Rekomendasi